Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Debat


__ADS_3

Setelah pulang dari klinik tersebut, Saskia menyempatkan diri untuk mampir ke rumah ayahnya. Di sana dia mengadukan semua keluh kesah yang dia rasakan.


"Mengapa kamu mendadak berubah pikiran dan ingin hamil?" tanya ayah Saskia.


Wanita itu terdiam, tapi pada akhirnya dia jujur bahwa alasannya karena dia tidak suka melihat perhatian Mahar yang berlebihan kepada Rani, lalu mengacuhkannya.


"Rupanya kamu sudah mulai mencintai dia." tukas sang ayah.


"Tidak ayah. Aku masih tetap berada pada tujuan utamaku!" jawab Saskia.


"Kamu mulai cemburu, itu artinya kamu mulai mencintainya. Ayah takut kamu akan terluka." ayah Saskia menasehati putrinya.

__ADS_1


"Tapi sebenarnya memang lebih mudah menguras harta Mahar jika aku punya anak seperti yang di lakukan Rani." Saskia mencoba berkelit, karena dulu yang menyarankan untuk KB adalah ayahnya dengan tujuan agar putrinya tidak semakin menderita.


"Sudahlah, kamu perlu menenangkan pikiran. Kamu hanya sedang di makan cemburu, jangan gegabah mengambil langkah." ujar ayah Saskia.


"Tapi, ada satu fakta pahit yang aku terima ayah. Aku tidak bisa hamil, dan itu karena penggunaan pil kontrasepsi yang ayah sarankan." sahut Saskia dengan mata berkaca kaca.


"Jadi kamu menyalahkan ayah? Ayah hanya tidak ingin melihat kamu lebih menderita." sahut sang ayah.


Lelaki berusia lima puluh lima tahun itu mematung mendengar tudingan yang di berikan oleh putrinya. Dia tidak bisa menyangkal karena apa yang di ucapkan Saskia memang benar. Ayah Saskia meratapi kebodohannya sendiri, tapi penyesalan tidak akan merubah keadaaan.


Setelah sempat berdebat, Saskia beranjak untuk pulang tanpa banyak mengucapkan kata kata. Kini hubungan antara anak dan ayah itu sedikit merenggang. Saskia pulang dengan hati dan pikiran yang kalut, kini dia akan berjalan sesuai apa kata hatinya. Karena selama ini, langkah yang dia tempuh atas kendali dari sang ayah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Saskia masuk ke dalam kamar dan menumpahkan tangisnya di sana. Satu hal yang sangat dia sesali adalah kehilangan kesempatan untuk hamil. Jika memang rumah tangganya dengan Mahar tidak akan bertahan lama, lalu bagaimana dengan rumah tangga baru yang mungkin akan dia lewati kelak tanpa hadirnya keturunan?


Mata Saskia terpejam setelah sempat beberapa waktu dia menangis. Hati dan jiwanya terasa lelah akibat dendam dan ambisi yang ada di hati dan jiwanya. Andai saja dia bisa pasrah menerima takdir seperti yang di terima Rani, mungkin saja masih ada harapan kebahagiaan yang akan dia terima. Namun, nasi telah menjadi bubur. Semua tidak bisa terulang kembali.


Kepedihan yang di rasakan oleh Saskia berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan oleh Rani. Kini di usia kandungannya yang semakin berkembang, dia semakin mendapat kasih sayang yang lebih dari Mahar. Hal itu kembali memicu amarah di hati Saskia. Saat dia mulai berubah pikiran, tapi dirinya sudah tidak mendapat kesempatan.


"Jika pengorbananku tidak bisa mengantarku kepada kebahagiaan, maka dia juga tidak boleh bahagia karena semua terasa tidak adil."


Persepsi itu menimbulkan niat buruk di pikiran Saskia untuk menghancurkan harapan Mahar yang menginginkan keturunan.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian. Jika aku tidak bahagia, maka kalian juga tidak boleh bahagia!"

__ADS_1


__ADS_2