
“Bisa kamu tunjukkan apa yang ada ditangmu Sophie,” Pak Rustam sudah ada tepat disamping bangkuku sekarang.
Sakit perutku yang tadi sudah sempat reda kini kambuh lagi. Semakin parah malah. Mataku melirik Dede yang rupa – rupanya juga mulai sakit perut. Wajahnya pucat seperti orang kedinginan. Mungkin guru fisikaku ini memancarkan gelombang aneh yang membuat semua orang di sekitarnya sakit perut.
Melihat aku sepintas melirik Dede, Pak Rustam berkata “Dede, kamu mau katakan ke seluruh kelas apa yang barus saja kamulempar ke Sophie ?”
Dede kelihatan bingung. Tapi bukan Dede namanya kalau tidak bisa membuat jawaban yang masuk akal,
“Eh, itu resep obat Mama saya Pak. Saya nanti minta Sophie mengantarkan ke apotek sepulang sekolah.” Kelihatannya Dede bangga dengan jawabannya.
“Betul seperti itu Sophie ?”
“Iya Pak. Kebetulan pulangnya nanti saya lewat apotek.”
“Bagus juga. Coba kamu bacakan apa bunyi resepnya Sophie.”
Waduh, ini bukan tanda yang bagus. Mataku mencari – cari pertolongan Dede. Tapi rasanya dia juga mulai menyesali alasan pintarnya.
“Eh, tulisannya seperti cakar ayam Pak. Maklumlah, khas tulisan dokter. Tidak bisa saya baca,” jawabku sekenanya.
“Kalau begitu biar Bapak saja yang baca,” Pak Rustam mengulurkan tangan kanannya. Ini lebih tidak bagus lagi.
“Eh, jangan, jangan. Biar saya saja yang baca,” aku gemetaran membuka kertas chatting ku dan Dede. “Paracetamol lima butir, penicylin dua belas butir, antibiotic sirup satu butir. Eh, maaf, satu botol maksud saya,” tidak sempat kuteruskan karena tiba – tiba saja Pak Rustam ambil kertas itu dari tanganku.
“Diki, tolong baca ini,” Pak Rustam memberikan kertas itu ke Diki, ketua kelasku yang lugu sehingga tidak mengerti arti sandiwara. Aku dan Dede sudah berusaha untuk memberi segala macam kode yang mungkin pada Diki supaya dia mengikuti alasan kami. Tapi Diki malah membetulkan kacamatanya yang sudah melorot ke cuping hidung itu. Terlambat sudah, aku dan Dede pasti akan dihabisi Pak Rustam.
__ADS_1
Diki baca keras – keras tanpa perasaan bersalah sampai semua orang di kelas tertawa tak berperasaan. Muka Dede merah dan aku terserang rasa malu akut.
“Paling tidak, kalian berdua gak contek – contekkan. Saya jadi lega. Kalian masih menghormati saya sebagai guru dan kalian juga berlaku jujur.”
Aku lega mendengar ceramah Pak Rustam. Tapi perasaanku berkata kalau Pak Rustam belum selesai. Aku juga menyumpahi Jenny dalam hati. Aku tahu dia berusaha membuat semua orang percaya kalau dia adalah peramal dan ramalannya tidak pernah meleset. Tadi pagi aku sempat sedikit percaya kalau ramalannya akan benar. Tapi dengan tragedy Pak Rustam ini, aku benar – benar yakin kalau Jenny adalah peramal pembohong dan segala hal yang dia katakan tentang indra ke – enam hanyalah isapan jempol semata. Ku lihat dia ujung mataku kalau dia senyum – senyum. Huh, aku sebel benget sama dia, dan sama diki yang tidak setia kawan.
Baik aku maupun Dede tidak berani membantah Pak Rustam. Selain karena membantah guru belum menjadi suatu hal yang wajar di sekolah kami, tapi juga karena dalam hal ini aku dan Dede merasa bersalah.
“Tapi percintaan remaja, adalah sesuatu yang sangat rumit. Betul begitu?”
“Betul Pak!!!!!!!!!!” langsung saja semua temanku menjawab karena hal apa yang lebih baik daripada mengethaui aib orang lain dan punya kesempatan dengan terbuka membicarakannya di depan orang – orang.
