Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Berpura pura


__ADS_3

Mendengar percakapan antara Saskia dan penjaga Villa tersebut, Rani tersenyum dalam hati. Dia bahagia bukan hanya karena akan segera mendapat pertolongan untuk keluar dari tempat itu, Tetapi dia juga merasa bahagia karena ternyata suaminya mempedulikan dirinya.


"Terima kasih Tuhan, ternyata dia peduli padaku." ujar Rani dalam hati.


"Heh, ayo buruan masuk ke mobil!" titah kasar Saskia membuat Rani sedikit terkejut, tetapi saat itu dia berwajah polos demi ingin mencari informasi.


"Kita mau kemana kak?" Tanya Rani.


"Nggak usah banyak tanya, cepat masuk ke mobil!" titah Saskia kemudian. Kali itu Rani tidak bisa banyak bertanya, dan dia hanya menuruti saja apa perintah dari Saskia.


Lima belas menit kemudian, Saskia meninggalkan Villa tersebut. Tetapi, sangat tidak dia sangka, rupanya Mahar dan pihak kepolisian sudah melakukan pengintaian di sepanjang jalan, bermodalkan nopol mobil yang dia kendarai.


Namun, hingga saat itu Saskia belum menyadari. Bahkan, Mahar sudah mengunggah kasus itu di sosmed agar memudahkan dia mendapat informasi.

__ADS_1


Setelah berjalan sejauh sepuluh kilometer dari lokasi Villa, penjaga Villa yang merangkap sebagai sopir itu menanyakan kepada Saskia, kemana mereka akan pergi.


"Kita mau kemana Nyonya?" Tanya Arif, penjaga Villa sekaligus supir Saskia. Tanpa banyak berkata, Saskia memberikan sebuah alamat lewat map kepada Arif.


"Aku kirim alamat ke ponselmu, kamu buka lalu kamu ikuti arahan jalannya!" titah Saskia.


"Baik Nyonya." jawab Arif.


Jawaban itu membuat Rani sedikit kesal karena dia tidak bisa mengetahui arah kemana dia akan di bawa pergi. Tetapi, sebisa mungkin dia tidak menunjukkan kekesalan itu. Setelah dua jam melakukan perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah yang begitu asing di mata Rani. Dia juga tidak mengenal daerah itu.


Setelah semua sudah turun, Saskia mengajak mereka semua untuk masuk. Tetapi, sebelum memasuki rumah tersebut, Saskia membisiki sesuatu kepada Rani.


"Selama berada di sini, kita harus berpura pura menjadi teman yang baik. Karena ini adalah rumah nenekku." pesan Saskia kepada Rani. Bumil itu hanya bisa mengangguk dan mengikuti permainan Saskia.

__ADS_1


"Apa kabar cucuku?" sapa Nenek Titin kepada cucunya.


"Kabarku baik Nek, aku datang sama temen aku. Kenalin ini namanya Rani." sahut Saskia seraya mengenalkan Rani kepada Neneknya.


"Oh, kamu temannya Saskia? Kenalkan, saya Nenek Titin, neneknya Saskia. Dan ini Kakek Seno, kakeknya Saskia." ujar wanita berusia tujuh puluh tahun tersebut sembari mengulurkan tangan, dan Rani pun lekas menjawab salam perkenalan itu.


Usai melakukan perkenalan singkat, Saskia segera mengajak Rani untuk ke kemar dengan alasan kecapekan habis perjalanan jauh, agar Neneknya tidak lama lama ngobrol dengan Rani.


"Nek, aku tidurnya di kamar mana ya? Badanku capek semua Nek, pengen cepat rebahan." ujar Saskia. Tak lama kemudian nenek Titin mengantar cucunya itu dan juga Rani menuju ke sebuah kamar yang sudah di siapkan oleh sang Nenek. Rupanya satu jam sebelum tiba, Saskia sudah memberi tahu neneknya akan kedatangannya.


Setelah keduanya kini berada di dalam kamar, Rani memberikan satu pertanyaan kepada Saskia


"Sebenarnya apa sih tujuan kak Saskia membawa aku ke sini?" tanya Rani.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, akan aku buat Mahar menderita.Saat ini dia pasti sedang mencari keberadaan kamu dan bayimu. Tapi tak ku biarkan kalian bertemu. Aku akan menyiksa Mahar secara pelan, melalui hartanya dan juga hatinya..." jawab Saskia sembari tertawa lepas.


__ADS_2