Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Sebuah Surat


__ADS_3

“Kamu gak sama Nando ?”


“Ada tuh di luar, lagi sama Kak Frans,” kata Dede duduk di ranjangku.


“Katakan padaku sekarang ada apa ?” tanya Dede lembut. Tidak biasanya dia lembut seperti ini.


Aku jadi terharu. Sahabatku rela memotong waktu pacarannya untukku.


“Kok jadi nangis sih Soph ?” kata Dede kuatir. Aku jadi tambah keras menangis. Rasanya kebingungan yang kualami sepanjang pagi ini tumpah ruah.


“Diem dong ah. Ada apa sih ?”


“Tengkyu kamu mau ke sini, hu … hu ….,”


“Sekali lagi kamu nangis, aku pulang !” kata Dede dengan gaya meledaknya yang tiba – tiba saja kurindukan. Kemudian masih dengan terisak aku tunjuk ‘sesuatu’ dari Hardin yang masih tergeletak di bawah tempat tidurku, di samping Fernando.


“Maling … malam … malam,” kata Fernando.


“Fernando ngomong apa sih Soph ?”


Aku menyeka mataku kemudian menceritakan kejadian yang kualami pada Dede mulai dari aku kejebur kolam kemarin sampai ucapan Fernando yang akhirnya bisa kumengerti ketika kulihat Hardin menjatuhkan sesuatunya itu di jalan kecil di samping kebun apel.


“Lalu apa masalahnya ?”


“Kamu ingat khan, apa yang Nando tulis ketika dia melakukan hal yang sama padamu dulu ?”


Dede diam sesaat. “Nando pergi. dia tidak muncul lagi,”


“Aku takut Hardin menulis hal yang sama,” mataku berkaca – kaca lagi.


“Waktu itu beda Sophie. Waktu itu aku juga suka dia,” Dede diam sebentar seperti menyadari sesuatu, “Yak ampun …. Kamu jatuh cinta yah ?” kata Dede dengan mata berbinar – binar. “Sahabatku telah menemukan jodohnya. Kita berempat bisa nge-date bareng,”


“Ngawur kamu. Mana bisa aku jatuh cinta ? aku berhenti sejenak sambil mempertanyakan diriku apa benar aku jatuh cinta atau suka atau simpatik atau naksir atau apa pada Hardin. Tapi satu hal yang selalu aku ingat adalah aku selalu ingin sekadar melihat wajahnya ketika dia berjalan tergesa – gesa waktu aku menutup jendela kamarku. Seakan – akan, bagian paling menarik yang aku tunggu sepanjang hari dalam hidupku adalah menutup jendela kamarku setelah berlatih gitar dan menemukan Hardin di sana dengan wajah sedang tersenyum. Kalau begitu, apa aku jatuh cinta ?


“Kalau dia benar – benar pergi bagaimana ?” sahutku kemudian.


“Ah … iya yah. Makanya Soph, dibuka dulu ‘sesuatu’nya. Kalau gak kamu buka ? Bagaimana bisa kamu tahu apa isinya ?” Dede berbicara dengan nada sok tuanya.


“Aku gak bernai De !!! Kenapa gak ngerti – ngerti sih ?” kataku sebel.


“OK Deh …. Karena kamu sahabatku Soph. aku akan melakukan ini untukmu,” kata Dede.


Fernando mengambil lagi ‘sesuatu’ itu dari lantai dengan paruhnya kemudian menaruhnya di tangan Dede. Dede usap ‘sesuatu’ itu pelan – pelan. Dia amati bagian muka dan belakangnya.


“Apa tulisannya ?” aku memandang Dede cemas.


“Gak ada apa – apa. Cuma tulisan to Sophie from Hardin. Lagian norak banget sih, jaman segini kok masih ada aja yang pakai cara seperti ini,”

__ADS_1


“Iya .. aku tahu kalau norak. Tapi cepet dong lihat apa isinya ?”


“Sebentar …, gak sabaran amat,” Dede kemudian diam sambil tangannya membuka tutup amplop. Dari dalamnya, dia mengeluarkan kertas yang terlipat rapi.


“Nih,” ujar Dede sambil menyodorkan padaku kertas yang masih terlipat rapi itu.


“Yah bukain dong De, terus bacakan. Masak begitu saja gak berani ?”


“Buka aja sendiri kalau berani !” Dede sewot.


