Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Di acuhkan


__ADS_3

Keesokkan hari ketika Mahar hendak bersiap siap pergi bekerja, dia di kejutkan dengan kabar bahwa salah satu gudang penyimpanan barang perusahaan sudah hangus terbakar tanpa meninggalkan sisa.


"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi? " ucap Mahar ketika sedang berbicara di telepon.


"Baiklah, saya akan segera ke sana! " Mahar mengakhiri percakapan singkat itu.


"Ada apa? " Rani dengan ragu bertanya karena Mahar tampak begitu panik.


"Salah satu gudang utamaku terbakar. Pasti ini ulang wanita bang-sat itu! " umpat Mahar dengan nafas yang menggebu.

__ADS_1


"Astaga, bagaimana itu bisa terjadi? " Rani pun ikut panik mendengar berita itu.


"Entahlah, wanita itu benar benar biadab. Dan mungkin semua wanita memang sama seperti itu!" tukas Mahar seraya berjalan meninggalkan Rani yang masih tertegun mendengar ucapan suaminya.


Ingin sekali dia melakukan pembelaan, tetapi sepertinya hal itu tidak akan mudah di terima oleh pikiran Mahar karena yang harus dia berikan adalah bukti. Bukan sekedar kata kata ambigu yang tidak bisa merubah pandangan Mahar.


Setibanya di lokasi kebakaran, Mahar menerima keterangan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar pukul setengah lima pagi. Letak gudang itu sedikit jauh dari pemukiman warga sehingga ketika kebakaran itu di ketahui, api sudah menjalar kemana mana. Dan ketika para tim pemadam datang untuk memadamkan api, semua bagian bangunan itu sudah menjadi abu.


"Belum, tapi kasusnya sudah di limpahkan kepada pihak kepolisian guna di lakukan penyelidikan. " jawab asisten Mahar tersebut.

__ADS_1


"Kurang a-jar. Sial-ann! Dasar wanita breng-sek!" umpat Mahar berkali kali karena dia yakin bahwa dalang di balik kebakaran itu adalah Saskia. Tetapi dia tidak bisa memberi tuduhan tanpa ada bukti yang nyata.


Hari hari itu Mahar benar benar di buat geram dan tertekan. Selain lahan yang tiba tiba terjual, juga ada lima akta kepemilikan tanah miliknya yang beralih menjadi nama Saskia dan juga gudang yang terbakar. Sepertinya Saskia benar benar merealisasikan balas dendamnya. Tapi sayangnya, Rani yang sebenarnya menentang rencana Saskia malah ikut kena imbas dari hal tersebut.


Selama beberapa hari tinggal bersama kembali dengan Mahar, Rani sering di acuhkan oleh suaminya. Tetapi dia mencoba untuk mengerti hal itu karena kejadian demi kejadian yang menimpa suaminya memang membuat Mahar begitu tertekan. Kerugian yang Mahar terima tidak sedikit, nominal itu cukup besar. Namun, ketika Mahar melihat kesabaran dan pengertian Rani meski dirinya tidak begitu memperdulikannya, hatinya sedikit tersentuh.


"Aku tidak tahu apakah semua yang kamu lakukan ini tulus atau sandiwara? Aku harap kamu mengerti kekecewaan yang aku rasa, karena awalnya dulu aku begitu percaya pada Saskia, dan ternyata dia bisa melakukan hal ini padaku." tukas Mahar ketika Rani tengah menemaninya menyantap makan malam.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaan kamu dengan kata kata, cukup kamu lihat saja buktinya." Rani memberikan jawaban singkat atas pertanyaan Mahar.

__ADS_1


Keduanya kini saling terdiam. Mahar berusaha untuk membangun kembali rasa percayanya kepada perempuan, terlebih saat itu ada benih yang tertanam di rahim Rani.


Tiga bulan telah berlalu dan perut Rani semakin membuncit. Dan hingga saat itu kabar keberadaan Saskia pun bagai hilang di telan bumi. Mahar ingin membawa kasus akta kepemilikan tanah itu ke rana hukum, tetapi bukti tanda tangannya yang jelas tertera pada surat surat penting itu membuat dia tidak bisa mengatakan bahwa itu kasus penipuan. Apalagi Saskia adalah istrinya sahnya pada waktu itu. Padahal sebenarnya jika Saskia meminta perpisahan dengan cara baik baik, Mahar pasti tetap akan memberinya beberapa persen hartanya meski Saskia tidak memiliki keturunan.


__ADS_2