Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Misteri


__ADS_3

Usai menenangkan istri pertamanya, Mahar berganti untuk menemui istri mudanya yang tengah berada di kamar.


Ceklek,


Pintu terbuka dengan pelan, dan Rani menoleh ke arahnya. Dia bisa pastikan bahwa itu adalah Mahar, karena beberapa waktu lalu pria itu sudah mengirim pesan kepadanya bahwa dia tengah di perjalanan pulang.


Satu ulas senyum di terima oleh Rani dari suaminya.


"Hello honey." sapa Mahar yang di balas senyuman oleh Rani.


Pria itu duduk di sebelah istrinya dan mengajaknya berbicara.


"Apa kegiatan kamu hari ini?" tanya Mahar.


"Tidak ada," jawab Rani sambil menggelengkan kepala.


" Jika aku tidak di rumah, kamu boleh keluar kamar untuk berbaur dengan yang lain. Mungkin ngobrol sama Saskia, atau bi Siti atau keluar di area halaman dan sekitarnya." tukas Mahar.


Rani hanya mengangguk memberi jawaban, andai saja Mahar tahu bahwa sebenarnya dia sering berbicara bahkan berdebat dengan Saskia tentang dirinya.


"Apa kamu tidak nyaman berada di sini dan ingin tinggal di rumah yang lain?" tanya Mahar.


Rani bingung untuk menjawab, karena jujur saja dia tidak nyaman berada di rumah itu. Bukan hanya karena tinggal di sana, tapi dia juga tidak nyaman dengan statusnya sebagai istri kedua. Pernikahannya dengan Mahar memang tidak dia inginkan, tapi sebenarnya Mahar adalah tipe pria yang suka memanjakan wanita, sehingga andai saja Rani tidak di madu, maka ada harapan dia akan bahagia dengan rumah tangga paksa itu.


"Aku tidak punya hak untuk memilih." jawab Rani.

__ADS_1


"Apa karena Saskia? Dia sebenarnya wanita yang baik, hanya saja kamu belum mengenalnya." tukas Mahar.


Hati Rani bergetar mendengar hal itu karena faktanya Saskia adalah serigala berbulu domba.


"Kamu pasti sangat mencintai kak Saskia, dan mungkin kalian sudah lama berpacaran dengannya sebelum menikah." Rani mencoba mengorek kisah masa lalu mereka dari mulut Mahar. Namun, setelah Rani melontarkan pertanyaan itu, ekspresi wajah Mahar sedikit berbeda.


"Tidak, semua tidak semanis itu." Mahar menjawab pertanyaan Rani sementara Rani masih saja berpura pura tidak tahu apa apa tentang masa lalu mereka.


"Maksudnya?" tanya Rani.


"Sebelum menikah aku sama sekali tidak mengenalnya dan pernikahan kami terjadi karena sebuah taruhan." jawab Mahar.


Mendengar jawaban singkat itu Rani mulai berpikir bahwa Mahar sebenarnya pria yang jujur, meski dia punya satu sifat buruk, yakni tidak bisa setia dan menggunakan harta untuk mendapatkan apa yang dia mau. Mahar melanjutkan kalimatnya karena dia lihat Rani masih setia menunggu ceritanya.


"Aku awalnya nggak ada niat untuk menikah, apalagi sama Saskia. Hanya sebuah kebetulan saja aku bertarung di meja judi dan taruhannya adalah seorang perempuan, yaitu Saskia." tukas Mahar selanjutnya.


"Cinta? Tidak ada cinta di hidupku, tapi aku tetap hidup. Yang terpenting adalah harta. Karena aku tumbuh dengan harta, bukan dengan cinta." satu jawaban yang memilukan di hati Rani. Tapi dia masih tetap ingin tahu semua dari mulut Mahar.


"Berarti kamu tidak pernah mencintai keluargamu? Orang tuamu, istri istrimu?" entah mengapa hari itu Rani punya banyak keberanian untuk bertanya.