“Aku gak berani !” kataku keras.


“Aku juga,” kata Dede tidak kalah kerasnya.


“Nona – nona, ada apa ?” terdengar suara Nenek dari luar kamar.


“Gak pa – pa Nek,” kataku. Kami berdua duduk lemas menghadapi kertas tidak berbahaya tersebut.


“Aku punya ide,” kata Dede. “Aku buka satu sisi, kamu buka sisi yang lain. Bagaimana ? Adil bukan ?”


Aku mengangguk setuju. Dede membuka satu sisi dengan tangan kanannya. Kertas itu dilipat menjadi tiga bagian. Tinggal satu bagian yang harus kubuka sehingga kami berdua bisa melihat apa isinya.


“Ayo Soph,”


Aku menggeleng lemah.


“Sophie, ini bukan buat aku. Ini buat kamu. Kalau kamu gak berani, mending aku pergi pacaran lagi sama Nando !”


 


Aku selalu mendengar kamu bernyanyi dari kamarmu. Mungkin kamu merasa aneh melihatku berjalan di jalan kecil dekat kebun apel di samping kamarmu setiap malam. Maaf kalau kamu terganggu, tapi aku sangat menikmati lagu yang kamu mainkan. Aku tidak pernah datang ke Toebroek untuk mendengarmu bernyanyi. Takut gugup kalau ketemu kamu. Kata orang, suaramu benar – benar bagus. Dan aku tahu kalau mereka tidak salah.


 


Hardin


 


“Dia itu pencuri apel yang kau ceritakan tempo hari itu khan ?”


Aku mengangguk.


“Katamu dia cakep,”


“Memang,”


“Terus kamu suka ?”

__ADS_1


“Bukan karena dia cakep,” jawabku.


“Kenapa ?”


“Aku gak tahu,”


Dede menghela napas lagi. “Ok deh. Memang tidak ada orang yang tahu dari mana datangnya cinta. Terus sekarang kamu mau ngapain ?”


“Gak tahu aku De,”


“Kamu harus balas suartnya Sophie,” Dede berujar.


 “Tapi bagaimana aku harus menyampaikannya? Kalau sudah aku tulis surat balasan lalu bagaimana ngrimnya?” aku bertanya panic. Aku membayangkan setiap keruwetan yang aku harus hadapi. Kenapa dia tidak kirim WA saja? Mudah bukan?


“Sudah masalah kirim mengirim surat kita serahkan pada Fernando saja.”


“Hah, Fernando?”


“Iya, kecuali kamu mau menahan malu memberikan surat itu langsung pada dia. Bagaimana?”


Aku terdiam mendengar ucapan Dede. Betul juga sih. Burung beo itu mulai sekarang harus melakukan yang aku minta. Aku tidak mau lagi diperlakukannya hanya sebagai cewek pengambil jagung.


Fernando berusaha lari dari kamarku. Dia tahu kalau ada tugas berat yang harus dia lakukan.


“Eit, tidak secepat itu burung beo nakal!” ujarku sambil menangkap ekornya. Fernando meronta – ronta sambiul berkata, “Lepaskan … lepaskan …,” macam burung yang mau dianiaya.


Dede meringis. “Fernando ini lebay banget sih Soph?!”


“Iya, memang gitu itu. Dasar burung nakal,” aku menganggkat Fernando ke mukaku sambil menciumi paruhnya. Burung nakal itu tidak bisa menghindar lagi.


“Sekarang, kamu balas surat itu!”


“Bagaimana caranya Dede?”


“Kamu ambil bolpoin, lalu kamu tulis di atas kertas. Gitu aja masak gak bisa? Nulis surat Sophie … nulis surat …”


“Iya, tapi aku gak pernah menulis surat sebelumnya. Paling banter aku nulis surat resmi di pelajaran Bahasa Indonesia. Lagian jaman sekarang ini kenapa dia mesti milih kirim surat? Kenapa gak WA saja?”


“Sudah pokoknya nulis. Tulis apa yang ada di dalam hatimu. Bilang terima kasih karena dia mau kirim surat ke kamu. utarakan perasaanmu, kasih lampu hijau tapi jangan kegatelan. Ingat, cowok harus mengejar cewek, bukan sebaliknya.”


Aku tidak tahu bagaimana membalas dengan kata – kata yang tepat. Yang tidak norak tapi memberi lampu hijau.


“Bagaimana De ?” 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2