
Langkah lebar Mahar dengan cepat menelusuri ubin rumahnya menuju kamar Rani. Sesampainya di sana dia dapati istri mudanya tengah bolak balik ke kamar mandi untuk muntah dan buang air, hingga wajahnya terlihat pucat.
"Kita ke Rumah Sakit sekarang." tukas Mahar dengan wajah panik.
Rani tidak menjawab karena tubuhnya sudah merasa lemas, dan dengan sigap Mahar menggendong tubuh Rani menuju mobil.
"Kamu ikut atau di rumah?" tanya Mahar kepada Saskia.
"Aku ikut." jawab Saskia. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada Rani, apakah baik baik saja atau sesuai yang dia harapkan?
Tanpa banyak kata, Mahar segera masuk ke mobil dengan di iringi Saskia di belakangnya. Dengan kecepatan lebih tinggi, Pak Malik mengemudikan mobilnya hingga tak butuh waktu lama mereka tiba di Rumah Sakit. Sesampainya di sana, Rani mendapat pertolongan. Tubuh Rani semakin lemas, dan hal itu membuat Mahar semakin panik. Namun pria itu hanya bisa memasang wajah cemasnya di luar ruangan karena Dokter sedang memeriksa Rani di dalam ruang penanganan.
"Tenanglah," tukas Saskia berusaha menenangkan.
"Aku nggak bisa tenang. Apa begini rasanya khawatir sebagai calon orang tua?" sahut Mahar tetap dengan wajah yang tidak bisa tenang.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Bahkan aku juga tidak tahu kapan aku bisa menjadi calon orang tua." Saskia ikut larut dalam keadaan genting itu, dan hal itu berhasil membuat Mahar simpati.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu. Suatu saat kita pasti juga akan punya buah hati." Tutur Mahar sambil mengelus puncak kepala istri tuanya.
Merasa mendapat perlakuan hangat dari sang suami, Saskia menghamburkan pelukan ke dada bidang Mahar sambil menangis.
"Sudahlah, jangan menangis. Aku tidak suka melihat perempuan menangis. Mana Saskia yang selalu ceria?" Ucap Mahar berusaha menghibur Saskia. Namun Saskia enggan menjawab ucapan Mahar. Dia masih ingin menikmati dekap hangat sang suami yang selama ini agak sulit dia dapatkan. Perasaan yang Saskia rasakan saat itu bukanlah rekayasa, dia benar benar sedih mendengar ucapan Mahar.
Perlahan Mahar melepas pelukan Saskia setelah sempat jadi pusat perhatian orang di sekitarnya.
"Sudah Saskia, sebentar lagi Dokter keluar. Aku mau menanyakan keadaan Rani dan kandungannya."
"Ayolah, jangan begini. Nanti bisa di lanjut di rumah." rayu Mahar dengan lembut.
"Bohong. Sekarang kamu jarang punya waktu untukku!" gerutu Saskia dengan mengerucutkan bibir.
"Iya, aku minta maaf. Tapi kan sudah aku katakan jika Rani ..." ucapan Mahar terpotong oleh ucapan Saskia.
"Karena Rani hamil dan aku tidak!" sahut Saskia.
__ADS_1
"Sudahlah, please! Jangan memancingku. Aku sudah berbicara lembut padamu, tapi kamu malah bersikap seperti itu!" tukas Mahar dengan raut wajah yang mulai berubah. Dam hal itu seketika membuat Saskia melepas pelukannya.
Bersamaan dengan hal itu, Dokter oun keluar dari ruang penanganan. Tak sabar menunggu Dokter itu memberi penjelasan, Mahar segera mendahului dengan pertanyaan.
"Bagaimana keadaan istri dan calon bayi saya Dok?" tanya Mahar.
"Sementara ini, kasusnya adalah keracunan, Tapi ibu dan bayinya selamat." jawab singkat dari dang Dokter itu membuat dahi Mahat mengerut.
"Keracunan? Bagaimana bisa?" tanya Mahar heran.
"Iya, keracunan. Mungkin bisa dari makanan atau minuman yang baru di konsumsi oleh istri anda." ungkap sang Dokter.
Di saat saat kepanikan tengah di rasakan oleh Mahar, mendadak muncul satu suara yang mengagetkan dirinya,.
"Aku akan bawa Rani pergi, kamu tidak bisa menjaga dia dengan baik!"
Degh, pertama kalinya hati Mahar berdesir karena mendengar ucapan yang membuat dia tidak bertenaga.
__ADS_1