Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Licik


__ADS_3

Malam itu Mahar benar benar merasa gelisah karena ulah permainan Saskia. Apalagi saat itu Rani tengah berbadan dua. Setelah mencoba mencari informasi tentang keberadaan kedua istrinya tapi tak kunjung ada jawaban, Mahar mencoba untuk menenangkan diri dan berusaha melepaskan jika memang kenyataannya Saskia dan Rani ingin menjauh darinya.


Drrrrrtt, drrrrrtt...


Ponsel Mahar bergetar dan di dalamnya tertera nomor yang tidak dia kenal.


"Siapa yang menelpon?" tanya Mahar dalam hati lalu dia segera menerima panggilan itu.


"Halo, apa kabar sayang?" terdengar ada suara wanita dari seberang telepon yang bicara pada Mahar.


"Kamu?" sahut Mahar dengan penuh kekesalan setelah mengenali suara siapa yang menelpon.


"Iya sayang, ini aku. Apa kamu merindukan aku?" tanya Saskia kepada Mahar.


"Dasar perempuan licik! Apa maumu sekarang?" tegas Mahar kepada Saskia.

__ADS_1


"Ish, ish,ish. Aku licik juga gara gara kamu. Bukankah pernikahan kita terjadi karena sebuah kelicikan?" Saskia justru tertawa menanggapi ucapan Mahar.


"Jangan banyak berbelit, kembalikan semua aset yang sudah kamu ganti dengan nama kamu!" titah Mahar dengan penuh amarah.


"Apa? Mengembalikan? Boleh saja, tetapi dengan satu syarat. " sahut Saskia dengan enteng.


"Syarat apa? Dasar benar benar licik kamu!" cecar Mahar berkali kali kepada Saskia.


"Kembalikan kegadisanku dan semua waktu yang sudah aku buang selama menjadi istrimu!" jawab Saskia dengan nada yang meninggi.


"Jika tidak mungkin, maka aku juga tidak mungkin mengembalikan nama tersebut. Dan kalaupun waktu bisa kembali, aku juga tidak sudi menikah denganmu jika akhirnya kamu hanya memanfaatkan tubuhku saja!" Saskia tak kalah emosi dengan Mahar.


Percakapan singkat mereka di telepon tidak mendapat titik temu karena Mahar terlanjur mengakhiri panggilan tersebut hingga lupa menanyakan keberadaan Rani.


"Bodoh! Kenapa aku tadi tidak menanyakan tentang Rani. Harusnya panggilan itu tidak aku matikan dulu!" sesal Mahar setelah mengakhiri panggilannya dengan Saskia.

__ADS_1


Dengan memasang muka yang tebal, Mahar berusaha kembali menghubungi Saskia untuk menanyakan keberadaan Rani. Namun, sayangnya nomor yang baru saja menghubungi dirinya tersebut sudah tidak dapat di hubungi lagi.


"Arrkh, breng-sek! Nomornya mati!" umpat Mahar sembari mengepalkan tangan.


Di lain tempat, Saskia masih menyekap Rani di sebuah rumah kecil yang jauh dari pemukiman. Berkali kali dia meminta untuk di lepaskan, tetapi Saskia tidak pernah merubah keputusannya. Apalagi setelah melakukan perdebatan dengan Mahar di telepon tadi.


"Jangan harap aku akan melepaskan kamu dan mengembalikan kamu pada Mahar! Laki laki itu layak menerima semua itu!" tukas Saskia dengan begitu tegas.


"Tapi kak..." Rani berusaha mengelak tetapi dengan cepat Saskia memotong ucapan.


"Tidak ada tapi tapian. Ikutilah permainan ku, atau kamu juga akan mengalami kerugian seperti Mahar!" ucapan Saskia terdengar begitu lantang di hadapan Rani.


Usai memberi peringatan keras kepada Rani, Saskia keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Rani tinggal sendirian di dalam kamar. Di saat sendiri itulah, Rani mencoba mencari cara untuk bisa keluar dari tempat itu.


Atau setidaknya mencari cara agar bisa menghubungi Mahar untuk mengatakan dimana dia sekarang berada.

__ADS_1


Rani membuka pintu jendela lalu menyingkap tirainya guna memperhatikan kondisi sekitar. Sepertinya dia susah membulatkan tekadnya untuk diam diam pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan Saskia.


__ADS_2