Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Menghilang


__ADS_3

Rani mendadak down mendengar jawaban Mahar. Suaminya tidak menyadari bahwa istri pertamanya telah menyusun rencana untuk menghancurkannya.


Melihat sambutan yang kurang menyenangkan dari Rani, Mahar mendadak hilang mood untuk menyentuhnya. Pria itu memilih untuk kembali keluar mencari udara segar, sementara Rani masih terpaku dengan kekecewaannya.


"Andai saja kamu tahu siapa kak Saskia sebenarnya?" ucap Rani dalam hati sambil meneteskan air mata.


Hari semakin gelap, malam itu Mahar masih membisu dan tidak banyak bicara kepada Rani. Pria itu tidak suka jika di atur atau di larang, karena hidupnya terbiasa bebas dan semaunya. Rani memilih mengurung diri malam itu tanpa menampakkan batang hidungnya kepada siapapun. Hatinya kecewa dan sakit karena sikap suaminya.


Hingga akhirnya pagi menjelang, Rani tak kunjung keluar dari kamar. Sementara Mahar dan Saskia sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan. Karena tetap memiliki kekhawatiran meski sedang marah, Mahar meminta bi Siti untuk mengantar makanan ke kamar Rani. Sebab dari tadi malam Rani tidak keluar sama sekali, dan di dalam kamar tidak ada persediaan makanan.


Tok.. tok.. tok..

__ADS_1


Pintu kamar di ketuk tiga kali oleh bi Siti tapi tidak ada jawaban. Perempuan yang bekerja di rumah Mahar itu kembali mengetuk pintunya di sertai penggilan.


"Nyonya, nyonya Rani. Ini saya nyonya, saya mau mengantar makanan. Tolong di buka pintunya.." seru bi Siti dari balik pintu.


Melihat tetap tidak ada jawaban, bi Siti berjalan ke arah majikannya untuk memberitahukan hal itu.


"Tidak ada jawaban dari dalam kamar Tuan, saya sudah mengetuk dan memanggil nyonya.." tukas bi Siti.


Mahar mengerutkan dahi, tapi dengan segera Saskia menetralkan pikiran Mahar.


"Ya sudah, kamu ke belakang aja bi." titah Mahar kepada bi Siti.

__ADS_1


"Baik Tuan." perempuan paruh baya itu menurut dan membawa kembali nampan berisi makanan itu ke dapur.


Mahar masih menaruh kecemasan karena sejak tadi malam Rani tidak keluar kamar dan tidak makan, apalagi terakhir mereka bertemu telah terjadi perdebatan kecil. Sempat muncul kekhawatiran di pikiran Mahar jika Rani sampai berbuat macam macam di dalam kamar karena tadi malam istri keduanya terlihat begitu cemburu. Di tambah lagi semalam Mahar tidak kembali menemuinya dan meninggalkannya begitu saja.


"Kenapa? Masih khawatir sama istri muda kamu? Ya sudah samperin sana, kali aja dia pengen kamu sendiri yang datang menghampirinya. Dasar manja!"


Mendengar nada sinis dari istri tuanya, Mahar tidak mau menanggapi. Sekarang dia merasa serba salah karena kedua istrinya nampak merajuk berebut perhatian. Namun Mahar bukan lelaki yang mau memohon untuk seorang wanita, jadi dia tidak mau direpotkan oleh masalah sepele itu. Dia memilih berangkat ke kantor tanpa menghampiri Rani di kamarnya terlebih dahulu, dan tanpa mengucapkan kata kata untuk Saskia yang dari tadi menemaninya.


Tentu saja sikap cuek Mahar tersebut tidak menjadi masalah bagi Saskia, karena dia memang tidak benar benar mencintai suaminya. Dia hanya berpura pura terlihat setia dan cinta hanya demi menjalankan misi yang masih belum selesai. Namun, menghilangnya Rani dari hadapan semua orang juga membuat Saskia sempat penasaran.


"Tuh anak ngapain aja ya di dalam kamar? Jangan jangan gantung diri?" pikiran buruk tiba tiba melintas di kepala Saskia.

__ADS_1


"Kalau memang benar begitu, benar benar bodoh tuh orang. Ngapain coba, mengorbankan hidup hanya untuk meratapi lelaki terkutuk?" Saskia bicara pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepala.


Tapi memang pagi itu Rani sempat membuat semua penghuni rumah merasa penasaran dengan tidak keluarnya dirinya dari dalam kamar. Mahar yang memilih untuk berangkat kerja tanpa menghampiri istri mudanya, juga masih di buat cemas selama di perjalanan. Pria itu meraih ponsel dan mencoba menghubungi Rani. Setelah melakukan beberapa panggilan dan tidak mendapat jawaban dari istri mudanya, Mahar mengirim beberapa pesan untuk menanyakan keadaan Rani.


__ADS_2