Mahar tersenyum simpul, lalu menjawab pertanyaan Rani.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Dari kecil aku berpisah dengan kedua orang tuaku karena mereka bercerai. Aku di ajak ikut bokap, tapi aku nggak tahan sama nyokap tiri. Dan aku di ajak iku nyokap kandung, tapi aku nggak tahan sama bokap tiri. Akhirnya aku hidup dengan mendiang kakek. Dia seorang penjudi dan pemain wanita bahkan sampai usianya senja. Hidup kami hanya bersenang senang, yang penting ada harta semua beres. Itu yang tertanam di hidupku" ungkap Mahar sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


Hati Rani mulai menciut, lidahnya mendadak membeku dan hatinya sedikit tersayat mendengar ungkapan Mahar. Karena dari semua yang di sampaikan olah Mahar, hal itu menandakan bahwa tidak akan pernah ada kebahagiaan sejati dalam rumah tangganya. Toh suaminya tidak pernah menanamkan cinta, dan hidupnya hanya untuk bersenang senang dengan harta. Pernyataan itu sedikit memunculkan keraguan di hati Rani untuk tetap bertahan dengan keputusannya untuk menjadi seorang ibu.

__ADS_1


"Apa aku harus meniru jejak kak Saskia untuk tidak memiliki keturunan dulu?" satu pertanyaan muncul di benak Rani untuk dirinya sendiri.


Belum sempat Rani mendapat jawaban dari pertanyaannya sendiri, Mahar kembali meneruskan ceritanya.


"Aku tidak mendapat cinta dari orang tua, tapi aku punya harapan di hidupku. Harapan bisa menjadi orang tua dan memberi cinta untuk anakku. Tapi,...."


Mendengar ungkapan itu Rani berbalik arah dari pemikirannya yang sebelumnya, segera dia korek kembali masalah apa yang masih mengganjal di hati suaminya.


"Tapi sepertinya aku memang tidak akan punya keturunan." satu jawaban itu keluar dari mulut Mahar dengan wajah yang lesu.


"Kenapa bicara begitu?" tanya Rani penasaran.


"Panjang ceritanya, jika kamu tahu bagaimana masa laluku, mungkin kamu tidak akan mau menerima aku sebagai suami dan tidak ada yang mau menerima ku sebagai menantu meski aku lamar dengan cara baik baik."


Jawaban Mahar itu lagi lagi menarik perhatian Rani untuk setia mendengar semua masa lalu suami yang sebelumnya tidak dia kenal.


"Ceritakan semuanya, aku akan mendengarnya. Aku juga akan menyimpan rahasia kamu." sahut Rani.


Mahar justru terkekeh mendengar jawaban istri mudanya, lalu dia kembali berkata.


"Rahasia? Tidak pernah ada rahasia di hidupku. Kamu hanya belum mengetahuinya saja, sementara semua orang sudah tahu hal itu. Bahkan banyak orang yang belum mengenalku saja tahu tentang diriku. Tepatnya tentang keburukanku."


Bukannya berkata dengan ekspresi wajah yang tertekan, Mahar justru berkata sambil tertawa. Padahal seseorang akan merasa down jika orang lain tahu tentang keburukan kita, apalagi orang yang belum kita kenal sudah tahu tentang keburukan kita. Namun, kenapa Mahar malah tertawa, dimana letak kelucuan dari hal itu? Atau hal itu memang sudah biasa Mahar terima? Sungguh satu misteri yang ingin di kuak oleh Rani.


Jika percakapan hangat itu tengah terjadi di kamar Rani, lain halnya dengan percakapan sengit yang terjadi di kamar Saskia.

__ADS_1


"Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi ayah. Aku akan bertindak dalam waktu dekat ini, sampai kapan lagi aku harus menunggu ?" ucap Saskia dengan ponsel yang menempel di telinganya. Dia sedang melakukan panggilan dengan sang ayah.


"Sabar nak, jangan gegabah. Rencana yang baru saja kamu sampaikan itu termasuk tindakan kriminal, ayah tidak mau kamu akan bermasalah dengan hukum. Cukup kita hancurkan pria sialan itu tanpa merugikan keluarga kita lagi." satu suara terdengar dari seberang telepon.


__ADS_2