Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Harmoni


__ADS_3

Kota Batu lebih dingin dari biasanya sampai aku harus memakai sweater plus kain tebal menutupi leher. Nenek memakai celana jins dan mantel dari jalinan benang wol yang walaupun aku tidak memakainya, aku jadi ikut merasa hangat.


“Sophie, creamernya habis nih,” Pak Suko, salah satu langganan Toebroek berteriak dari dapur kecil. “Iya Pak, Sophie ambilkan sebentar,” aku berlari ke gudang mengambil creamer. Setiap hari aku juga ikut membantu di Toebroek. Dengan kesadaran bahwa dari Toebroeklah uang sekolah dan uang jajanku berasal. Dengan membantu di Toebroek aku jadi benar – benar paham bahwa memang tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Semuanya membutuhkan usaha keras.


“Terimaksih Sophie,”


“Sama – sama Pak Suko. Tumben Pak, pakai creamer. Biasanya toebroek aja?”


“Tidak hari ini Sophie,” Pak Suko mengaduk kopinya setelah menambahkan creamer di dalamnya. “Kamu sakit Sophie ?”


“Nggak tuh Pak. Memang kenapa ?”


“Kok kayaknya ada yang lagi dipikirin?,” dia berkata sambil berjalan ke mejanya yang penuh dengan koran, catatan lengkap dengan Nek Irma yang sedang tersenyum penuh pesona kepada Pak Suko. Menurut desas – desus, mereka berdua pacaran. Mereka bertemu ketika sedang sama – sama sendirian menikmati toebroek.


Pak Suko yang duda dan Nek Irma yang janda. Aku pikir mereka berdua adalah pasangan yang sempurna. Tampaknya hari ini semua orang diliputi dengan kebahagiaan. Kecuali aku.


“Oh …. Mungkin karena dingin aja Pak,” kataku pelan. Aku berjalan ke meja lobi dimana ada Nenek disana.


“Kamu mau Nenek buatkan toebroek Sophie ?” Nenek berkata sambil membersihkan gula dan kopi yang tercecer. Toebroek tidak begitu ramai malam ini membuat aku tidak terlalu sibuk. Beberapa pengunjung datang tapi lebih memilih pergi ke dapur kecil membuat roti bakar dan kopi mereka sendiri. Paling – paling nanti aku kebagian mencuci piring gelas kotor.


Tapi membayangkan harus mencuci gelas dengan air dingin membuatku mengangguk tidak menolak tawaran Nenek.


“Silakan Nona kecil,” Nenek menyodorkan secangkir toebroek dengan asap masih mengepul.


“Kamu mau menyanyi malam ini?” Nenek bertanya pelan. Aku menggeleng.


“Baiklah, tidak apa – apa. Frans, ambil gitarmu. Kita nyanyi sekarang.” teriak Nenek pada Kak Frans yang sedang sibuk merapikan novel dan koran yang berjajar tidak rapi di rak kayu.


Tanpa mengangguk Kak Frans kemudian mengambil gitar lalu duduk di sebuah kursi tinggi di panggung kecil di tengah Toebroek. Nenek sudah siap dengan harmonikanya. Pelan – pelan, pengunjung yang sedang duduk di depan TV mematikan TVnya dan pengunjung yang sedang asyik membaca menutup buku mereka.


Nenek mengambil nafas panjang sambil mengelus harmonikanya yang berwarna merah. Pelahan – lahan, gitar Kak Frans mulai berdenting kemudian disusul tiupan harmonica Nenek.


Aku duduk melihat mereka berdua dengan perasaan yang aneh. Lagu yang mereka mainkan baru kali ini aku dengar. Lagu yang dinyanyikan dengan hati sehingga sanggup membawa setiap orang yang mendengarnya ke dunia yang lain. Dunia yang Nenek dan Kak Frans ciptakan. Sebuah dunia indah yang menenangkan pikiran, menyegarkan badan dan menautkan hati. Mirip sekali dengan reaksi yang ditimbulkan toebroek. Reaksi ajaib dari secangkir kopi. Dan itu benar – benar kurasakan ketika telingaku mulai mencerna setiap nada yang dihantarkan udara ke telingaku sementara tetes demi tetes toebroek meluncur dengan lancar dalam perutku. Lalu kudengar Kak Frans mulai bernyanyi.



Dalam hati setiap orang


Ada sebuah kotak daur ulang


Kotak ajaib yang memusnahkan kesalahan


Kesalahan para sahabat

__ADS_1


Mereka yang menjadikan kelemahan sebagai kekuatan


Yang membuat saat sedih menjadi kenangan tak terlupakan


Satu kesalahan tidak sanggup menenggelamkan kenangan


Kenangan pahit yang membangkitkan tawa


Kemudian rindu,


Rindu supaya saat pahit yang dianggap manis tetap terulang



Indah, dan aku terpesona. Dalam hati, aku berharap bisa menemukan kotak daur ulang itu dalam diriku. Nando memang keren dan aku suka. Tapi Dede adalah sahabatku. Tak patut kalau persahabatan ini rusak hanya karena seorang cowok. Lagu itu sangat bagus, seakan – akan memang sengaja dibuat untuk mengerti suasana hatiku hari ini.


