Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Menerima Pesan


__ADS_3

"Suamiku, ini aku istrimu Rani. Saat ini aku di ajak Kak Saskia untuk tinggal di rumah Neneknya. Kamu tolong cepat datang kemari sebelum dia membawaku pergi lagi dari tempat ini. Pesan ini tidak usah di balas, karena diam diam aku meminjam ponsel milik Neneknya Kak Saskia."


Satu pesan singkat itu berhasil di kirim oleh Rani kepada Mahar, lengkap dengan mencantumkan alamat rumah Nenek Titin.Tak lupa juga, Rani segera menghapus pesan tersebut dari ponsel Nenek Titin agar tidak meninggalkan jejak.


"Kenapa cuma sebentar? Ini kamu pakai lagi aja nggak apa apa," ujar Nenek Titin.


"Nggak Nek. Sudah kok. Ibuku tidak begitu pandai memainkan ponsel, maklum orang kampung. Untuk membuka pesan dariku itu aja, mungkin akan minta bantuan saudaraku yang lain." jawab Rani yang lagi lagi masih berkelit.


"Oh begitu ya? Ya sudah, sekarang kamu lekas minum obat dan istirahat biar cepat membaik." beliau memberi saran kepada Rani, kemudian Rani pun segera mengangguk dan bergegas pergi ke kamar.


Ketika sudah berada di dalam kamar, jantung Rani begitu deg degan. Dia tidak sabar menunggu tanggapan Mahar setelah menerima pesan darinya. Dia berharap, Mahar segera datang sebelum Saskia pulang.

__ADS_1


Rupanya ikatan batin keduanya begitu kuat, sehingga pada saat yang bersamaan, Mahar merasa bergetar hatinya mengingat keberadaan Rani. Mendadak seperti ada yang menggerakkan hatinya untuk segera memeriksa ponsel, hingga akhirnya dia dapati satu pesan dari nomor asing yang tidak dia kenal.


"Ya Tuhan, benarkah ini pesan dari istriku?" Tanya Mahar dalam hati, kemudian dia lekas memberi tahu informasi tersebut kepada pihak kepolisian yang saat itu masih bersama dirinya.


"Baik Tuan, saat ini juga kita harus mendatangi lokasi guna mengetahui kejelasannya." ujar salah seorang polisi tidak berseragam tersebut. Mereka pun kemudian segera menuju ke alamat yang di tulis oleh Rani, dan butuh waktu sekitar dua jam untuk menempuhnya.


Detik terus berjalan dan hari semakin panas karena matahari mulai meninggi. Setinggi harapan Rani, agar suaminya lekas menemukan keberadaan dirinya. Selama menunggu kabar di dalam kamar, Rani merasa begitu gelisah. Apalagi ketika dia mendengar sebuah mobil yang datang, dan ternyata itu adalah Saskia.


"Ya Tuhan, kenapa harus dia yang datang lebih dulu?" geram Rani dalam hati.


"Iya. Dia istirahat di kamarnya. Tadi udah Nenek suruh untuk makan. Kasihan, dia terlihat begitu merindukan keluarganya, terutama ibunya." jawab Nenek Titin.

__ADS_1


"Ibu? Dia rindu Ibunya?" tanya Saskia kurang yakin.


"Iya. Dia tadi pinjam ponsel nenek untuk menghubungi Ibunya, karena katanya dia tidak punya ponsel lagi setelah dia jual untuk makan. Dan dia juga merasa tidak enak jika mau pinjam ponsel kamu, karena kamu terlalu sibuk." ungkap Sang Nenek menceritakan semuanya.


"Apa? Dia bilang seperti itu? Lalu, Nenek beneran minjemin dia ponsel?" tanya Saskia dengan begitu terkejut.


"Ya iya Nak. Sebaiknya kamu juga bantu dia, karena dia bilang ibunya tinggal di luar pulau, sehingga dia tidak ada ongkos untuk pergi kesana." Nenek Titin melanjutkan ceritanya, dan hal itu sontak membuat Saskia naik pitam.


"Apa? Dia bilang seperti itu? Kurang aj-ar!" umpat Saskia dengan lirih seraya berjalan menuju ke kamarnya untuk menghampiri Rani karena dia sudah bisa menebak rencana Rani.


Braakkkh...

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dengan keras hingga membuat Rani terkejut.


"Cepat kamu katakan, siapa orang yang kamu hubungi dengan menggunakan ponsel Nenekku?" bentak Saskia sembari mencengkeram dagu Rani dengan kuat.


__ADS_2