Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Keputusan Sulit


__ADS_3

Hardin sudah menjadi agenda rutin buatku. Maksudku adalah, aku akan memeriksa HPku setiap pagi dan menemukan pesannya di sana. Lalu kami akan saling bercerita tentang hal – hal kecil yang mungkin buat orang lain anggap membosankan tapi sangat kami nikmati. Tapi beberapa kali, kami masih suka menggunakan Fernando sebagai kurir pengantar surat. Mengasyikkan ketika kau membaca sebuah pesan, tidak melalui HP tapi pesan di atas kertas. Pesan yang ditulis dengan tinta. Uhg … romantis.


Selama minggu ini, sudah dua kali aku dan Kak Frans menyanyi di Club House. Tapi aku tidak lihat lagi ketenangan yang biasa Kak Frans dapat ketika menyanyi. Seakan – akan ada sesuatu yang mengganggu hatinya yang enggan dia utarakan padaku. Dan setiap kali aku menyanyi di club house, tetap saja pikiranku melayang ke toebroek. Membayangkan Nenek menjalankan tempat itu seorang diri membuatku tak enak hati, sakit perut.


Minggu siang ketika aku, Kak Frans dan Nenek sedang duduk di dalam Toebroek sambil ngobrol. Saat itulah Stan datang dengan senyum cerahnya.


“Aku kangen toebroek Tante,” katanya.


“Tunggu sebentar Nak,” teriak Nenek dari dapur kecil.


“Stan, kebetulan sekali kau datang. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” kata kak Frans serius. Mungkin saja Kak Frans akan berbicara tentang kegelisahan yang aku maksud barusan.


“Ah kau ini, jangan bikin aku takut begitu,” kata Stan. “Ada apa memang ?”


Dalam hati aku juga bertanya – tanya tentang apa yang akan dikatakan Kak Frans. Apa ini ada hubungannya dengan peristiwa malam itu? Maksudku peristiwa sebelum aku terjebur dalam kolam ikan mas.


“Aku tidak bisa menyanyi lagi untukmu,” kata Kak Frans singkat.


“What ?!” ujar Stan dengan wajah meminta penjelasan. Aku yang dari tadi hanya diam sebagai pendengar juga ikut – ikuttan terkejut. Aku ubah posisi dudukku supaya lebih nyaman. Kemudian Nenek datang dengan empat buah cangkir berisi toebroek yang masih mengepul. Persis dengan waktu itu. Waktu pertama kali Stan datang ke tempat ini dan membuat mataku berbinar – binar ketika dia berkata – kata tentang menjadi bintang.


“Ada apa Frans ?” tanya Nenek yang juga tidak mengerti.


“Mami, aku tidak bisa meninggalkan Mami sendiri. Hatiku tidak tenang membayangkan Mami bekerja sendirian di sini. Waktu Papi meninggal, Papi minta aku yang meneruskan mengelola Toebroek. Aku mengerti, dalam tradisi keluarga kita, selalu keturunan perempuan yang mengelola toebroek. Tapi sampai Sophie dewasa dan dia mau mengelola toebroek, aku yang akan memegang tanggung jawab ini,”

__ADS_1


“Kenapa kamu berpikir seperti itu Frans. Apa kau pikir wanita tua ini tidak bisa lagi menjalankan Toebroek ?”


“Mami jangan berpikir seperti itu. Mami akan tetap menjalankan Toebroek. Hanya saja … hanya saja …,” kepala kak Frans menunduk. Aku tahu, dia pasti tidak merasa nyaman lagi menyanyi di tempat lain setelah peristiwa malam itu.


“What ?!” tanya Stan lagi.


“Aku merasa bukan tempatku menyanyi di luar sana. Tempatku menyanyi ada di sini. Di Toebroek, dengan Mami.” Bergantian Kak Frans melihat kami bertiga.


“Frans, kamu bisa jadi pujaan banyak orang di luar sana,” kata Stan sambil mengerling.


“Stan, kau tahu khan kalau bukan itu yang aku cari ?”


“Sorry, just kidding,” kata Stan sambil tersenyum dipaksakan. “Kamu harus berpikir ke depan Frans. Dengan talenta yang kamu punya sekarang, apa kamu akan ada di sini selamanya ?”


