
Nenek datang dengan empat cangkir toebroek yang masih mengepulkan asap. Cocok sekali menjadi teman ngobrol ketika dingin telah merayap turun dari Gunung Panderman. Cowok tinggi yang bernama Stan itu mendekatkan secangkir toebroek ke hidungnya. Mengendusnya kemudian sedikit demi sedikit menghirupnya panas – panas.
“Rasanya aku jatuh cinta,” katanya dengan mata berbinar.
Nenek tertawa kecil, “Biasa saja anak muda. Aku tidak merasa toebroek punya efek sehebat itu.”
“Saya tidak bercanda Nyonya. Belum pernah saya merasakan kopi seenak ini.”
“Baiklah, terimakasih kalau begitu. Tapi jangan kau panggil aku Nyonya. Sebutan itu terlalu berlebihan,”
“Saya harus panggil apa kalau begitu ?” Stan bertanya sambil menghirup aroma toebroek dengan hidungnya yang runcing.
“Kau boleh panggil aku Tante kalau mau.”
“Baiklah. Kopinya enak sekali Tante,”
“Terimakasih Nak,”
Aku pikir, Stan adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa dengan cepat bergaul akrab dengan banyak orang. Dengan penampilan yang trendi dan tutur kata yang memikat, siapa yang tidak suka bergaul dengan dia.
“Langsung saja Stan. Kau ingin berbicara dengan Sophie khan ?”
“Ah iya. Toebroek sangat nikmat sampai aku hampir lupa tujuanku kesini,” katanya mencoba berkelakar. “Begini Sophie. Dari beberapa orang, aku mendengar bahwa ada keajaiban baru di toebroek ini.” Stan meletakkan cangkir toebroek di meja kemudian merogoh kantung sakunya untuk mengeluarkan sebatang rokok.
“Ehem … ehem,” Nenek berdehem kecil. Nenek tidak terlalu suka pada orang yang merokok. Kak Frans memberi tanda pada Stan untuk tidak merokok melalui matanya.
“Ah maaf,” ujar Stan sambil memasukkan kembali rokok yang dia pegang ke dalam bungkusnya. “Tidak hanya itu, kau tahu Nando khan ?” tanya Stan memandangku.
“He … eh,” aku anggukkan kepala.
“Dia bilang padaku kalau permainan gitarmu sudah lumayan walaupun tidak sempurna. Selain itu, Frans,” dia berhenti sejenak sambil memandang Kak Frans, “bilang kalau kau punya sesuatu dalam dirimu. Seseuatu yang sudah kamu bawa sejak lahir yang bahkan Frans atau Nenekmu tidak punya,”
“Iya. Sophie mewarisi karisma Mamanya,” ujar Nenek dengan nada bangga.
“Tidak semua orang punya hal itu Sophie. Banyak orang ingin memilikinya dengan bersusah payah. Tapi kau, tanpa susah payah sudah kau dapat karisma itu dari lahir. Orang seperti kamu punya masa depan yang cerah.” Kali ini Frans menghentikan ucapannya dengan tatapan mata tajam kearahku. Seakan – akan dia ingin menekankan sesuatu padaku.
“Sorry. Aku masih belum mengerti.”
“Kau tahu apa pekerjaanku Sophie ?” tanya Stan sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Aku menggeleng.
“Aku ini seorang menejer. Aku bisa mendapatkan job menyanyi untukmu dan Frans. selain itu, kalau kita beruntung aku siap mengorbitkanmu menjadi seorang bintang.”
Mendengar kata ‘bintang’ keluar dari mulut Stan, rasanya mataku berkunang – kunang dan hatiku melonjak kegirangan. Sudah sering aku bermimpi bernyanyi di atas sebuah panggung besar lengkap dengan tata cahaya yang indah. Mendengar suara tepuk tangan yang bergemuruh dan merasa bahagia. Mungkin aku nanti bisa meminta magenta orchestra untuk mengiringiku bernyanyi. Mungkin semuanya itu tidak akan hanya menjadi mimpi.
“Bagaimana Sophie ?” pertanyaan Frans membuyarkan lamunanku. Aku ragu untuk mengatakan ‘ya’ secara langsung. Aku memandang Nenek, meminta persetujuannya. Dan sepertinya, tanpa kukatakanpun Nenek seakan – akan mengerti keraguanku.
__ADS_1
“Stan, kau tahu khan kalau Sophie masih sekolah ?” suara nenek terdengar menentramkan.
“Ya Tante, saya sudah pikirkan itu,”
“Lalu ?” tanya Nenek lagi.
“Saya akan pastikan kalau Sophie nanti akan menyanyi hanya pada hari Sabtu dan hari libur,”
“Bisa kau pastikan itu ?”
“Tante bisa pegang ucapan saya,” kata Stan meyakinkan.
“Aku sudah bicarakan hal ini dengan Stan Mami. Aku sudah mendapat jaminan dari dia tentang hal ini. Lagi pula, Sophie tidak akan menyanyi sendiri. Aku juga akan menyanyi dengan dia. Tentu saja kalau Sophie mau,” Kak Frans menimpali.
“Sekarang semuanya terserah Sophie kalau begitu,” Nenek menoleh ke arahku. “Bagaimana Nona kecil ?”
“Kalau Nenek mengijinkan dan Kak Frans tidak keberatan. Sophie sangat senang menerima tawaran ini,” ujarku senang hati. Rasanya aku sedikit demi sedikit meraih hal yang selama ini hanya bisa aku impikan.
“Kamu masih muda Nona Kecil. Kesempatan jarang datang dua kali. Kau mengerti itu khan ?
Sekali lagi aku mengangguk senang.
Malam mulai datang ketika obrolan itu berakhir. Beberapa pelanggan mulai datang sehingga aku kembali sibuk membantu di Toebroek. Seperti biasa Pak Suko datang dengan Nek Irma. Mereka tampak lebih mesra. Ada juga satu dua pengunjung yang baru kali ini aku lihat. Juga ada seorang bapak yang selalu datang membawa laptop. Kata Kak Frans, bapak itu adalah seorang penulis yang selalu mendapat mood untuk menulis kalau sedang ada di Toebroek. Aku jadi bangga mengetahui kalau Toebroek sudah menjadi tempat yang nyaman untuk banyak orang.
“Bapak ingin saya menyanyi ?” tanyaku masih dengan nampan di tanganku.
“Tentu saja. Aku dulu juga duduk di sini ketika Mamamu menyanyi,”
“Bapak pernah melihat Mamaku menyanyi ?” tanyaku heran. Aku tidak kenal begitu baik dengan Bapak ini. Seingatku, sejak pertama kali aku membantu di Toebroek, Bapak ini sudah sering ada di sini. Tapi aku jarang ngobrol dengannya karena dia selalu terlihat sibuk menulis.
“Mamamu adalah seorang penyanyi yang mengagumkan. Aku rasa, kau mewarisi bakatnya,”
“Terimakasih. Semoga saja saya benar – benar mewarisi bakatnya,”
“Tapi kau sedikit lain Nak. Kau punya karisma yang berbeda. Karena itu kau selalu menjadi dirimu sendiri ketika kau menyanyi. Tidak terpengaruh siapapun. Bahkan Frans dan Nenekmu.”
“Terimakasih. Saya belum tahu nama Bapak.”
“Tom, panggil saja Pak Tom. Kau jadi menyanyi khan ?”
“Tentu saja saya akan menyanyi.”
Aku berjalan menuju Nenek yang sedang menghitung uang di meja kasir. “Banyak yang pesan toebroek Nek ?”
“Lumayan. Tangan Nenek sampai pegal. Kau ingin menyanyi ?”
__ADS_1
Aku mengguk dan mengambil gitarku. Aku telah menciptakan satu lagu yang telah kulatih dengan Kak Frans. Tanpa bantuan Kak Frans, laguku tidak akan menjadi enak didengar.
“Kau siap Sophie ?” tanya Kak Frans yang telah duduk di kursi tinggi sedikit di belakangku. Aku mengangguk lalu mulai memetik gitarku.
…
Samar – samar sanggup kudengar
Waktu kau mainkan gitarmu ketika malam
Ketika bulan sedang menyala bundar
Dan langit cerah karena bintang
Suara gitarmu berdenting
Jarimu menari diatas gitar
Menyanyikan lagu sayang
Supaya aku dapat lelap tertidur
Dalam pelukan cintamu
…
Ketika aku telah selesai menyanyikan laguku, baru ku sadar kalau Nek Irma menyeka matanya yang basah. Tampak Pak Suko menepuk punggung Nek Irma sabar. Nenek memandangku dengan mata berkaca – kaca,
Menyanyi dengan hati Sophie. Itu yang penting
Tiba – tiba Stan berdiri dengan tissue di tangan kirinya. Tampak ujung hidungnya memerah.
“Sophie, kau benar – benar hebat,” katanya keras. Semua yang ada disana sepertinya setuju dengan apa yang dikatakan Stan. Mereka bertepuk tangan dengan keras, membuat wajahku panas karena malu.
“Benar khan Sophie. Aku tidak salah. Kau benar – benar punya sesuatu dalam dirimu yang bahkan aku maupun Nenekmu tidak punya. Kamu membuatku iri,” Kak Frans berbisik di dekatku sambil mengusap – usap rambutku.
Hari ini berlalu sangat baik untukku. Ketika pekerjaan di Toebroek sudah selesai, aku kembali masuk kamarku. Menyanyi sebentar dengan gitarku dan melihat Hardin yang berjalan terburu – buru ketika aku hendak menutup jendela kamarku. Rasanya, setiap malam yang aku lalui tidak akan lengkap tanpa melihat Hardin berjalan terburu – buru di samping kebun apel. Selamat malam.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1