Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Ih, norak …


__ADS_3

Aku bangun pagi dengan hidung mampet ! Mungkin ini adalah hasil dari kejebur kolam semalaman. Kak Frans terdengar sudah bekerja di kebun apel dengan Fernando, yang pasti sedang duduk di salah satu dahan favoritnya bernyanyi menyambut pagi dalam bahasa burung.


Sepertinya, pagi ini akan mengawali hariku yang indah. Tapi aku merasa ada yang aneh, tidak pas. Seperti kalau kalian merasa melupakan sesuatu tapi tak tahu apa itu.


Fernando berhenti bernyanyi ketika kubuka jendela kamarku yang menghadap kebun apel.


“Selamat pagi Fernando !”


Fernando mendongak sesaat kemudian bernyanyi lagi. Tidak biasanya dia cuekin aku seperti itu.


“Fernando lagi sombong nih. Kak Frans sudah cuci – cuci belum ?”


“Sudah. Mesin cucinya lagi kosong tuh,” jawab Kak Frans sambil membersihkan pohon apel dari daun yang telah mati.


Aku lekas – lekas turun ke bawah dengan ember besar penuh cucian, melewati tangga kayu yang berbunyi waktu ada orang berjalan di atasnya.


Hari minggu ataupun hari yang lain, bukan alasan buat setiap penghuni Toebroek untuk bangun siang. Hari minggu sudah ditetapkan, secara tidak langsung, sebagai hari bersih – bersih nasional. Mulai dari mencuci pakaian yang menumpuk sepanjang minggu, mengelap mebel, membersihkan karpet sampai mengepel lantai. Aku bersyukur manusia telah menemukan teknologi yang bernama vacuum cleaner dan mesin cuci. Aku bayangkan kalau aku hidup sekitar seratus tahun lalu, pasti aku akan masuk dalam jajaran para gadis yang memakai kain panjang sebatas dada dan mencuci baju di sungai. Kedengarannya sih feminim, tapi aku akan lebih memilih celana pendek dan kaos oblong.


Mesin cuci mulai berjalan ketika aku pencet tombol on setelah kumasukkan pakaianku plus air dan deterjen. Mesin cuci berputar yang mengeluarkan bunyi seperti kucing sedang menggeram. Dengan langkah yang ringan di tengah udara segar, aku pergi ke Toebroek dengan selembar kain lap di pundakku. Aku gosok meja dan kursi di Toebroek pelan – pelan sambil memikirkan Kak Frans.


Sulit membuat pamanku itu marah pada seseorang. Selama ini jarang sekali aku lihat dia marah sampai berkata – kata kasar seperti kemarin malam. Paling – paling dia akan diam kalau ada sesuatu yang menyinggung hatinya.


Kalau tidak salah, Kak Frans kemarin marah karena Papa Dodo sudah punya istri ?! Memang apa salahnya kalau seorang cowok yang sudah matang punya istri !? Rasanya aneh Kak Frans marah pada sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu.

__ADS_1


“Sophie … maling !” tiba – tiba saja Fernando sudah berdiri di dekat kakiku.


“Burung sombong. Aku tadi dicuekkin” aku tetap mengelap meja dan kursi.


“Sophie … maling !” kali ini Fernando berkata sambil mematuk kakiku.


“Apa sih Fernando ?! Maling ? Maling apaan ?! Pagi – pagi begini mana ada maling. Lagian juga khan Kak Frans ada di kebun sekarang.”


Fernando berjalan berputar – putar sambil mengibas – ngibaskan sayapnya. Sepertinya dia sedang gemes karena aku tidak juga mengerti apa yang mau dia katakan.


“Malam … maling … !” teriak Fernando akhirnya. Aku terkejut, mungkin Fernando mau mengatakan kalau ada pencuri apel kemarin malam. Segera saja aku berlari ke kebun apel, ke Kak Frans.


“Kak, kemarin ada maling gak ?”


Kak Frans menoleh padaku dengan wajah heran, “Sepertinya gak tuh Soph. Pagarnya gak ada yang rusak,”


“Apel masih kecil begini mau dicuri apanya ?” jawab Kak Frans sambil melanjutkan pekerjaannya di kebun apel.


