
Hari senin. Andai saja aku bisa tidur barang satu jam lagi. Tidurku kemarin malam tidak terlalu nyenyak. Berkali – kali terbangun dan sulit tidur lagi. Pasti aku akan memimpikan kasurku waktu pelajaran Pak Rustam nanti. Aku harap hal itu tidak terjadi.
Tapi kalian pasti tahu kalau kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan.
“Aduh,” aku terkejut. Bola kertas sebesar genggaman tangan baru saja mampir di kepalaku.
“Kamu gila apa ?!” tanya Dede pelan. Jam terakhir, Pak Rustam masih di depan menerangkan tentang pemuiaian. Ngantuk berat. Mataku sudah membayangkan berbagai macam kasur dengan aneka warna.
“Ngantuk banget nih,” kataku pada Dede sambil menguap.
“Jangan tidur lagi. Nih,” Dede melemparkan sebungkus permen padaku.
“Thanks,” kataku. Aku buka bungkus permen itu di bawah meja sambil mencari – cari kesempatan Pak Rustam lengah sehingga aku bisa dengan lancar memasukkan permen itu dalam mulutku.
“Sophie !” kata Pak Rustam dengan suara beratnya yang membuat permen dalam mulutku hampir – hampir saja keluar.
“Makan apa kamu ?”
O … oh, aku ketahuan. Tapi selalu ada jalan kalau kita punya kemauan khan ?
“Eh … saya gak makan apa – apa Pak,” aku berkata sambil memegangngi sebelah pipiku yang menggembung karena permen.
“Kenapa pipimu ? Bengkak ?” Pak Rustam mendekat. Tumben orang ini, kenapa perhatian sekali ? Apa karena dia tahu aku bakal menjadi penyanyi terkenal suatu saat nanti?
“Iya Pak. Lagi sakit gigi,”
“Tapi itu tidak menghambatmu untuk memperhatikan pelajaran saya khan ?”
Aku menggeleng.
“Bagus. Sakit gigi ataupun sakit – sakit yang lain bukan alasan bagi kalian semua untuk tidak memperhatikan pelajaran saya. Kalian dengar itu ?”
Ternyata aku salah mengira dia perhatian. Dia pasti sedang jengkel dengan sesuatu. Kejengkelan yang terbawa sampai ke tempat kerja dan kami jadi pelampiasannya. Mungkin ban motornya bocor di jalan atau genting rumahnya pecah kejatuhan jambu tetangga.
“Kalian dengar ?” Pak Rustam bertanya lagi setengah berteriak lengkap dengan wajah garang ketika tidak satupun dari kami menjawabnya.
“Dengaaaaaaaaaar Paaaaaaaaaaaak,” jawab semua murid di kelasku serempak, mirip seperti ketika kami menyanyi waktu jam kosong.
“Dengar apa Sophie ?” tanyanya sekalilagi padaku. Aku yang tidak menduga akan adanya pertanyaan tambahan ini jadi terkejut dan …
“Uhuk …. Uhuk ….,” aku batuk sambil memegang – megang tenggorokanku. Aku tersedak permen. Begitu permen masuk dalam mulutku, otomatis aku tidak punya lagi ganjalan untuk menggembungkan pipiku.
“Sepertinya, bengkakmu hilang Sophie,” kata Pak Rustam. Kulihat Dede yang duduk di sebelahku mukanya pucat. Begitu juga teman – temanku yang lain memandangku dengan tatapan mata iba.
“Eh … masih bengkak kok Pak,” aku menggembungkan sebelah pipiku sebaik mungkin. Dita dan Sita kelihatan menarik napas lega.
“Apa yang kamu ketahui tentang pemuaian zat cair Sophie ?”
__ADS_1
“Ehm …..,” aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Ke Vieri dan ke Diki. Ke temanku yang suaranya kecil dan ke peramal Jenny. Mereka semua pada tertunduk lesu mirip orang mengheningkan cipta. Baiklah, aku akan berusaha sebisanya.
“Ehm …. Pemuaian ….,” aku berusaha mengulur waktu.
“Volume,” kata Pak Rustam.
Hah, volume ? Apa maksudnya ? aku jadi teringat ketika aku menganyi dengan Kak Frans dimana aku menyanyi sepotong dan Kak Frans sepotong. Mungkin … mungkin itu maksudnya !
“Pemuaian volume zat cair, ehm ….. “ kataku.
Pak Rustam memandang mataku dengan tangan terangkat seperti dirijen, “Lebih,” katanya lagi.
