
"Aku mau menjadi seorang ibu."
Satu kalimat dari Rani membuat Saskia naik darah.
"Apa? Jadi kamu tidak mengikuti aturan mainku?" tanya Saskia.
"Aku tidak bisa kak. Hanya dengan anak aku bisa mendapat hak dari harta mas Mahar." jawaban polos Rani membuat Saskia terkekeh.
"Sepertinya aku salah pilih klien!" ucap Saskia sambil melipat kedua tangan.
"Kamu itu lemah, kamu bisa merebut kembali hak kamu, tapi kenapa kamu memilih mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang tidak menguntungkan." kata Saskia selanjutnya.
Rani terdiam, dia memang tidak akan sanggup jika harus berdebat dengan Saskia.
"Baiklah,jika memang itu pilihan kamu, kita lihat saja siapa yang akan mampu bertahan lebih lama. Aku pastikan kamu akan menyesal dengan pilihanmu untuk rela menjadi seorang ibu!" tukas Saskia sambil berjalan meninggalkan Rani.
Perempuan lugu itu masih tetap mematung usai Saskia meninggalkannya sendiri. Dia yakin bahwa pilihannya tidak salah, sebab tidak ada ibu yang menyesal telah melahirkan anaknya.
Sore itu Mahar pulang dari kerja dan dia lihat kedua istrinya berada di kamarnya masing masing. Dia terlebih dulu menghampiri Saskia, istri pertamanya. Mahar memberikan kecupan hangat di kening Saskia untuk menyapa.
"Hay baby, I Miss you." ucap Mahar. Meski pria itu telah berbuat semena mena, tapi dia tidak bermuka dua seperti Saskia. Dia tetap memberi nafkah secara lahir batin kepada kedua istrinya dengan adil. Hanya saja Saskia belum bisa berdamai dengan hatinya sendiri, padahal Mahar sudah memberinya kehidupan yang mewah dan bergelimang harta serta fasilitas.
Andai saja Saskia mau melupakan cara Mahar mendapatkannya lalu menganggap Mahar memanglah jodohnya meski pertemuan mereka tidak dengan cara yang baik, pasti Saskia bisa menemukan titik kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Namun karena Saskia lebih memelihara dendam di hatinya, maka dia merasa tersiksa. Apalagi keputusan yang sangat salah olehnya adalah mengkonsumsi pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan Mahar sehingga dia tidak bisa memberi keturunan hanya karena mempertahankan keegoisannya.
"Gimana hari pertamamu aku tinggal serumah dengan Rani?" tanya Mahar.
__ADS_1
"Biasa aja, dia mengurung diri di kamar terus." jawab Saskia sedikit ketus.
Sedikit perbedaan terlihat pada nada bicara Saskia ketika dia bicara tentang Rani, atau mungkin saja dia mulai cemburu dengan madunya? Satu pertanyaan itu terlintas di benak Mahar.
"Berarti hari ini kalian tidak bertemu?" tanya Mahar.
"Sudah ku bilang dia di kamar terus, gimana aku bisa ketemu?" Saskia melemparkan pertanyaannya kembali kepada Mahar. Melihat suasana hati istrinya yang kurang baik, Mahar memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Ya sudah, ayo kita makan malam bersama. Sekalian kita panggil Rani agar keluar dari kamar." tukas Mahar selanjutnya.
"Kalau kamu pengen makan malam sama dia, sana makan aja berdua. Aku masih kenyang!" jawaban Saskia semakin memperlihatkan kekesalannya. Kekesalan yang Mahar kira karena rasa cemburu, namun sebenarnya kekesalan itu karena Rani tidak mau diajak kerja sama menjalankan rencananya.
"Ya sudah, kalau gitu kita makan berdua saja tanpa dia. Nanti biar makanan Rani di antar ke kamar oleh bi Siti." ucap Mahar yang memahami isi pikiran istri pertamanya yang sepertinya mulai memasang mode tidak nyaman jika bertatap muka dengan madunya.