“Burung nakal,” kataku sambil menghampiri Fernando yang sedang mematuk jagung di lantai Toebroek. Tidak lagi aku mendengar suara mesin cuci menggeram. Aku berlari ke tempat mesin cuci dan menemukan kalau mesin cuci itu telah berhenti berputar. Aku pasang slang di lubang pengeluaran untuk mengganti airnya. Sudah waktunya pakaianku dibilas. Kembali ku tekan tombol on dan berlari lagi ke Toebroek. Nek Irma dan Nenek kelihatan berjalan beriringan memakai baju senam. Setiap minggu pagi mereka senam bersama di depan stadion.


“Kau mempesona banyak orang semalam Sophie ?” tanya Nek Irma begitu tahu aku ada di Toebroek.


“Ah Nek Irma. Tidak sehebat itu. Memangnya Nek Irma tahu dari mana ?”

__ADS_1


“Siapa lagi yang cerita kalau bukan Nenekmu,”


Aku memandang sekilas kepada Nenek yang sedang berjalan masuk sambil menjinjing seplastik besar sayuran. Nenekku bukan orang yang suka bergosip atau membicarakan sesuatu hanya sebagi basa – basi kecuali dia …. Kecuali dia … bangga !!!! Wah, mataku sampai berkaca – kaca menyadari kalau Nenek sebenarnya bangga padaku.


Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Nek Irma membuka topi putihnya dan mengipas – ngipaskannya untuk menghilangkan gerah. Fernando sudah pergi entah kemana. Mungkin berjalan – jalan di sekitar rumah atau kebun apel sambil menyadari betapa nyamannya hari ini. Tiba – tiba saja perasaan aneh itu muncul lagi. Perasaan bingung seperti ada sesuatu yang ketinggalan tapi aku tidak tahu apa seperti yang kurasakan pagi ini. Lalu untuk kedua kalinya aku dengar kalau mesin cuciku tidak lagi menggeram. Aku pergi mengambil ember besar dan mengeluarkan baju – baju setengah basahku ke dalamnya. Membawanya kesamping rumah, ke tempat jemuran. Menggantungnya di tali jemuran lalu memberi jepit supaya tidak jatuh kalau tertiup angin yang agak kencang.


Setelah selesai, aku berjalan ke kebun apel sambil menendang – nendang kerikil di depan kakiku. Aku berpikir setengah mati, apa ada sesuatu yang lupa kulakukan. PR Fisika dari Pak Rustam mungkin ? Tidak mungkin, aku sudah mendapat contekan dari Vieri yang sekarang sedang lengket dengan peramal kelas, Jenny.


“Sophie …. Maling …. Maling !!!” Fernando berteriak keras ketika aku dapati Hardin berjalan di samping kebung apel sambil sesekali memandangku. Mendadak, secara pelahan aku mulai mengerti apa yang menyebabkan perasaan aneh itu muncul sepanjang pagi ini.


Lebih aneh lagi ketika kulihat dengan gerakan yang tampak di sengaja, Hardin mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya, menjatuhkannya di tempat yang sangat bisa aku lihat, kemudian cepat – cepat pergi. Bukan kepergian yang mulus memang karena beberapa langkah kemudian ada satu bunyi GEDUBRAKKK dan suara “Aduh !!!!!” milik Hardin yang cepat – cepat berdiri dan berjalan lagi. Meninggalkan aku yang sedang bengong dan bertanya – tanya apa yang Hardin mau sebenarnya.


“Sophie … maling … maling … malam,” kata Fernando dengan suaranya yang serak.


Aku menerka – nerka apa yang ingin dikatakan Fernando sebetulnya. Aku tahu sekarang yang dimaksudkan sebagai maling oleh Fernando adalah Hardin. Tapi malam ?!! Apa pula itu maksudnya.


“Ahhh !!!” aku berteriak kemudian menutup mulutku dengan tangan takut teriakanku didengar Nenek atau Kak Frans yang sekarang sudah tidak lagi di kebun apel. Aku tidak mau dia mengira aku kejebur kolam lagi untuk kedua kalinya sepanjang minggu ini.


Pasti yang Fernando maksudkan adalah kemarin malam Hardin mondar – mandir di samping kebun apel. Sedikit GR aku memberanikan diri berpikir kalau selama ini dia berjalan tergesa – gesa di samping kebun apel ketika aku menutup pintu jendelaku pasti karena dia ingin melihat walau cuma sebentar. Aku tersanjung. Aku senang karena menyadari kalau aku sudah menemukan apa yang lupa kulakukan kemarin malam. Perasaan aneh itu kini hilang. Tapi kini aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan sesuatu yang dia jatuhkan (yang 99 % aku yakin pasti untukku)


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2