
Saskia berjalan mendekat ke arah pintu kamar Rani dan berulang kali mengetuknya. Bukan karena perhatian dan khawatir, tapi Saskia hanya memastikan jika partner suaminya itu tidak melakukan hal bodoh.
"Rani, Rani. Buka pintunya. Aku mau bicara. Rani... Rani..."
Berulang kali Saskia berteriak sambil mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Pikiran buruk kembali melintas di benak Saskia,
"Jangan jangan tuh perempuan kabur. Tapi lewat mana? Dia kan di lantai tiga. Atau? Jangan jangan dia lompat dari jendela?"
Saskia berargumen sendiri dengan dirinya sendiri lalu mencoba keluar halaman rumah dan memeriksa area kamar Rani dari bawah. Jendela masih terlihat tertutup rapat dan tidak ada apa apa di halaman tersebut.
"Aman, sepertinya bukan hal bodoh ini yang dia lakukan. Kalaupun kabur, dia pasti menggunakan tali dan sejenisnya, tapi tidak ada alat apapun di tempat ini." Prasangka Saskia bahwa Rani akan lompat daru jendela sudah terbukti tidak terjadi.
Saskia masuk kembali ke rumah dan tidak menghiraukan Rani lagi.
"Bodo amat sama tuh orang, yang penting aku kan sudah berusaha mencari!" tukas Saskia sambil membuka pintu kamarnya dan menenggelamkan tubuhnya di balik pintu.
__ADS_1
Berbeda dengan Mahar, laki laki itu masih di buat tidak tenang dengan tidak munculnya Rani dari dalam kamar. Dia memutuskan untuk menyuruh supirnya kembali ke rumah serta memberi kunci cadangan untuk membuka kamar Rani.
Pak Malik, istri dari bi Siti menuruti itu perintah majikannya. Dia pulang dengan membawa kunci cadangan dan dengan di temani sang istri mereka membuka kamar Rani.
"Maaf nyonya, kami hanya menjalankan perintah. Maaf jika kami lancang membuka kamar Nyonya tanpa izin." Ucap Pak Malik ketika hendak membuka kunci kamar Rani.
Setelah pintu berhasil dibuka, perlahan mereka melangkah bersama sama ke dalam kamar. Tidak ada suara apapun yang terdengar, lalu mereka di kejutkan oleh sesuatu.
"Astaga, cepat hubungi Tuan Mahar." Ucap Pak Malik kepada istrinya.
Ponsel Mahar berdering satu kali dan pria itu bergegas menerimanya karena dia tahu itu adalah panggilan dari telepon rumahnya.
"Halo, ada apa?" sahut Mahar dari seberang telepon.
"Emmm, itu Tuan. Nyonya, nyonya Rani..." bi Siti bicara dengan terbata bata.
__ADS_1
"Dia kenapa? Saya akan segera pulang, tolong jaga dia baik baik." Tanpa mendengar penjelasan dari bi Siti, Mahar segera mengambil keputusan untuk pulang.
"Bagaimana?" Tanya Pak Malik kepada istrinya.
"Katanya Tuan akan segera pulang, padahal aku belum menceritakan kejadiannya tapi beliau sudah mengambil keputusan untuk pulang. Beliau berpesan agar kita menjaga nyonya Rani sampai beliau datang." ungkap bi Siti.
"Baiklah, kita jaga nyonya Rani sampai Tuan Mahar datang." tukas Pak Malik.
Mendengar seperti ada keributan di luar kamar, Saskia mencoba keluar dan mencari tahu apa yang terjadi. Setelah keluar dari kamar, dia tidak melihat ada siapa siapa di rumah itu. Tapi, asal suara sepertinya dari kamar Rani yang pintunya kini tengah terbuka.
"Ada apa ya? Kenapa ada suara rame rame di dalam kamar perempuan itu? Jangan jangan?" Lagi lagi Saskia menerka keadaan. Dia yang dari tadi sempat penasaran, segera berlari ke arah kamar Rani. Dan setelah berhasil masuk, ternyata bi Siti dan Pak Malik sudah berada di dalamnya.
"Ada apa ini Pak?" tanya Saskia kepada Pak Malik, supir pribadi Mahar.
"Ini nyonya, nyonya Rani...."
__ADS_1
"Astaga... " Saskia tak kalah terkejut seperti Pak Malik dan bi Siti ketika pertama kali menemukan Rani.