“Pemuaian volume zat cair lebih besar ?” kataku tidak yakin dan kulihat dia mengangguk seperti berkata ‘yak … yak … terus … terus …’
“Pemuaian volume zat cair lebih besar daripada,” kataku masih tidak pasti, “pemuaian volume …..” aku berhenti lagi karena sama sekali tidak ada ide tentang hal ini,
“zat,” kata Pak Rustam lagi.
“Padat ?”
Pak Rustam mengangguk. “Untuk,”
Untuk apa yah ? Untuk apa aku belajar pemuaian zat padat, zat cair dan zat – zat yang lainnya?
“Untuk apa Sophie ?”
“Betul, bagus. Tidak aku sangka kamu bisa menjawabnya. Coba ulang apa yang sudah kalu katakana tadi,” senyum tipis mengembang di wajahnya.
“Pemuaian zat cair lebih besar daripada pemuaian zat padat untuk kenaikan pada suhu yang sama.”
Bel sekolah berbunyi begitu aku menyelesaikan kalimat itu. Rasanya aku mulai mengerti kalau Pak Rustam tidak membenciku. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan dalam hal ini.
“Tak kusangka kamu bisa menganganinya dengan baik,” kata Dede girang sambil melompat – lompat.
“Aku saja mau mati De. Kamu dijemput Nando ?”
“Kayaknya gak. Dia ada kuliah.”
“Bareng aku nih ?”
“Mau sama siapa lagi Soph ?” tukas Dede centil.
“Soph, aku melihat sinar kebahagiaan menunggumu hari ini,” ungkap Jenny yakin sambil membersihkan buku dan pinsil dari mejanya.
“Kenapa kamu seyakin itu ?”
“Aku khan peramal Soph. Tidak satu dua kali loh ramalanku terbukti benar,”
__ADS_1
“Ayo Jenn !” teriak Vieri yang telah menunggu dari tadi. “Aku duluan yah,” katanya sambil berlalu.
“Yukk,” jawabku serempak dengan Dede.
“Paling tidak Soph, ada satu hal baik yang akan kamu alami hari ini,”
“Kamu percaya ramalan Jenny ?”
“Kamu ingat khan peristiwa Pak Rustam gak masuk dan guru rapat mendadak tempo hari.”
“Ingat … ingat,”
“Percaya saja Soph. Gak ada ruginya kok,”
“Memang sih gak ada ruginya,” saat itu kami berjalan di depan beberapa kelas. Matahari sudah ada tepat di atas kepala. Beberapa temanku yang takut kulitnya hitam sudah siap – siap memakaikan jaket dan topi di tubuh mereka. “Tapi aku tidak mau kalau suatu saat nanti aku ragu – ragu melakukan sesuatu sebelum mendengar ramalan. Tahu khan kamu maksudku ?”
“Memang sih Soph. Kalau aku sih aku ambil funnya aja. Segala sesuatunya itu, kalau keterlaluan memang gak enak. Terlalu banyak garam gak enak, terlalu banyak gula juga gak enak. Terlalu percaya ramalan juga gak enak. Seperti omonganmu tadi.”
“Kamu kok seperti nenek – nenek sih De ?” aku tertawa.
“Nando juga bilang begitu ke aku,”
“Nenekku saja gak seperti kamu. Makanya De, segala sesuatu diambil funnya saja. Terlalu seperti nenek – nenek gak enak, terlalu childish juga gak enak,” tukasku menggoda Dede. “Aduh …, kenapa sih ?” aku meringis sakit karena Dede menimpuk kepalaku.
“Panggilan sebagai Nenek membuatku berhak melakukan itu Sophie,” Dede berlari dan aku kejar sampai kami tiba di pelataran parkir.
Tempat parkir sudah separuh kosong. Aku periksa helmku dan menemukan kalau helmku masih ada disana. Kadang – kadang ada anak – anak usil yang menukar helm bagus dengan yang sudah usang. Kebetulan, helm yang sedang aku pakai sekarang ini masih dua minggu umurnya.
“Naik De. Kamu gak pakai helm gak apa – apa khan ?”
“Gak apa – apa. paling – paling nanti cuma rambutku yang berantakan.”
Dede naik dan aku jalankan motorku pelahan ke gerbang sekolah. Ada beberapa cowok di sana. Mungkin mereka semua berperan seperti Nando ketika akan menjemput Dede.
“Sophie … Sophie,” Dede mengguncang tanganku beberapa kali.
“Ada apa sih De ?”
“Itu … itu …,” ujar Dede panik sambil menunjuk – nunjuk seorang cowok duduk di atas motor memakai jeans biru dan kaos hitam yang sedang memperhatikan kami berdua.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1