
“Siapa sih dia Kak ?” tanyaku pada Kak Frans. Moodnya sedang tidak enak setelah dia berbicara dengan seorang pria yang baru kali ini aku lihat wajahnya.
“Kenalan lama. Gitarmu tadi sudah stem sama punyaku khan ?” kata Kak Frans dengan wajah risau.
“Tadi di rumah sudah Sophie stem, waktu check sound tadi juga sudah. Ada apa sih ?”
“Kalian sudah siap ?” tanya Stan yang muncul tiba – tiba ke ruang ganti. Ini adalah job pertama yang kami terima dari Stan. Kami akan menyanyi di sebuah rumah makan club house, di salah satu hotel terkenal di kota Batu.
“Ingat, kalian nanti hanya perlu menyanyi saja,” Stan menyahut tanpa menunggu jawaban kami. “Tidak usah berbicara atau memperkenalkan diri. Pengunjung tidak ke sini untuk mendengarkan kalian berbicara. mereka datang untuk makan sambil mendengar lagu lembut. Menejer club bilang kalau pengunjung suka lagu – lagu lama. Kita sudah pilih lagunya khan ?”
Kata – kata Stan numpang lewat saja di telingaku. Aku patut wajahku di cermin. Kak Frans di sebelahku mengusapkan jel di rambutnya. Wajahnya masih menunjukkan kalau dia sedang gusar. Selama hidupku, baru sekali ini kulihat Kak Frans seperti ini.
“Kak Frans tidak apa – apa khan ?”
“Tidak apa – apa Sophie. Paling nanti hilang sendiri kalau kita sudah nyanyi,” Kak Frans menyisir rambutnya yang lurus rapi. Dibelakang kami Stan masih membicarakan hal – hal tidak terlalu penting yang tidak begitu kami hiraukan.
“Gitarmu sudah kau stem khan ?”
“Sudah seratus kali tanya seperti itu. Apa gak bosen ?”
“Sorry Sophie,” dia tertawa sedikit. “Pasti nyaman yah kalau bisa minum toebroek sekarang.”
“Kalian dengarkan aku gak sih ?” Stan protes di belakang kami.
“Dengar Stan. Itu saja khan ?” kata Kak Frans tidak sabar.
“Banyak lagi sebetulnya. Tapi aku percaya kalian sudah tidak mau dengar.”
Aku tertawa kecil, “Mulai berangkat dari rumah tadi kau sudah ngomong terus,”
“Aku tahu kalian itu termasuk orang – orang yang doyan ngomong. Makanya aku ngomong terus supaya suara kalian gak habis.”
“Trims Stan,” aku raih tangan Stan dan melingkarkannya di pundakku. Kak Frans meraih gitar di sampingnya kemudian memainkannya pelahan – lahan. Kupikir, dengan cara itu dia bisa menjadi lebih tenang.
“Sophie, buat mereka kagum dengan lagumu seperti waktu itu. Biar saja mereka lupa makan. Jangan beri mereka kesempatan untuk tidak memperhatikan kamu Sophie,” ujar Stan sambil menatap mataku dari cermin.
“Jangan ngomong seperti itu Stan. Rasanya jadi beban.” Kataku balik sambil menatap wajah Stan di cermin.
“Sorry. Kau ingat Sophie, waktu aku bilang kalau kau punya sesuatu yang sudah kau bawa dari lahir ?”
Aku mengangguk. Dari luar ruang rias, dari arah restoran terdengar jelas suara cewek yang sedang menyanyi. Kata Stan, cewek yang bernama Diana itu banyak disukai pengunjung di sini.
“Kau akan selalu bisa melakukannya karena kau punya kemampuan itu dalam dirimu.”
Kak Frans yang dari tadi masih bermain dengan gitarnya kemudian mengulurkan tangannya mengusap kepalaku. Dia sedang risau, tapi masih memikirkan diriku. Buatku, Kak Frans sudah jadi lebih dari pada ayah yang selama ini tidak pernah merindukanku.
“Kamu tidak akan tampil sendiri Sophie,” katanya.
Beberapa saat kemudian tirai kamar ganti terbuka dan seorang petugas club masuk. “Kalian tampil sekarang,” katanya.
“All the best,” kata Stan begitu kami melewatinya berjalan menuju rumah makan club.
Cewek yang bernama Diana itu sudah selesai dengan lagunya. Di mataku, dia adalah cewek yang cantik dan terlihat matang. Dengan suaranya yang halus, pantas saja banyak orang yang menyukainya. Aku berusaha tersenyum ketika dia melewatiku di ruang ganti.
“Mbak,” kataku. Dia hanya tersenyum dingin kemudian memandangiku sinis.
“Ayo Sophie. Sekarang giliran kita,” tukas Kak Frans yang berjalan di depanku. Kemudian, berinringan dengan Kak Frans aku berjalan menuju restoran. Sudah banyak pengunjung di sana. Dari penampilan mereka, aku bisa lihat kalau mereka semua adalah orang kaya. Beberapa datang berpasangan, tapi ada juga yang datang lengkap dengan keluarganya. Seperti pria yang berbicara dengan Kak Frans dan berhasil membuatnya risau tadi. Pria itu duduk meja sebelah kanan pojok dengan seorang wanita cantik yang aku pikir pasti adalah istrinya dan satu orang anak kecil yang aku pikir pasti adalah anaknya.
Tidak seperti di Toebroek yang ketika aku berjalan membawa gitarku saja semua orang sudah diam dan memperhatikan. Disini sangat lain. Aku dan Kak Frans bukan siapa – siapa sehingga mereka agaknya cuek saja waktu aku dan Kak Frans sudah siap dengan lagu pembuka kami. Sebuah lagu yang sama – sama kami pilih. Aku, Kak Frans dan Stan.
