
"Kita pulang sekarang! " titah Mahar kepada supirnya.
"Baik Tuan, " jawab si supir.
Perjalanan mereka tidak memakan waktu lama karena supir Mahar tahu jika majikannya sedang tidak baik baik saja, sehingga kecepatan mobil itu di percepat.
Ketika tiba di rumah, Mahar segera menuju ke kamar nya tanpa menghiraukan Rani yang tengah datang menyambutnya. Pria itu nampak begitu marah berjalan menuju kamarnya untuk mengecek akta kepemilikan tanah dari lahan yang baru saja berpindah tangan.
Rani yang tahu jika suaminya sedang tidak baik baik saja, memilih untuk diam dan mengikuti dari belakang tanpa banyak bertanya. Dan barulah dia mengajukan pertanyaan ketika sudah berada di kamar lalu dia dapati Mahar tengah mencari cari berkas di lemari nya.
"Mencari apa? " tanya Rani dengan ragu dan benar saja Mahar tidak menjawabnya.
Karena tidak ingin semakin menambah masalah, Rani memilih diam lagi sambil memperhatikan perilaku suaminya yang bagaikan kebakaran jenggot. Dan setelah dua puluh menit membolak balik berkas tetapi tidak menemukan apa yang dia cari, Mahar menggebrak meja dengan keras seraya mengumpat.
"Breng-sek! Sial-an! "
Melihat kemarahan Mahar, Rani semakin tidak berani bersuara. Tiba tiba dia teringat kembali pada misi balas dendam Saskia.
"Apa mungkin kak Saskia benar benar telah menguasai surat surat penting itu?" tanya Rani dalam hati. Lamunan Rani mendadak buyar ketika Mahar bicara padanya dengan sangat keras,
__ADS_1
"Kamu, aku harap kamu tidak seperti ular betina itu! "
Mendadak Rani membuka kedua kelopak matanya lebar lebar ketika Mahar memberinya peringatan.
"Apa maksud kamu? " tanya Rani sembari mengernyitkan dahi.
"Dia, dia diam diam sudah mengambil alih surat kepemilikan tanah tanpa sepengetahuan ku dan sekarang dengan lancang dia menjualnya dengan harga dua milyar. Dasar wanita lak-nat! Tidak tahu di untung! "
Braakhhh!
Mahar menendang sebuah meja kecil di sampingnya sehingga meja itu terpental ke dinding. Melihat amarah suaminya, Rani semakin takut dan menangis sembari menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
Mahar tidak memperdulikan ketakutan yang di alami oleh Rani, karena saat itu dia masih di buat murka oleh kelakukan Saskia. Di sela sela amarahnya, mendadak dia memikirkan sesuatu lalu kembali mengobrak abrik isi lemari untuk mencari sesuatu.
"Benar benar wanita lak-nat! Dia tidak hanya mengambil satu akta tanahku, tetapi lima! " Rani menjadi tempat pelampiasan amarah Mahar.
Dan yang bisa dia lakukan hanya menangis melihat Mahar yang seperti orang kesetanan.
Setelah enam puluh menit berada di ruang yang penuh amarah itu, Rani perlahan keluar dari kamar ketika dia lihat Mahar sudah mulai lebih tenang. Dia biarkan suaminya sendiri dulu agar lebih tenang, tetapi langkahnya yang sudah menuju keluar pintu mendadak berhenti ketika Mahar memanggilnya.
__ADS_1
"Mau kemana? " tanya Mahar.
"Emm, mau keluar." jawab Rani dengan ragu.
"Apa kamu tidak mau menemaniku? " tanya Mahar lagi.
Rani menoleh ke arah Mahar yang dari tadi tidak menatapnya meski tengah memanggilnya. Agar tidak memancing kembali amarah Mahar, Rani memutuskan untuk kembali tinggal di kamar itu dan duduk di tepian ranjang.
"Aku takut mengganggumu, makanya aku berpikir untuk keluar, " Rani mendadak bersuara tanpa di tanya.
"Selagi kamu menurut padaku dan tidak melakukan tindakan keji seperti Saskia, kamu tidak akan menggangguku! " jawab Mahar dengan datar.
Rani hanya mengangguk dengan pelan, dan selanjutnya dia hanya akan menjadi pendengar tanpa bersuara jika tidak di tanya. Keduanya sempat saling diam selama sekitar lima belas menit, hingga kemudian Mahar yang kembali memulai pembicaraan.
"Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Saskia padaku untuk membalas dendam? " pertanyaan Mahar seketika membuat Rani tersentak.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? " Rani balik bertanya.
"Awalnya aku tidak ingin berpikir seperti itu padamu, termasuk juga pada Saskia. Tapi kenyataannya hal ini bisa terjadi di luar dugaanku. Jadi jangan salahkan aku jika aku akan punya kewaspadaan yang lebih akan isi pikiranmu. "
__ADS_1
" Jika kamu bertanya apakah aku akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh kak Saskia atau tidak? Jawabannya adalah tidak. Tetapi jika kamu tidak percaya, itu adalah masalah kamu sendiri, bukan masalahku. Yang penting aku sudah berkata yang sebenarnya." Jika awalnya Rani yang di buat tertegun oleh ucapan Mahar, kini ganti Mahar yang tertegun mendengar jawaban Rani.
" Aku tidak tahu aku harus percaya penuh atau tidak padamu. Tetapi yang jelas, kepercayaanku kepada wanita sudah berkurang. Dan keyakinanku semakin kuat bahwa wanita memang hanya butuh uang. " jawab Mahar penuh ambigu.