Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Ingin hamil


__ADS_3

Dua hari sudah Rani di rawat di Rumah Sakit dan Mahar tidak sedetikpun berpaling darinya kecuali saat hendak ke kamar mandi. Itu pun dia meminta beberapa suster untuk menjaga Rani ketika dirinya pergi.


Satu perlakuan yang begitu spesial bagi Rani, tapi terlihat sangat berlebihan dan lebay bagi Saskia. Dia hanya menemani Mahar menjaga Rani selama satu malam. Dan satu malam berikutnya, dia memilih untuk pulang. Mahar tidak memperdulikan hal itu karena yang terpenting sekarang adalah Rani yang kini tengah mengandung benihnya.


Dua hari Mahar meninggalkan pekerjaannya demi menunggu istri mudanya di Rumah Sakit, dan hari ini Rani sudah berada di rumah karena kondisinya sudah membaik.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Rani ketika Mahar merebahkan tubuhnya istrinya itu ke kasur. Sejak dari Rumah Sakit, memang Mahar sendiri yang turun tangan menggendong istrinya untuk naik dan turun dari mobil. Rani sebenarnya sudah melarangnya, tapi Gaston tidak menggubris sama sekali. Perlakuan itu tentu saja memancing amarah Saskia yang semakin di acuhkan oleh Mahar. Bahkan sejak Rani di nyatakan hamil, Mahar sama sekali tidak tidur di kamar Saskia. Hatinya terlalu gembira dan ingin selalu menemani istri mudanya dan memastikan agar kandungannya aman.


Mahar juga meninggalkan pekerjaan kantornya hampir satu minggu. Tidak ada celah bagi Saskia untuk mendekati Rani, karena Mahar selalu berada di sisinya dan pintu kamar Rani selalu di kunci dan tidak terbuka hingga Mahar sendiri yang ingin membukanya. Pria itu teringat pesan Dokter bahwa di awal trimester kehamilan Rani tersebut, sangat rentan dan harus di jaga, sehingga Mahar memutuskan untuk menjaganya sendiri tanpa mempercayakan kepada orang lain. Urusan makan, bi Siti yang mengantar makanan Rani ke kamar. Jika sebelumnya Mahar meminta Rani untuk keluar kamar dan berbaur dengan yang lain,sekarang justru terbalik. Rani di minta agar tetap berada di kamar dan tidak perlu keluar. Jika membutuhkan apa apa tingga hubungi bi Siti atau pak Malik saja.


Rani sedikit canggung karena mendapat perhatian yang lebih dari Mahar selama hampir seminggu. Selain canggung, Rani juga memikirkan Saskia. Karena perempuan itu pasti sangat marah jika Mahar mengabaikannya, dan tidak bisa dia bayangkan rencana jahat apa lagi yang Saskia susun jika dia sampai sakit hati. Mahar tidak berpikir sejauh itu, karena dia tidak tahu kedok Saskia yang sesungguhnya. Berbeda dengan Rani yang sudah mengenal Saskia luar dalam meski masih dalam beberapa minggu saja.


Dan benar saja, sesuai dengan pemikiran Rani bahwa Saskia pasti tidak terima dan sakit hati melihat Mahar yang terlalu berlebihan memperhatikan Rani

__ADS_1


"Sepertinya aku harus hamil juga!" satu kalimat itu tiba tiba terlintas di benak Saskia. Dia yang awalnya paling anti dengan seorang anak, kini terpaksa harus memilih jalan itu demi menjalankan misi. Karena semakin Mahar menjauh darinya, maka kesempatan menghancurkan Mahar akan semakin menjauh.


Malam itu Saskia mengirim pesan kepada Mahar.


"Sayang, apa kamu akan terus mengabaikan aku selamanya? Jika begitu, lebih baik antar aku pulang saja ke rumah ayahku!"


Saskia berpura pura merajuk agar Mahar memperhatikan dirinya.


"Siapa?" tanya Rani ketika melihat ekspresi wajah Mahar yang berubah tatkala membuka pesan di ponselnya.


"Pergilah ke kamarnya, bukankah dari kemaren aku sudah menyuruhmu ke sana. Kamu harus adil, kamu nggak boleh di sini terus." Rani memberi nasehat kepada suaminya.


"Tapi aku kan hanya ingin menjaga kamu di awal kehamilan, lagian itu juga perintah Dokter." bantah Mahar.

__ADS_1


Rani tersenyum mendengar jawaban Mahar, pria yang biasanya bersikap semaunya dan tidak mau di atur itu, kini ingin selalu dekat dan melindunginya. Sungguh Rani merasa begitu tersanjung.


"Aku sangat berterima kasih atas perhatian yang kamu berikan, tapi kamu punya dua istri yang harus kamu jaga. Bukan cuma aku, tapi kamu juga harus menjaga perasaan dia. Kamu ingat kan bagaimana ketika dia memberimu izin untuk menikahi ku, apa kamu tega jika sekarang kamu mengabaikan dia?" Rani terpaksa harus menyanjung kebaikan Saskia agar Mahar menemuinya. Karena jika tidak, maka Saskia akan berbuat nekat.


Mahar sejenak diam untuk berpikir, hingga akhirnya dia ambil keputusan untuk menemui Saskia.


"Baiklah jika memang harus begitu, tapi kamu baik baik aja kan. Usai memberi nafkah batin padanya, aku pasti kembali ke sini untuk menjagamu." tutur Mahar sambil mengecup punggung tangan Rani.


"Iya, pergilah." jawab Rani dengan senyuman.


Pria itu lalu turun dari ranjang dan keluar dari kamar Rani untuk menemui Saskia dia kamarnya. Rani bernafas lega melihat Mahar akan menemui Saskia, karena setidaknya Saskia tidak akan mengamuk dan bertindak brutal.


Ceklek,

__ADS_1


Pintu kamar Saskia terbuka. Nampak di dalam Saskia tengah berpose bak bayi untuk memancing sang suami untuk mendekat. Mahar yang memang hiper, tentu saja tidak menolak jamuan ranjang itu. Segera dia sambar tubuh polos istrinya dengan hasrat yang menggelora. Ada yang berbeda pada malam itu karena Saskia tidak menelan pil kontrasepsi dengan harapan agar segera hamil seperti Rani.


__ADS_2