Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Konser Sekolah


__ADS_3

Tapi ternyata itu tidak terjadi.


Band – band sekolahku ternyata lumayan juga walau ada satu dua grup band yang suara vokalisnya beda nada dasar dengan musik yang dimainkan. Lapangan di tengah sekolah penuh sesak dengan anak – anak yang memakai seragam putih abu – abu.


Teman – teman sekelasku dengan sukarela menawarkan diri menjadi sie. Keamanan yang langsung saja disetujui OSIS. Mereka menutup pintu lapangan parkir, menutup gerbang sekolah sehingga tidak ada yang bisa keluar sampai memasang peringatan tidak boleh meninggalkan tempat sebelum acara selesai. Semua itu mereka lakukan supaya aku tidak kehilangan penonton waktu aku tampil nanti.


“Ayo tangannya semua di atas !!!!” teriak seorang vokalis dari band kelas dua. Anak ini PD juga. Dia meloncat – loncat dengan mike di tangan kirinya


“Yo … yo … yo … man. Say ho ….” Kami semua dengan lantang berteriak “Hoooooooo,”


“Say ha ….” Lalu seperti dikomando “Haaaaaaaaaaaaaa,”


Semua jingkrak – jingkrak tidak karuan waktu matahari mulai meninggi, hampir tegak lurus dengan kepala.


“Sophie !!! Gak usah ikut teriak – teriak. Nanti suaramu habis !!!” kata Diki keras. Aku mengerti segala usaha yang teman – teman lakukan buatku. Tidak akan kubuat mereka kecewa.


Aku berjalan ke pojokan sekolah sambil kukuncir rambutku karena udara terasa semakin panas. Di pintu gerbang kulihat Dita dan Sita sedang berusaha mencegah beberapa cewek dan cowok yang ingin ngabur. Tampaknya usaha mereka cukup berhasil walaupun cowok – cewek yang ingin ngabur itu kelihatan bersungut – sungut. Aku lambaikan tanganku pada mereka berdua sambil berteriak


“Trims yah !!!!” bersamaan mereka membuat tanda OK dari tangannya.


Kulihat beberapa cewek mulai lemas dan sibuk mengusap pipi mereka yang mengkilap karena keringat. Tapi itu bukan berarti acara jingkrak – jingkrak bersama sudah selesai. Mungkin anak – anak SMU sepertiku punya tenaga yang berlebihan dan saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menyalurkannya.


Lama – lama, jingkrakan mereka yang semula tinggi pelahan – lahan rendah dan lama – lama mereka hanya menggoyangkan badannya. Bahkan beberapa saat kemudian, mereka seperti tidak peduli lagu apa dan siapa yang sedang tampil. Kalau ada vokalis yang berkata “Mana suaranya ?!!!!” dengan semangat, malas – malasasan mereka berteriak “Yeeeeee,” sekenanya, tidak berapa semangat.


Di gerbang depan mulai terlihat Dita dan Sita yang semakin sibuk mencegah orang keluar.


“Butuh bantuan ?!” teriakku.


“Kamu gak usah ke sini,” teriak Sita.


“Panggil aja cowok – cowok kesini !” tukas Dita.


Aku pergi ke lapangan tengah mencari Diki. “Dik, Dita Sita butuh bantuan tuh. Mereka butuh cowok – cowok,”


Tidak banyak bicara, Diki menggunakan daya solidaritas khas cowok mengerahkan teman – teman yang cowok hingga Dita dan Sita bisa bernapas lega. Aku kembali ke pojokan sekolah sambil memeriksa gitarku. Memastikan semua senarnya berbunyi dengan benar. Meskipun tidak begitu besar, tapi hatiku mulai was – was.


“Dua grup lagi Soph,” Nino mendatangiku. Aku sadar kalau aku sekarang tidak sedang akan menyanyi di Toebroek. Tidak akan ada Kak Frans atau Nenek yang membantuku kalau aku kesulitan. Aku jadi sakit perut dan deg – deggan luar biasa. Rasanya lebih baik mengerjakan soal Fisika Pak Rustam daripada harus menyanyi di depan teman – teman sekolahku yang lain. Aku bisa bayangkan, kalau penampilanku nanti buruk, anak – anak dari kelas lain akan mencibirku sebagai orang yang tidak tahu potensi diri sendiri sehingga memalukan nama sekolah.


“De !!!,” aku panggil Dede yang sedang duduk di bawah pohon beringin sambil menyeruput sebatang es mambo, tidak memperhatikan band yang sedang tampil.

__ADS_1


“Aku sakit perut,”


Dede membelalakkan matanya. “Yah cepat sekarang,”


Berdua kami berlari ke kamar kecil. “Harus cepat. Sebentar lagi kamu tampil !”


Aku berdiri saja dalam kamar kecil tidak tahu harus berbuat apa.


“Sudah belum Soph ?” suara Dede kelihatan cemas. Aku bingung harus menjawab apa. “Sophie ? Kamu tidak apa – apa khan ?” aku diam saja.


Dede diam sesaat dan kemudian “Sophie !!! Kamu gak sedang sakit perut. Kamu mau menghindar khan ?!”


Pelan – pelan aku buka pintu kamar kecil dengan wajah yang pucat. “Aku nervous banget,” aku terkejut mendengar suaraku yang bergetar.


