
“Kamu bau sapi. Pasti belum mandi,” ucapku pada Hardin yang menjemputku. Mataku masih berat karena hampir jam dua belas ketika aku sanggup tertidur kemarin malam.
“Bagaimana sempat mandi Sophie. Baru saja aku selesai memerah susu waktu kamu telpon minta diantar,” kata Hardin sambil memberikan sebungkus besar susu sapi segar yang baru saja dia peras dari peternakan Kakeknya. “Kasihkan Nenek yah,”
“Kenapa bukan kamu sendiri ?”
“Khan aku bau sapi Sophie.”
“OK deh. Tunggu sebentar yah.” Aku ambil susu dari tangannya kemudian pergi ke dapur memberikan kepada Nenek. Nenek sedang menggoreng telur yang baunya menyebar ke seluruh ruangan membikin aku lapar.
“Nek, dari Hardin nih.”
“Apa ?”
“Susu segar.”
“Ooooh, taruh saja di panci. Cari yang bersih,” kata Nenek tetap berkonsentrasi pada telur gorengnya. Setelah aku temukan panci bersih dan menuangkan susu di dalamnya, aku sempatkan menengok apa yang ada di balik tudung saji.
“Nasi goreng,” kataku riang.
“Hardin diajak sarapan sekalian Sophie.”
Aku segera berlari ke teras depan dimana Hardin menungguku. Hardin duduk berhadap – hadapan dengan Fernando yang sepertinya mencurigai setiap gerakan yang Hardin lakukan.
“Kenapa burung ini masih tetap menganggap aku musuh Soph?”
“Mungkin kamu kurang ramah pada Fernando,” aku gendong Fernando sambil mengusap – ngusap bulunya, “dia harus diajak ngobrol Hardin. Dengan begitu dia akan menganggap kamu sebagai teman.”
“Memangnya selama ini dia anggap aku apa ?” Hardin berdiri mengulurkan tangan untuk mengusap bulu Fernando.
“Pencuri hati,” jawabku dan disambut dengan senyumnya.
Baru saja Hardin mendaratkan tangannya ke badan Fernando yang ditutupi bulu halus, burung itu langsung mematuk tangannya.
“Sophie … pencuri ….”
Hardin tertawa sejenak, “Percobaan pertama tidak selalu berhasil rupanya.”
“Masuk yuk. Nenek suruh kamu sarapan.” Aku berjalan masuk ke dalam.
“Kamu sudah bilang khan kalau aku bau sapi ?”
“Nenek suka cowok rajin kayak kamu. Gak usah kuatir.”
“Neneknya suka. Kalau cucunya bagaimana yah ?” tanya Hardin seperti mendapat ide segar untuk memulai hari ini.
“Suka juga,” aku menjawab.
“Fernando ?”
“Mungkin lain kali kamu harus bawa jagung supaya dia mau berteman dengan kamu.”
__ADS_1
“Patut dicoba. Eh …. memangnya motormu kenapa ?”
“Ngadat. Sekarang lagi dibawa Kak Frans ke bengkel.”
“Duduklah Nak. Kamu belum sarapan bukan ?” tanya Nenek begitu kami ada di ruang makan.
“Eh … belum Nek,” jawab Hardin sehormat mungkin. Aku kira dia ingin menunjukkan kesan sebagai cowok baik – baik kepada Nenek.
“Bagus kalau begitu. Sudah lama Kakekmu tidak mampir ke Toebroek. Dia baik – baik saja bukan ?”
“Iya, baik – baik saja. Malah tadi pagi masih memerah susu sama – sama saya.”
“Susu yang kau bawa itu Kakekmu juga yang perah ?”
“Ooooh, kalau yang itu saya sendiri yang memerah Nek,” jawab Hardin dengan bangga. Dia sedang mengumpulkan point supaya disenangi Nenek. Tempo hari dia sempat risau waktu aku bilang kalau setiap orang yang dekat dengan anggota keluarga pemilik Toebroek haruslah bisa bermain gitar.
Bertiga kami duduk di sekitar meja makan sambil mendengarkan Nenek yang terus menerus berbicara tentang persahabatannya dengan Pak Yono dan Nek Irma ketika mereka dulu masih belia. Begitu masing – masing sudah berkeluarga dan punya tanggung jawab, pertemanan yang mereka jalin begitu lama sedikit demi sedikit jadi renggang.
“Tolong bilang kalau dia harus datang ke Toebroek sesekali.”
Hardin menganggup sambil memasukkan potongan terakhir telur goreng ke dalam mulutnya.