“Mainkan gitarmu Sophie,” bisik Kak Frans. Aku menjadi leading guitar untuk lagu pertama ini. Aku mainkan pelan mulanya, kemudian bertambah keras sambil menyanyi,
…
__ADS_1
More than words,
Is all you have to do,
To make it real,
Then you wouldn’t have to say
That you love me,
Cause I’d already know,
…
Saying I love You dari Westlife kami selesaikan dengan baik. Kak Frans yang mengiringiku di samping tampak mengelap keringat di wajahnya. Sementara itu, pria yang duduk di pojok kanan terus – terussan memandang Kak Frans dengan cara yang aneh. Kak Frans yang terus – terussan dipandang seperti itu tampak tidak nyaman dan salah tingkah. Beberapa kali tadi sempat kulihat dia salah memetik senar. Kak Frans salah memetik senar adalah suatu kejadian yang jarang – jarang terjadi. Kami siap dengan lagu ke dua sekarang. kali ini aku yang mengiringi gitar Kak Frans.
“Kamu siap khan ?” Kak Frans menoleh padaku. Aku rasa Kak Frans menanyakan itu untuk menyiapkan hatinya sendiri. Kak Frans menutup matanya, diam sesaat lalu mengambil nafas panjang. Lagu pertama kami tadi berhasil membuat beberapa orang sejenak menghentikan obrolan mereka. Sekarang mereka semua memandang kami.
…
Dream, dream, dream, dream, dream
Dream, dream, dream, when I want you
In my arms when I want you
And all your charms whenever I want you
All I have to do is dream
…
Kak Frans menyanyi dengan lembut. Matanya masih terpejam dan aku lihat wajahnya mulai menunjukkan rasa nyaman. Beberapa orang bilang kalau aku punya karisma yang tidak dipunyai Nenek ataupun Kak Frans. Tapi sekarang aku mengerti mereka juga bermaksud mengatakan kalau Kak Frans mempunyai karisma yang baik aku ataupun Nenek tidak punyai.
…
Any time, night or day, only trouble is gee whiz
I’m dreaming my life away
…
Kak Frans membuka matanya. Memperhatikan sekeliling kemudian tersenyum pada semua orang yang menikmati lagu kami. Bahkan, aku lihat beberapa orang tidak lagi memperdulikan makanan mereka. Kami berhasil membuat mereka lupa makan. Stan pasti senang dengan hal ini.
…
I need you so that I could die, I love you so
And that is why whenever I want you
All I have to do is dream
Dream, dream, dream, dream
…
Setelah itu masih terdengar suara gitarku dan Kak Frans bermain beriringan. Kami sama – sama menutup Dream punya Everly Brothers ini dengan satu petikan yang manis. Aku lihat seorang ibu setengah baya hampir saja bertepuk tangan sebelum dia ingat kalau tempat ini adalah sebuah rumah makan. Laki – laki di pojok itu masih memandangi Kak Frans dengan cara aneh. Tapi bedanya saat itu, aku lihat Kak Frans tidak lagi serisau sebelumnya. Dia benar waktu mengatakan kalau bermain gitar akan meredakan hatinya. Syukurlah.
Saatnya lagu ketiga. Lagu terakhir yang harus kami nyanyikan. Stan setuju kami menyanyikan lagu ciptaan kami sendiri. Lagu lembut yang bercerita tentang persahabatan Fernando dengan pohon apel. .
…
Dibelakang rumah kami
__ADS_1
Ada sepetak kebun apel
Yang selalu kami ambil buahnya
Dan kami sesap sarinya
Dijagai seorang burung
Fernando, burung gagah berani
Cakap seperti seorang ksatria
Mematuk semut dan memburu tikus
Berteriak maling pada pencuri
Matanya tidak terpejam, telinganya siaga
Sampai musim panen tiba
Sebutir apel jatuh
Fernando patuk sebelum membusuk
Pohon apel berlomba membungkuk
Terimakasih dan hormat
Untuk si gagah berani
Fernando, seekor burung beo
…
Akhirnya, job pertama ini bisa kami selesaikan dengan baik. Setelah diam beberapa saat, pengunjung rumah makan kembali lagi pada makanan mereka. Pria yang duduk di pojok kanan itu berjalan mendekat sambil menggendong anaknya.
“Kak, Dodo ingin tanya sesuatu,” katanya padaku dengan nada suara seperti ngomong ke anak kecil. Aku melihat Kak Frans sebentar yang kurasa kembali tidak tenang lalu mencondongkan badanku sedikit dan bertanya,
“Mau tanya apa adik ?”
“Ayo Dodo, gak usah malu,” pria itu mendukung anaknya. Dodo mengusap matanya dengan punggung tangannya sebentar kemudian bertanya,
“Kak, Fernando itu pakai baju perang tidak ?” wajahnya yang lucu membuatku tahu kalau pertanyaan itu tidak dibuat – buat.
“Tidak adik kecil. Fernando tidak pakai baju perang. Meskipun begitu, Fernando adalah burung pemberani. Kamu ingin ketemu Fernando ?”
Dodo mengangguk mantap.
“Datang saja ke tempat kami. Akan kuperkenalkan kau dengan Fernando. Kami punya sebuah kedai kopi. Toebroek. Datang saja kapan – kapan,”
“Tentu, kami akan datang.” Jawab Papa Dodo kemudian Kak Frans menarik tanganku pergi.
“Kak Frans kok gitu sih ?” tanyaku penasaran.
Kak Frans tidak menjawab, tetap menarikku pergi menuju ruang ganti.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1