Dede menarik tanganku kencang. Dia membawaku melongok Diki dan para cowok yang sedang kepanasan dan kelelahan melarang anak – anak yang akan keluar sekolah. Kemudian Dede membawaku ke beberapa poster besar bertuliskan “DILARANG KELUAR SEBELUM ACARA SELESAI” yang sudah dengan susah payah dibuat teman – temanku.


“Apa kamu tega ?!” mata Dede memandangku tajam. Aku menggeleng setengah hati.


“Kalau begitu kamu harus tampil sekarang.”


Aku dan Dede berjalan ke belakang panggung ketika band terakhir sedang manggung tanpa perhatian dari penonton. Setelah sang vokalis berkata “Terimakasih buat perhatian kalian semua. I love you,” tidak terdengar suara gemuruh tepuk tangan. Sudah waktuku. Aku ambil nafas panjang. Aku atur pelan – pelan. Seandainya saja ada Nenek di sini, dia pasti akan memberiku segelas toebroek.


Tanganku basah waktu kuusap senar gitarku. Aku butuh sebuah keajaiban. Aku butuh Nenek. Aku butuh Kak Frans….


“Sophie, jangan melamun !” lagi – lagi Dede berteriak dari bawah panggung. Aku lihat wajah teman – temanku satu persatu. Aku ada di sini buat mereka. Mereka telah melakukan banyak hal. Mereka tidak boleh kecewa. Tapi aku tidak bisa bersuara.


“Ayo Sophie !!” Dita dan Sita memberi semangat. Suaraku sudah hilang tapi tanganku yang basah masih bisa berteriak. Aku harus keluar dari keadaan ini. Harus ada sebuah keajaiban seperti yang dibuat Nenek dan Kak Frans ketika mereka menyanyi bersama sampai – sampai tidak ada mata yang mengacuhkan mereka.


Kupasang jari tangan kiriku di Em. Kumainkan Romance de Amor, yang mirip sekali dengan sejenis nada panggil di beberapa handphone teman – temanku. Pelahan – lahan, penonton yang semula acuh atau bicara sendiri mulai diam memperhatikan aku. Kepala mereka semua mendongak melihatku. Badanku yang tadinya dingin mulai kurasakan hangat. Darah yang semula seperti berhenti sekarang mengalir pelahan membuat perasaanku menjadi lebih baik.


Beberapa orang terlihat mengeluarkan handphonenya. Mungkin mereka ingin memeriksa apakah melodi yang sedang kumainkan memang benar – benar sama dengan  nada panggil mereka atau tidak. Selanjutnya kulihat muka mereka sedikit tersenyum. Aku sudah dibagian akhir Romance de Amor dan senar terakhir, senar nomor 1, 2, 3 dan 6 kupetik bersamaan. Waktu kudongakkan kepalaku, kudengar suara tepuk tangan yang meriah. Tubuhku bertambah hangat, sangat nyaman.


“Lagu selanjutnya khusus untuk teman – teman saya,” aku berkata lembut. Tanganku membetulkan posisi mike yang agak miring ke kiri supaya pas dengan posisi mulutku.


Sudah tidak lagi kulihat wajah bersungut – sungut atau bosan dengan tatapan mata kosong waktu aku memainkan gitarku di Am dan E7 sebagai intro. Keajaiban itu telah terjadi. Keajaiban yang tercipta dari dukungan teman – temanku.


Aku menganyikan You’ve got friend dari Mc. Fly.


__ADS_1


if the sky above you grows dark and full of clouds


and that old north wind begins to blow


keep your head together, and call my name out loud,


soon you’ll hear me knocking at your door.



“Kita nyanyi sama – sama yah,” kataku masih dengan memetik gitar. Aku sampai merinding dan mataku berkaca – kaca ketika kami sama – sama bernyanyi,



You just call out my name, and you know where I am,


I’ll come running to see you again


Winter, spring, summer or fall, all you have to do is call


And I’ll be there, yes I will



Setelah G7 aku pindahkan jari – jari kiriku ke C sebagai penutup. Sama sekali tidak ada yang bertepuk tangan ketika aku berdiri. Begitu aku turun, gemuruh itu baru kudengar. Beberapa ada yang memanggil – manggil namaku “Sophie … Sophie !!!” lega rasanya. Di bawah panggung sudah lengkap berdiri teman – teman sekelasku dengan wajah bangga. Mereka menyambutku seperti seorang pahlawan. Semuanya tidak akan bisa terjadi kalau tidak karena mereka.


“Kalau kalian mau datang ke Toebroek nanti malam, kalian bisa mendapat tobroek gratis dari Nenekku,”


Dan begitulah jadinya. Nenek dan Kak Frans sangat antusias mendengar ceritaku di sekolah. Dengan senang hati Nenek membuatkan tobroek special buat teman – temanku dan berarti aku harus mencuci lebih banyak cangkir kotor. Tidak masalah, aku suka.


Dan malam itu aku kembali buka jendela kamarku memandang langit lepas. Memainkan gitarku sebentar dan melihat Hardin yang berjalan tergesa – gesa di samping kebun apel. Aku senang, tapi aku lelah. Aku mau tidur. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1


__ADS_2