
Saskia semakin panik ketika melihat Rani nampak hampir mengeluarkan isi perutnya.
"Hey stop! Jangan di teruskan! Nanti mobilku kotor dan bau!" bentak Saskia.
"Ma-maaf Kak. Tapi aku sendiri tidak bisa menghentikannya." jawab Rani dengan polos.
"Astaga!" Mendadak Saskia menghentikan paksa mobilnya di tepi jalan.
"Aku akan mencarikan kamu tempat yang tepat untuk muntah." ucap Saskia dengan begitu marah.
"Dimana?" tanya Rani berlaga bodoh.
"Dimana saja, asal jangan di mobilku. Cepat turun!" Titah Saskia dengan begitu kasar.
Dengan senyum dalam hati, Rani perlahan mulai turun dari mobil. Dia memang ingin melarikan diri dari Saskia, tetapi dia bermain secara halus agar tidak membahayakan dirinya sendiri dan juga kandungannya.
__ADS_1
Ketika turun dari mobil, Rani melihat kesana kemari. Dan untung saja, tempat dimana Saskia menurunkan Rani itu ternyata lokasinya ramai. Di sana banyak orang berlalu lalang, sehingga harapan Rani untuk meminta tolong akan lebih mudah.
Hoek..hoek...hoek...
Lagi lagi Rani melanjutkan dramanya agar Saskia semakin panik.
"Aku sudah tidak kuat lagi Kak. Rasanya aku ingin muntah di sini." ucap Rani dengan wajah merintih.
"Aduh aduh. Kamu ini memang menyusahkan. Tau gini aku nggak nyulik kamu! Ya udah, ayo kita ke toilet umum di pojok sana!" gerutu Saskia seraya menunjukkan arah menuju toilet. Mereka berhenti di sebuah tempat ibadah yang menyediakan toilet umum.
Ketika tiba di depan toilet, Saskia lekas menyuruh Rani untuk segera masuk. Sementara dia menunggu di depan pintu.
"Kabur lewat mana kak? Masak iya masuk lobang WC?" tanya Rani dengan wajah tak berdosa.
"Ah sudah sudah. Buruan sana!" titah Saskia sekkau lagi dengan nada tinggi.
__ADS_1
Ketika berada di dalam toilet, rupanya Rani sedang menyiapkan sesuatu. Dia mengeluarkan sebuah lembaran kertas dan juga bolpoin yang dia dapat dari kamar tempatnya di sekap.
"Saya mohon tolong saya, nama saya Rani. Saya sedang di culik oleh wanita yang sedang berada di sebelah saya, namanya Saskia. Saya mohon tolong hubungi suami saya untuk memberi tahu tentang keberadaan saya. Saya tidak berani berteriak karena saya sedang hamil, saya takut perempuan itu akan melukai kandungan saya."
Tulis Rani pada kertas tersebut, tak lupa juga dia cantumkan nomor telpon Mahar serta nomor ponselnya sendiri. Di sertai juga dengan nomor polisi dari mobil yang di kendarai oleh Saskia. Untuk alamat vila, dia hanya mencantumkan sedikit petunjuk sekitar daerahnya saja, karena memang dia tidak mengenal daerah tersebut. Bukan hanya itu, Rani juga menuliskan imbalan uang jika ada mau membantunya.
Usai lengkap memberi keterangan, Rani melipat kecil kertas tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya. Rani sengaja mengisi kertas itu di jalan, karena dia masih mengamati nopol dari mobil Saskia dan juga melihat nama daerah sekitar yang di lalui oleh mereka. Sebagai persiapan, Rani bukan hanya menulis satu keterangan saja, melainkan dia membagi satu lembar kertas itu menjadi tiga bagian untuk mencari bantuan.
Ceklek...
Rani membuka pintu toilet dan nampak Saskia sedang menunggunya di luar.
"Kamu yakin tidak akan muntah lagi?" tanya Saskia dengan ketus.
"Nggak kak, tapi kepalaku masih tetap pusing dan berat. Perutku juga masih terasa nyeri." jawab Rani, mulai berakting.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo cepat kita kembali ke mobil dan mencari Bidan." ajak Saskia lagi lagi dengan bahasa yang ketus.
Sebelum keluar dari area tempat ibadah itu, mereka bertemu dengan seorang penjaga masjid. Dan di situlah Rani mulai memberikan satu kertas permintaan bantuan tersebut.