Namun dengan mentah mentah Saskia menolak, "Tidak usah, kalian saja yang makan berdua. Aku bilang aku masih kenyang!"
"Siapa yang emosi? Aku tidak emosi. Kamu aja yang nilainya berlebihan." sahut Saskia sambil memalingkan muka.
Merasa kata kata nya tidak mampu meredakan amarah sang istri, Mahar mencoba jurus yang kedua , yakni dengan sentuhan. Mahar menarik lengan Saskia agar masuk ke dalam dekapannya. Awalnya Saskia menolak, tapi dia tidak bisa melawan aksi buaya jantan itu ketika sedang memanas. Mulut yang awalnya selalu menjawab kini hanya terbungkam dengan saling bertautan lidah. Rupanya Saskia lemah juga jika Mahar sudah menyerangnya. Peraduan lidah pun semakin berkembang kebawah hingga akhirnya berujung ke penyatuan inti tubuh mereka.
Emosi yang sempat mengganjal di dada Saskia, sejenak mencair karena terjangan pusaka suaminya. Kegiatan itu pun berlangsung selama sepuluh menit, dan setelah berkeringat bersama, keduanya kini saling merapikan pakaian.
Karena waktu masih sangat sore, Mahar tidak sampai ketiduran di kamar Saskia. Dia kembali menawari istri pertamanya untuk makan bersama, tapi karena Saskia tetap saja menolak, pria itu memilih untuk menghentikan ajakannya. Dia keluar dari kamar istri pertamanya dan hendak menghampiri kamar istri keduanya. Namun ketika Mahar baru saja hendak membuka pintu, Saskia memanggilnya.
"Tunggu,"
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Mahar.
"Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu." sahut Saskia.
Mahar mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, lalu kembali duduk di tepian ranjang untuk mendengar pertanyaan Saskia.
"Jika dia lebih dulu memberimu keturunan, apa kamu akan membuang ku dari sini?" tanya Saskia langsung ke inti masalah.
Mahar sedikit terkejut dengan pertanyaan Saskia, baru dia pahami kenapa istrinya mulai bersikap ketus, ternyata gara gara keturunan. Setelah sejenak berpikir, Mahar akhirnya memberi jawaban kepada Saskia.
"Kenapa bicara seperti itu? Kalau memang aku mau membuang mu, kenapa susah payah aku memadu mu? Harusnya kan udah aku buang aja kemaren sebelum aku menikah lagi."
Saskia tertegun mendengar jawaban Mahar. Entah mengapa hatinya bergetar mendapat jawaban itu, tapi dia berusaha untuk menjaga hatinya agar tetap berada pada tujuan utama. Bukan malah terlena dengan rayuan Mahar yang mungkin kelak akan semakin membunuhnya. Tapi sebenarnya itu semua hanyalah pandangan negatif dari Saskia sendiri, karena jika dia bisa mulai membuka hati, mungkin kebencian itu akan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya.
"Aku tidak yakin dengan jawaban kamu, karena bayi itu belum benar benar ada." jawab Saskia mencoba untuk kembali mengorek isi kepala suaminya.
"Sudahlah, kamu jangan berpikir macam macam. Aku tidak suka berbelit belit. Kalau kamu tidak percaya padaku, kita lihat saja nanti bagaimana kenyataannya. Aku tidak mau membuang buang waktu untuk memikirkan sesuatu yang masih jauh dari hadapan mata." ungkap Mahar dengan wajah yang sedikit kesal.
Saskia terdiam, dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terbawa emosi. Sebisa mungkin dia harus terlihat sangat mencintai Mahar agar pria itu tidak mencium rencananya.
"Ya sudah, aku minta maaf. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti." sahut Saskia sambil menenggelamkan kepalanya di dada bidang Mahar.
Mahar mengelus rambut Saskia lalu mengecupnya dengan mesra.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti."
__ADS_1
Satu kalimat yang berbeda arti untuk kedua insan tersebut. Jika Mahar mengartikan hanya tentang keturunan dan rumah tangganya nanti, tapi berbeda dengan Saskia yang lebih mengarah ke rencana rahasianya.