Mahar Untuk Rani

Mahar Untuk Rani
Panggilan dan Pesan


__ADS_3

Malam itu mahar pulang dari rumah Rani ketika waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Lukman dan Laras tidak bisa melarang laki-laki itu untuk tidak mengunjungi putrinya karena memang dia adalah suami Rani. Sementara suasana hangat begitu terasa di rumah Rani, berbeda dengan suasana yang ada di kamar Saskia. Perempuan itu nampak kesal karena menanti kedatangan sang suami yang tidak pulang-pulang dari rumah Rani. Dia pun berinisiatif untuk menghubungi Mahar dan memintanya agar segera pulang.


"Kenapa tidak pulang-pulang?" satu pesan singkat masuk ke ponsel Mahar. Mahar membuka pesan itu tapi mengabaikannya. Dan hal itu membuat Saskia semakin kesal.


"Kenapa pesanku hanya kamu baca dan tidak kamu balas?" Saskia kembali mengirim sebuah pesan.


Mahar tidak memperdulikan pesan masuk dari Saskia hingga akhirnya Saskia pun menelpon Mahar. Terdengar suara ponsel berdering, Mahar bisa menebak siapa yang tengah menelponnya. Dia pun berusaha untuk tetap tidak mempedulikannya, tapi Rani Justru malah menyuruhnya untuk menerima panggilan tersebut.


"Siapa? " tanya Rani.


"Bukan siapa-siapa." Jawab Mahar.


Sekilas Rani melihat foto profil yang ada di panggilan Mahar dan itu adalah foto profil milik Saskia.


"Itu panggilan dari Kak Saskia?" tanya Rani.


"Iya." Dengan berat hati Mahar pun mengakuinya.

__ADS_1


"Kenapa tidak diterima?" tanya Rani.


"Lagi males." jawab Mahar.


"Jangan gitu, jadi kalau misal kamu sedang bersama Kak Saskia kamu juga malas jika aku yang menelponmu?" Rani justru mencoba membalikkan keadaan.


"Bukan begitu, aku tidak suka karena dia selalu mengatur ngatur kegiatanku." ungkap Mahar.


"Memangnya Kak Saskia minta kamu untuk apa? " tanya Rani.


"Dia tanya kenapa aku tidak pulang-pulang?" jawab Mahar.


"Biarkan saja aku tidak peduli," Mahar masih saja mengacuhkan panggilan dan pesan dari Saskia.


"Pulanglah, aku tidak mau Kak Saskia marah dan membuat masalah dengan kita."


Seketika jawaban dari Rani membuat Mahar penasaran. "Apa maksud kamu dia akan membuat masalah? Apa dia pernah membuat masalah dengan kamu?" tanya Mahar.

__ADS_1


"Tidak, maksud aku bukan begitu. Kak Saskia tidak pernah membuat masalah denganku. Aku hanya tidak enak saja kalau dia sampai marah." Rani tidak berani berkata jujur tentang apa yang pernah dia bicarakan dengan Saskia.


"Oh begitu, baiklah jika kamu tidak keberatan aku akan pulang karena sekarang juga sudah pukul sebelas malam, kamu juga harus istirahat. Jaga baik baik calon bayi kita, aku harap kamu akan kembali pulang bersamaku." Mahar kemudian menuruti keinginan kedua istrinya.


Empat puluh lima menit kemudian Mahar telah tiba di rumahnya. Saskia segera menyambutnya dengan senyum manis, bahkan dia langsung memeluk tubuh Mahar sambil berkata, "Aku rindu sama kamu."


Ungkapan itu jelas saja terdengar tabu di telinga Mahar. "Jangan aneh-aneh, setiap hari kita bertemu dan aku pergi ke rumah Rani hanya beberapa jam. Kamu nggak perlu berlebihan mengatakan kalau kamu rindu." tukas Mahar.


"Bukan, aku bukan rindu tentang itu. Aku merindukan hal lain. Aku merindukan saat rumah tangga kita hanya ada aku dan kamu." jawab Saskia dengan raut wajah yang sedih.


"Sudahlah, jangan kita bahas masalah itu. Bukankah kamu sendiri juga sudah memberiku izin ketika aku akan menikahi Rani?" Mahar berusaha untuk tidak meladeni arah pembicaraan Saskia.


"Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Saskia.


"Pertanyaan mu itu konyol sekali. Kalau aku sudah tidak mencintaimu lagi, kamu sudah aku buang sebelum aku menikah dengan Rani. Sudahlah jangan bertanya tentang perasaan lagi. Jujur saja saat ini aku memang sangat menanti kehadiran. seorang buah hati yang sekarang ada di dalam perut Rani. Tapi bukan berarti hal itu membuatku akan mengabaikan mu. Kamu pun juga punya kesempatan untuk memiliki keturunan dariku." kalimat yang diucapkan oleh Mahar menusuk hati Saskia karena akibat kesalahannya sendiri kini Saskia tidak bisa memiliki keturunan.


"Bagaimana jika aku tidak akan pernah bisa memberimu keturunan?" tanya Saskia.

__ADS_1


Dia berharap jawaban yang diberikan oleh Mahar sesuai dengan apa yang diharapkan.


__ADS_2