“Jadi coba saya mengrti lagi apa yang terjadi pada kalian. Sophie naksir cowok. Namanya siapa Soph?”
Aku diam saja. Aku sudah cukup dipermalukan hari ini.
“Entah siapa nama cowok itu, sebut saja Mr. X, ternyata jadian sama Dede yang notabene adalah sahabatnya sendiri. Betul begitu anak – anak?”
“Betul Pak !!!!” teman – temanku yang lain berlomba untuk menjawab. Aku merasa menjadi hewan sirkus, tontonan banyak orang.
“Menurut kalian, teman seperti apa yang melakukan hal itu?”
Semua orang melihat Dede dan kulihat kalau Dede mulai berkaca – kaca. Lalu semua orang memberikan pendapat mereka. Mereka ini, teman – teman sekelasku yang biasanya diam saja ketika ditanya apa – apa yang berhubungan dengan pelajaran, sekarang malah berlomba, berlagak seperti ahli yang tahu banyak hal tentang dunia cinta remaja.
“Saya suka akhirnya saya bisa mendengar suara semua orang. Saya ingin kalian juga seaktif ini kalau saya tanya seputar fisika,”
__ADS_1
Semua orang di kelas lalu terdiam dan samar – samar aku bisa mendengar suara jangkrik berlomba menyanyi.
“Tapi saya suka persahabatan kalian, Sophie dan Dede. Secara teknis, Dede tidak nikung kamu karena kamu belum jadian sama Mr. X. Mungkin kalian sempat marahan, bukan mungkin sih. Melihat chat kalian, kalian sudah marahan. Tapi kalian berdua berhasil melewatinya. Persahabatan sejati memang harus diuji, bukan hanya dalam kesenangan, tapi juga dalam masalah.
Saya tidak akan menghukum kalian karena kalian tidak terbukti mencontek. Saya merasa kalian menghargai saya sebagai seorang guru. Karena persahabatan kalian juga, saya memutuskan akan memberi nilai sepiluh persen nilai ekstra pada kalian satu kelas.”
Lalu berbagai macam ucapan syukur aku dengar. Doa – doa mengucap terimakasih juga dipanjatkan. Beberapa cewek yang suka duduk di belakang tampak terharu mengusap air mata di ujung mata mereka. Bahkan diki sampai sujud syukur. Aku bisa mengerti perasaan mereka. Fisika adalah sebuah tantangan. Mendapat nilai tambahan, sekecil apapun akan membantu kami semua melewati masa SMA ini dengan sedikit lebih mudah.
Semua temanku datang untuk menyalamiku dan Dede, mereka mengucapkan terima kasih. Tidak aku sangka memang, kejadian yang awalnya memalukan ini ternyata memberi kebahagiaan buat kami semua. di ujung ruangan, di kursinya, Jenny tersenyum kecil. Mungkin Jenny adalah peramal sejati.
Pulangnya, aku bonceng Dede dengan motorku. Sesekali Dede berteriak kalau sepedaku disalip cowok, “Mas .. mas …, ini loh Sophie. Bisa main gitar dan belum punya pacar,”
“Kamu ngapain sih De ?”
“Aku khan harus promosi’in kamu,”
“Gak begitu juga kali,” aku tertawa. Dede berteriak lebih keras, “Dia tuh cucunya yang punya Toebroek. Nanti malam dia nyanyi, datang yah,” teriak Dede entah pada siapa karena aku harus konsentrasi melihat jalan.
“Kamu gila!” Aku lajukan sepedaku cepat – cepat berusaha menghindari setiap lampu merah karena aku takut Dede tambah gila. Kota Batu sekitar jam setengah dua siang dilalui banyak bus kecil baik yang mau masuk Malang atau yang mau keluar Malang. Angin yang membawa udara mendung membuat rambutku dan rambut Dede yang sebahu berkibar.
Awalnya memang tidak mengenakkan bermasalah dengan sahabat. Tapi kini aku tahu kalau kadang kemarahan harus terjadi supaya hubungan jadi tambah erat. Walaupun aku sadar kalau sama sekali tidak ada yang bersalah dalam hal ini, tapi aku jadi benar – benar tahu kalau dalam hatiku memang ada sebuah kotak daur ulang.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
__ADS_1
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang