
“Soph,” Nando seperti mau mengatakan sesuatu tapi tidak dia teruskan. Tangan kanannya menyenggol tangan Dede.
“Soph,” mulut Dede terbuka hendak mengatakan sesuatu tapi ku rasa ada sesuatu yang mengganjal mulutnya.
“Saph, soph, saph soph dari tadi? Kalau lapar mau makan sup minta Nenek sana!. Iya, namaku memang Sophie. Sophie Srikandi. Sekarang lagi berumur 16 tahun. Jariku biru – biru semua. Tahu khan, aku lagi belajar main gitar!”
“Iya, iya, itu memang salahku,” Nando menyela, “Tidak seharusnya kamu tersiksa belajar gitar.”
“Nando, jangan GR yah. Aku belajar gitar bukan karena kamu. Jadi kamu tidak perlu minta maaf.” Nadaku sangat sinis, seakan – akan Nando memang salah dalam hal ini. Tapi sebetulnya tidak. Dia tidak salah. Dede juga tidak. Lalu yang salah siapa ? Mungkin Fernando. Tapi kenapa harus Fernando yang disalahkan ? Belum sempat Nando atau Dede ngomong lagi, bel masuk keburu berbunyi.
“Kita ngobrol lagi nanti,” Nando naik motornya dan melaju pergi. Dede memandang punggung Nando sampai hilang ditikungan jalan. Seperti pandangan seorang istri serdadu ketika mengantar suaminya berangkat ke medan perang.
“Kita masih tetap sahabatkan? Kamu bisa mengerti?” tanya Dede. Kami berdua berjalan pelahan menuju kelas kami, melewati lorong-lorong yang suaranya menggema ketika sepi orang.
“Kalau saja ada yang lain De, aku tidak akan memilih kamu.”
Dede tertawa. “Maksudmu ?”
“Kamu harus mengerti kalau harga sebuah persahabatan itu mahal ?”
“He eh,”
“Kamu tahu khan apa artinya?”
“Iya, aku tahu. Kamu mau aku traktir di mana?”
“Di tempat yang mahal. Di hotel, restoran mana saja pokoknya yang mahal. Yang kalau kamu ajak aku ke sana uang jajanmu setahun langsung habis. Aku harus pesan makanan yang paling mahal.”
“Jangan jahat – jahat deh Soph. Dalam kisah seperti ini, memang aku kelihatannya jahat. Sepertinya aku nikung teman. Tapi kamu sahabatku Soph. Kamu ngerti banget bagaimana duduk permasalahannya.” kata Dede. Sahabatku ini memang benar. Dalam hati terngiang kembali lagu Kak Frans.
…
Dalam hati setiap orang, ada kotak daur ulang.
…
Aku rangkul sahabatku itu. “Aku tahu De. Kamu shabatku, dan akan selamanya begitu,” bisikku di telinganya. Sahabatku itu tersenyum. Hari ini jadi terasa lebih indah daripada seblumnya.
Bersama dengan para remaja lain yang memakai seragam putih abu – abu di sekolah ini, aku dan Dede masuk ke kelasku. Kami duduk di bangku yang bersebelahan. Ada seseorang dengan jari – jari yang punya kuku panjang menyentuh pundakku. Jenny, temanku sekelas yang percaya dirinya punya indra keenam sehingga bisa memprediksi masa depan.
“Apa Jenn ?” tanyaku.
__ADS_1
“Aku rasa hari ini akan jadi hari yang indah buatmu.” Katanya yakin. Aku tertawa kecil. “Bagaimana kau bisa tahu ?”
“Aku bisa merasakannya. Tahu khan, aku ini peramal.”
“Trims yah,” kataku untuk menyenangkan hati Jenny.
“Biasa aja.”
Aku tahu. Hari ini adlah hari yang menyenangkan. Perasaan tidak enak yang menggantung beberapa hari ini perlahan mulai sirna. Aku dan Dede bai – baik saja. Aku menyayangi Dede dan tidak mau persahabatan kami rusak hanya karena cowok yang ternyata tidak menyukaiku.
Kemudian tiba – tiba aku terserang sakit perut ketika guru Fisikaku datang.
“Selamat pagi,” suaranya diberat – beratkan. Kumisnya melintang diatas bibir, kasar dan awut – awuttan. Apa dia ingin jadi Albert Einstein?
“Silahkan menyiapkan kertas. Hanya ada alat tulis di atas bangku. Semua tangan tidak ada yang menyelinap di dalam bangku. Saya juga tidak mau ada yang mengangkat kertas ulangannya menutupi kepala pura – pura menguap padahal sedang menanyakan jawaban. Kalau ada yang kurang jelas, silahkan angkat tangan dan bertanya. Saya kira sudah tidak ada lagi yang perlu ditanyakan …” tanpa basa – basi sekadar untuk menarik perhatian murid macam aku dia berdiri dan menuliskan soal – soal di papan dengan spidol besarnya.
“Jangan melamun Sophie. Tulis dan kerjakan. Tidak ada sesuatu yang bisa kau pelajari dengan terus menerus melihat bunga dari jendela !” teriaknya ketika aku tidak juga menulis soal di papan dan malah memilih melihat tanaman di sisi kelas yang sedang berbunga.
Fisika bukanlah temanku. Apalagi sahabatku. Kami sudah bermusuhan sejak lama. Fisika dan komplotannya, kimia dan matematika adalah musuh bebuyutan. Dan kenapa haru pagi yang indah ini ketika fisika datang dan menyatakan perang kembali padaku. Suasana hatiku langsung saja berubah.
Meskipun aku sudah berusaha mati – matian, tetap saja yang namanya fisika sulit untukku. Aku lihat soal – soal cerita yang telah dengan rapi ditulis di papan. Aku harus menghitung hukum Coulomb. Entah apa yang dipikirkan Charles Coulomb ketika dia menciptakan hukum ini yang pertama kali. Apa dia ingin menyiksa gadis malang yang jari – jarinya biru seperti aku ini? Lagian juga mengapa aku harus belajar segala sesuatu yang tidak akan bisa aku gunakan nanti?
Contohnya seperti sekarang ini. Aku harus menghitung soal – soal yang hanya akan aku temui di dalam semua buku pelajaran saja, tidak pernah aku praktekkan dalam dunia nyata. Sekarang kalian tahukan kenapa aku lebih suka belajar Bahasa Inggris. Yah karena apa yang aku pelajari bisa langsung aku gunakan dalam hidupku. Dalam banyak hal aku sangat mengerti kalau fisika membantu kehidupan manusia. Seperti Thomas Alpha Edison dengan bola lampunya atau Albert Einstein dengan reaksi nuklirnya. Tapi apa dengan begitu semua anak SMU harus belajar fisika?
Sulit yah ?! kubaca kertas kecil dari Dede. Kubalas,
Iya L
Dede tertawa tanpa suara. Dia tulis sesuatu, Kamu maafin Nando juga yah?
Paling gak aku akan berusaha De. Pak Rustam sibuk membaca koran di depan.
Iya. Aku ngerti. Thanks yah.
Jangan senang dulu !
Dede lempar kertasnya. Matanya seperti bertanya. Apa ?
Sebetulnya aku jadi malu sama Nando. Aku lempar kertasku ke meja Dede tapi sial. Kertasnya jatuh ke bawah. Dede terpaksa mencari – cari di bawah bangkunya. Untung ketemu.
Kenapa ?
__ADS_1
Kok bisa Dede tidak mengerti masalah seperti ini. Yah malu lah. Aku nih cewek. Kamu juga. Masak gak ngerti ?
Dede baca sambil menganggu – angguk ngerti. Iya. Terus aku harus apa ?
Biasa aja. Paling nanti malu-ku hilang sendiri. Aku lempar kertasku sambil tersenyum.
Kemana ? Dede juga tersenyum.
Timbuktu
Tawa kami berdua keluar tertahan. Beberapa kepala langsung menoleh ke arah aku dan Dede. Kami berdua pura – pura bingung. Aku lempar kertasku ke Dede.
Ngaco. Kata kertas Dede. Pak Rustam sudah tidak membaca koran lagi. Kini matanya yang seperti elang seperti mencari – cari kesalahan kami disini. Aku harus ekstra hati – hati nih.
Enak gak punya pacar ? Rasanya seperti apa ? Aku lempar dan Pak Rustam terlihat curiga. Dia pura – pura batuk, berdehem dan sebangsanya. Aku pura – pura melihat lagi soal – soal di papan tulis. Seakan – akan aku ingin mengerjakan lagi soal ulangan yang sudah ku kumpulkan tadi.
Hatimu hangat. Setiap saat selalu pingin ketawa. Dede lempar ke aku.
Tapi sebetulnya aku harus terima kasih sama Nando
Kok ? balas Dede.
Pak Rustam sekarang berjalan – jalan di gang kecil yang memisahkan bangku dan bangku.
Iya. kalau gak ada dia pasti aku gak serius belajar gitar. Aku ambil hikmahnya saja lah.
Dede mencondongkan badannya ke depan supaya lebih leluasa menulis, Bagus kalau gitu. Ambil hikmahnya.
Tapi kamu bantu aku promosiin diri yah. Aku khan pingin keluar dari club jomblo selamanya. Biar kita tetep satu club De. Club cewek – cewek pacaran. Biar hatiku hangat dan pingin tertawa terus.
Aku mengambil kertas kecil itu yang jatuh di bawah bangkuku. Kubaca, Beres.
Lalu kuremas kertas itu dergan tangan kiri.
Tapi, Pak Rustam sekarang ada di samping mejaku, tahu kalau aku *** sebuah kertas kecil yang pasti dia pikir contekan.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
__ADS_1
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang