Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Help me Please!


__ADS_3

“Kamu harus cepat datang,” kataku pada Dede di telpon. Aku sedang ada di kamar, melihat keluar dari jendela dengan HP di tangan kanan.


“Ada apa ? Aku lagi sama Nando nih,” kata Dede gusar, seperti tidak rela. Aku mengerti, begini ini rasanya kalau punya sahabat yang sudah punya pacar. Dulu Dede selalu ada waktu kubutuhkan, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda.


“Dede, please” suaraku memelas. Kudengar di seberang sana Dede menghela napas panjang. Aku jadi benar – benar mengerti. Aku bukan pengemis. “Ehhhh …. De gak apa – apa. Aku ngerti. Kamu gak usah datang deh, mungkin lain kali saja,” lalu aku menutup HPku dengan lemas.


Seseorang yang aku harapkan ternyata tidak bisa membantu.


Aku turun kembali ke kebun apel. Melewati pintu kecil di pagar kebun, dan berjalan beberapa langkah di samping kebun apel sampai aku melihat ‘sesuatu’ itu. Warnanya putih, sebuah amplop. Aku jadi teringat cerita Dede dan Nando tempo doeloe. Saat itu Nando menjatuhkan surat untuk Dede yang bilang kalau Nando mau pergi. Sejak saat itu Nando tidak pernah muncul lagi di jalan kecil di samping rumah Dede.


Jangan – jangan, Hardin juga mau pergi. Tapi apa urusannya dengan aku ? Kenapa aku jadi gelisah seperti ini ?


“Bodoh,” kataku pada diriku sendiri kemudian berjalan kembali ke kebun apel lewat pintu kecil meninggalkan ‘sesuatu’ itu.


Di salah satu dahan apel, Fernando sudah duduk melihatku dengan tatapan yang membuatku merasa tidak enak hati, “Sophie … maling … malam … malam,”


Aku jadi merasa bersalah. Hardin, cowok itu sudah berusaha mencari malam kemarin. Dan malam – malam sebelumnya, aku selalu merasa tidak lengkap tanpa melihat dia berjalan terburu – buru waktu aku menutup jendela kamarku.


“Kamu ingin aku ambil ‘sesuatu’ itu Fernando ?”


Fernando tidak berkata apa – apa. Tapi kurasa dia ingin memang aku mengambilnya. Aku berbalik lagi menuju tempat ‘sesuatu’ itu berada. Masih tergeletak di sana dan sedikit basah di ujung  ujungnya. Mungkin terkena embun pagi yang belum sempat menguap. Aku bungkukkan badanku, menjulurkan tanganku hendak mengambil ‘sesuatu’ itu.


“Sophie !!! “ suara Nenek keras memanggil, membuatku punya alasan untuk tidak mengambilnya.


“Jangan menatapku seperti itu Fernando. Tahu khan, itu bukan urusanku,” aku berjalan melewati Fernando tanpa melihat ke arahnya.


“Ada apa Nek ?”


“Kamu tidak lupa dengan karpet di Toebroek khan ?” Nenek mengingatkanku. Dia sedang mengiris beberapa wortel, memanjang bentuk korek api.


“Sorry, Sophie tadi lupa,” kataku sambil berjalan ke Toebroek dengan membawa vacuum cleaner.

__ADS_1


Dengan sepenuh hati aku bersihkan karpet Toebroek. Aku ingin, semua orang yang nanti menggunakan karpet ini akan merasa nyaman tanpa diganggu bau apek atau kutu yang berjalan – jalan nyaman di atasnya.


Ternyata, membersihkan karpet tetap tidak bisa menghilangkan rasa penasaranku. Bagaimana kalau nanti ‘sesuatu’ itu diambil orang ? Bagaimana kalau nanti ‘sesuatu’ itu diinjak orang – orang yang lewat, bagaimana kalau alas kakinya berlumpur ? Bagaimana kalau nanti dimakan kerbau ? Apa juga isinya?


Kalau isi amplop itu memalukan buat diriku sendiri misalnya, tidakkah lebih baik kalau aku mengamankannya sebelum orang lain menemukannya?


Cepat – cepat aku menyelesaikan pekerjaanku dengan karpet. Setelah meletakkan vacuum cleaner di tempatnya semula, aku kembali pergi ke jalan kecil di samping kebun apel. Aku berlari – lari kecil takut segala dugaan burukku benar – benar menimpa ‘sesuatu’ itu.


Dan ‘sesuatu’ itu sudah tidak ada di sana !!!


Aku cari – cari ke semak – semak di sekitarnya. Apa mungkin tertiup angin ? Atau malah diambil anak kecil. Bodoh … bodoh …, kenapa tidak aku ambil dari tadi. Sebenarnya sederhana saja khan ? HANYA MENGAMBILNYA ! Kenapa tidak kulakukan ? Bagaimana kalau isinya adalah sesuatu yang penting ? Apa yang nanti Hardin pikirkan tentangku kalau aku sampai tidak mempedulikan ‘sesuatu’nya itu.


Aku cari kesana – kemari sampai aku lelah. Aku putus asa. Lebih baik aku pergi ke kamar saja bermain gitar. Biar rasa gelisahku hilang.


Tepat di pintu dapur, aku bertemu dengan Fernando. Bukan Fernando biasa. Fernando special karena di paruhnya dia memegang sesuatu itu !!! Ingin sekali aku mengambilnya, tapi aku malu. Gengsi sama Fernando. Karena itu dengan bodohnya kukatakan,


“Fernando, itu lagi … itu lagi. Sudah buang aja deh,” rencanaku sih, kalau Fernando sudah membuangnya, nanti akan aku ambil lagi. Pintar bukan ??? dengan cara ini, aku tidak perlu malu apalagi gengsi pada Fernando.


“Kalau tidak mau kamu buang, yah …. Terserah kamu Fernando,” kataku berlagak cuek melewatinya. Tapi Fernando bukanlah burung beo yang cepat menyerah. Dia berjalan terus membuntutiku.


“Fernando bawa apa itu ?” tanya Kak Frans di ruang tamu.


“Gak tahu tuh Kak. Fernando bawa – bawa sampah. Padahal gak biasanya loh, dia suka bawa – bawa sampah,” kataku berbohong.


“Kok seperti surat ?” Kak Frans berjalan mendekat hendak mengambil ‘sesuatu’ itu dari paruh Fernando.


“Eh …. Jangan Kak !” aku setengah berteriak. Kak Frans urung mengambil ‘sesuatu’ itu dari paruh Fernando.


“Kenapa memang ?” Kak Frans berkata dengan wajah heran. Aku jadi terkesiap bingung memikirkan alasan apa yang akan aku katakan.


“Eh …., Sophie yang kasih Fernando surat itu. Siapa tahu suatu saat nanti Fernando bisa jadi burung pengantar surat. Seperti merpati pos gitu,” kataku.

__ADS_1


“Oh …..,” itu saja yang Kak Frans katakan.


Aku melanjutkan berjalan menuju kamarku. Fernando masih membuntutiku.


“Fernando, apa kamu akan memegangi itu selamanya ?” tanyaku pada Fernando setelah pintu kamarku kututup. Fernando masih tetap memain – mainkan amplop yang ada di paruhnya. Sepertinya dia sengaja membuatku penasaran dengan isiny. Tapi Fernando, burung beo nakal ini punya satu kelemahan yang tidak akan pernah dia tolak.


“Wih, ada jagung. Siapa yah yang mau jagung? Jagungnya montok – montok lagi. Warna kuning, ranum. Pasti rasanya enak,” kataku sambil menunjukkan segenggam penuh jagung ke muka Fernando.


Betul saja, langsung Fernando membuka paruhnya, menjatuhkan amplopnya dan segera menyambar jagung yang ada di tanganku.


Ku pandangi saja amplop itu. Sebelum ini, aku tidak pernah memikirkan Hardin. Kenal saja tidak. Bicara saja Cuma sekilas. Entah apa yang merasuki, aku jadi berpikir dia karena amplop ini. Aku terka – terka apa isinya. Apa mungkin sama dengan surat Nando pada Dede ?


“Fernando, aku tidak berani membukanya,”


Fernando menggembungkan dadanya mengambil nafas panjang. Paruhnya penuh dengan jagung.


“makan pelan – pelan,” kataku.  


Sudah hampir jam sebelas sekarang. Tidak terlalu panas meskipun matahari sudah tinggi. Tiba – tiba, pintu kamarku dibuka seseorang tanpa mengetuknya lebih dulu.


“Ada apa sih ?” tanyanya.


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie



Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1



__ADS_2