“Aku ambil tas dulu yah,” aku pergi mengambil tasku yang masih ada di kamar. Aku berharap hari ini adalah hari minggu sehingga aku bisa sedikit lebih lama menikmati tempat tidurku.
“Berangkat yuk,” aku berkata pada Hardin kemudian mencium pipi Nenek sambil berkata, “Sophie berangkat yah Nek.”
“Saya antarkan Sophie dulu Nek,” ucap Hardin sesopan yang dia bisa. Mungkin dia ingin pointnya bertambah.
“Kok gak pegangan sih ?” tanya Hardin. Memang aku tidak berpegangan pada pinggangnya. Aku masih belum terbiasa dan sedikit merasa risih.
“Gak mau. Kamu bau sapi,” jawabku mencari – cari alasan. Kemudian aku lihat Hardin memegang setir motornya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lainnya mencari – cari tanganku. Begitu dapat, dia pegangkan di pinggangnya. Wajahku merah, telingaku merah dan hidungku merah. Selain itu, dinginnya pagi tak juga bisa mencegah keringat yang keluar dari telapak tanganku.
“Kok keringetan ?” tanya Hardin sambil melirikku dari kaca spionnya.
“Deg – deggan tahu.”
“Itu karena kamu pegangan pakai satu tangan saja. Coba kalau dua – duanya.”
“Gak berani,” jawabku malu – malu.
Mendengar jawabanku, dia pegang lagi setir motornya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain mencari – cari satu tanganku yang masih menggantung. Begitu dapat, langsung dia pegangkan di sisi lain pinggangnya.
“Kalau begini bagaimana ?”
Tidak aku jawab tapi dalam hati aku berkata, “enak juga”.
Gerbang sekolah sudah tampak di depan kami. Beberapa anak berseragam putih abu – abu juga terlihat keluar masuk. Hardin menghentikan motornya di bawah pohon di pinggir jalan di dekat gerbang.
“Kamu tidak kuliah pagi ini ?” aku lepas helmku.
“Nanti jam sembilan,” dia terima helm yang aku sodorkan padanya. “Nanti jemput kamu jam berapa ?”
__ADS_1
“Jam satu.”
“OK,” lalu dia memandangku seperti ingin mengucapkan sesuatu.
“Ada apa ?” aku bertanya.
“Sophie. Kamu tidak ingin lagi menyanyi di Toebroek seperti dulu ? Menyanyi bersama – sama Nenek dan Kak Frans ?”
“Jujur aku merindukan itu Hardin. Apalagi, suasana di club house tidak membuatku nyaman akhir – akhir ini.
“Apa yang terjadi ?”
Lalu seperti air yang mengalir aku menceritakan tentang Diana pada Hardin. Bagaimana sikapnya yang bisa amat berbeda di belakang dan di luar panggung. “Tapi Stan bilang kalau aku harus terbiasa dengan hal ini.”
“Maksudmu terbiasa dengan apa ?”
“Persaingan Hardin.”
“Bukan persaingan yang sehat aku kira.”
“Betul. Semua itu membuatku merasa tidak nyaman. Selama ini aku selalu takut menghadapi konflik. Tapi mungkin aku harus mulai bisa menghadapinya dengan baik. Lagipula, mungkin ini adalah jalan yang bisa kutempuh untuk mencapai mimpiku.”
“Aku tahu kalau setiap orang punya mimpi. Aku juga punya mimpi Sophie. Tapi kadang – kadang mimpi itu akan indah kalau dibiarkan menjadi mimpi. Keindahan yang sesungguhnya adalah ketika kau membuka matamu dan bisa melakukan apa yang benar – benar menjadi keinginanmu hatimu. Mungkin kau harus berpikir lagi apakah mimpimu memang adalah keinginanmu.”
“Hai,” Dede datang setengah berlari dengan wajah cerah.
“Kenapa kau senang sekali De ?” tanyaku.
“Hari ini khan giliranku berbicara di muka kelas waktu Bahasa Indonesia nanti,” ucap Dede dengan mata berbinar – binar. Pelajaran yang membuat dia bisa menyampaikan pendapatnya di depan banyak orang pasti membuat sahabatku ini senang.
“OK deh, aku pergi dulu. Aku jemput kamu nanti jam satu. Yuk De,” kata Hardin membawa motornya pergi.
“Enak nggak Soph punya pacar ?” tanya Dede. Saat itu kami sedang berjalan di lorong depan kelas.
“Pasti enak lah De. Hari ini dia bawaain aku susu sapi.”
Dede tertawa geli. “Hati – hati gemuk loh.”
“Gak pa – pa gemuk De. Yang penting ada yang sayang.”
Jam tujuh tepat, bel sekolah sudah berbunyi.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1