“Terimakasih,” Nenek mengangguk sopan ketika mereka selesai bernyanyi.


“Ayo Sophie, mainkan gitarmu,” teriak Nek Irma sambil mengacungkan tangannya dan membuatku sangat gugup.


“Eh .. eh … maaf, Sophie harus cuci piring dulu,” cuci piring jauh lebih bagus daripada menyanyi di depan orang dalam keadaan hati yang lagi galau sangat seperti ini.


“Jangan buat alasan Sophie. Aku kemarin lihat kamu bermain gitar sama Frans,” kata Nek Irma lagi.


“Oh …. Itu khan Cuma latihan Nek. Sama sekali gak sungguhan,”


“Coba saja Sophie,” Nenek mencengkeram pundakku hangat.


“Main saja lagi di D, kamu tidak akan ketemu F,” kata Kak Frans penuh senyum bahagia sambil memberikan gitar Mama padaku. Hari ini mereka semua memang benar – benar ingin menyiksaku sehingga aku terpaksa berkata,


“Baik kalau begitu. Tapi kalau salah – salah, Sophie jangan ditertawakan yah …” begitu aku selesai berbicara, semua pengunjung Toebroek tepuk tangan. Badanku jadi lemas.


Aku duduk kursi tinggi lengkap dengan gitarku. Semua mata melihatku sambil berharap mendapatkan sihir yang sama seperti yang diberikan Nenek dan Kak Frans.


“Sophie gak bisa Nek,” aku berbisik pada Nenek.


“Coba dulu Nona kecil, baru kau boleh tentukan bisa atau tidak,” sergah Nenek. Dengan gugup kupasang jari – jari tangan kiriku di D.  kupetik senar nomor tiga dan dua kemudian beralih ke G lalu ke A.


Aku pilih You’re still the one punya Shania Twain.



Looks like we made it

__ADS_1


Look how far we’ve come my baby



Ooops, aku salah memetik senar dan G-ku tidak sempurna sehingga bunyinya sama sekali tidak pantas didengarkan telinga. Wajah Pak Suko dan Nek Irma berkerut – kerut. Mungkin Nek Irma sedang menyadari kalau menyuruhku bernanyi sambil bermain gitar adalah suatu kesalahan sempurna yang patut dinilai 100. Gugupku jadi berlipat – lipat, aku butuh sebuah keajaiban untuk keluar dari kesalahan ini. Kesalahan yang membuat permainan gitarku semakin tidak karuan dan lagu yang telah kuhapal sudah menguap seperti udara dingin. Aku putuskan saja untuk berhenti. Biar, rasa malu ini akan kutanggung sampai tua.


Semua pengunjung Toebroek menatapku dengan perasaan iba. Seakan – akan aku adalah cewek paling malang di dunia. Untuk kedua kalinya hari ini, aku harus tahan – tahan air mataku supaya tidak tumpah. Toebroek jadi sangat sepi, sunyi dan hening sampai kepalaku berdenging. Seakan – akan, sehembus nafaspun akan berbunyi seperti ledakan sampai kemudian aku dengar suara harmonica Nenek yang halus dan menenangkan. Membuat semua urat syaraf yang tadi sempat tegang kembali mengendur. Kemudian disusul dentingan gitar Kak Frans, masih di D, dengan lagu yang sama. Kak Frans mengangguk padaku. Entah apa itu artinya dan kulihat nenek mulai meniup harmonikanya. Seperti sihir aku terhempas dalam dunia harmoni, rasanya indah dan aku ingin menangis, tapi aku lebih ingin menyanyi. Aku mulai membuka mulutku dan kembali bernyanyi,



You’re still the one


You’re still the one I run to



Sambil sekali – kali tanganku memetik gitar,



I’m so glad we made it


Look how far we’ve come my baby



Sampai kata terakhir kunyanyikan, aku jadi benar – benar mengerti betapa indah rasanya menyanyi dengan hati. Menyanyi dengan iringan gitar dan harmonika orang – orang yang kukasihi membuatku tidak ingin saat ini cepat berlalu. “Terimakasih,” kataku dengan mata tegak dan berkaca – kaca. Maka aku dengar gemuruh itu untukku, gemuruh tepuk tangan dari beberapa orang yang selama ini kukenal di Toebroek.


Malam itu, setelah Toebroek sepi dan kursi – kursinya telah dibalikkan di atas meja, aku masuk kamarku merasa lelah dan senang yang bersamaan. Sambil menutup mata berusaha tidur, aku ingat lagi lirik lagu yang dimainkan Kak Frans dan Nenek,


Dalam hati setiap orang


Ada sebuah kotak daur ulang


Kotak ajaib yang memusnahkan kesalahan


Kesalahan para sahabat


Hari ini adalah hari panjang dan melelahkan. Aku punya satu hal untuk dilakukan besok. Aku menutup mata, tidur. Bermimpi sedang memetik gitar di sebuah panggung yang besar. 


Follow me in instagram @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2