“Trims. Tapi aku sudah memikirkan ini masak – masak. Tempatku bukan di luar sana.”


“Semuanya itu tergantung Sophie,” jawab Kak Frans. “Begitu khan Mami ?”


“Benar, semuanya itu terserah Sophie. Nona kecil, ini pilihanmu sendiri. Mungkin sudah waktunya kamu tidak lagi tergantung dengan Frans atau aku untuk menyanyi. Bagaimana ?”


Pertanyaan Nenek membuatku gelagapan. Rasanya baru kemarin aku menghadapi kebingungan tentang Hardin, Nando, konsr sekolah, burung beo nakal dan sekarang aku dihadapkan pada pertanyaan apakah aku bisa menyanyi sendiri tanpa Kak Frans.


“Sophie tidak tahu,” jawabku ragu – ragu.

__ADS_1


“Dengar Sophie. Kamu bisa melakukannya tanpa Frans. Meskipun aku tidak melihatnya secara langsung, tapi aku pernah mendengar kamu membuat teman – temanmu di sekolah terpesona waktu kamu menyanyi. Ehhh …. Di konser sekolah itu maksudnya …. Tapi maksudku adalah, kamu bisa melakukannya,” kemudian Stan menoleh pada Nenek dan Kak Frans seakan – akan berkata, “Tolong aku …. Yakinkan cewek ini …. Please ….,”


sedangkan aku menoleh pada Kak Frans dan Nenek dengan mata yang meminta bantuan untuk memutuskan masalah yang membuat aku bingung ini.


“Selain itu,” Stan seperti punya senjata lagi untuk membujukku, “Atas nama Frans dan kamu Sophie, aku sudah menanda tangani kontrak untuk jadi penyanyi tetap club house kemarin. Kamu ingatkan ? Kalau Frans tidak bisa memenuhinya, tidak ada pilihan lain. Kamu yang harus memenuhinya. Kalau tidak, ada konsekuensi yang harus kita bayar kalau kita tidak menepati kontrak itu,” kemudian bergantian Stan memandangi aku dan Kak Frans. “Dan juga …. Jauh di dalam hatimu, kamu sangat ingin menjadi bintang bukan ?”


Sepertinya, aku tidak punya pilihan lain.


Malam itu, di sela – sela melayani pengunjung Toebroek, Nenek bercerita padaku tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana dia dididik secara keras oleh Kakek buyutku. Tentang bagaimana dia tidak bisa bebas bermain karena di luar rumah banyak sekali peluru berdesingan di atas kepala dan tentang beberapa kesempatan yang tidak pernah dia ambil sampai sesalnya tetap dia rasakan bertahun – tahun kemudian.


“Ingat Nona kecil, kamu tidak akan tahu kesempatan itu cocok buatmu atau tidak kalau kamu tidak mencobanya lebih dulu. Coba dulu Sophie, setelah itu pikirkan dan rasakan. Kalau kamu memang tidak nyaman dengan pilihanmu itu, kamu harus tahu kalau masih banyak kesempatan yang menunggumu di luar sana. Kamu masih muda. Kesempatan tidak datang dua kali.”


Memang benar kata Nenek. Kesempatan ini akan sulit datang untuk kedua kalinya. Masih ada beberapa orang di Toebroek. Kata Kak Frans, beberapa orang akan begadang di depan TV dan karpet di salah satu pojokan Toebroek untuk melihat pertandingan bola. Nenek sudah menyiapkan setermos besar toebroek dan roti tawar lengkap dengan selai nanas dan strawberry yang siap diolah menjadi roti panggang.


Aku meninggalkan Toebroek pergi ke kamar. Aku mengantuk dan bimbang. Aku telpon Hardin dan menceritakan apa yang terjadi. Tapi jawabannya sama seperti Nenek,


“Terserah kamu Soph,” dia bilang.


Kalau semua orang biulang terserah aku, tergantung padaku, lalu bagaimana aku harus memutuskan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan menjadi dewasa. Harus mengikuti kata hati dan membuat keputusan sendiri. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2