Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Rasanya hangat


__ADS_3

“Sialan !” Hardin mengumpat keras sambil membuka tutup bening helmnya. Dia periksa apakah ada mobil di belakang kami lalu membelokkan motornya ke kiri sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya memburu motor biru tadi.


“Hardin, tidak usah dikejar !” aku berteriak sambil memegang pinggangnya lebih erat, tapi tidak dia gubris. Aku mengerti kalau dia marah. Tapi seharusnya dia mengerti kalau dia sedang membonceng seorang cewek. Aku kira, bukan begini caranya memperlakukan seorang cewek yang rambutnya lagi morat – marit kena angin jalan.


“Hardin, kamu dengar apa tidak ?!” Hardin masih menjalankan motornya seperti pembalap yang sedang berlaga di arena. “Tidak usah dikejar, pelan – pelan saja !”


“Dia harus diberi pelajaran Sophie !” suaranya hampir tidak bisa kudengar di sela – sela deru angin. Motor Hardin sekarang tepat berjalan di samping motor biru tadi.


“Berhenti kamu !” kata Hardin sambil mengacungkan tangan kanannya. Wajah cowok yang ada di atas motor biru itu tampak ketakutan tapi dia tidak mau berhenti. Malah mempercepat laju motornya yang langsung disusul Hardin.


“Sialan ! Berhenti kamu !” sementara tangannya mencoba meraih jaket yang dipakai cowok itu. Mau – tak mau, motor biru itupun berhenti.


Hardin melepas helmnya langsung memberi pukulan pada cowok itu yang bahkan belum sempat membuka helmnya. Cowok itu terhuyung mau jatuh ke tanah tapi segera Hardin tangkap leher kaosnya. Tangan Hardin mengepal mau memukul dia lagi. Aku raih tangannya yang jauh tinggi di atasku,


“Sudah Hardin … buat apa ? Biar saja pergi. aku gak apa – apa. Motormu juga sama sekali gak apa – apa. ini gak sebanding !” aku berkata emosi sambil menangis dan memegang tangannya.


“Kamu tidak mengerti Sophie !”


“Sorry … sorry, aku tidak sengaja,” desah cowok itu memelas sambil memegang tangan Hardin yang mencengkeram bajunya.


Wajah tegang Hardin pelahan mengendur setelah melihat wajahku. Lalu dia berkata, “Pergi saja cepat,” Hardin melepaskan kaosnya dan langsung dia pergi.


“Kamu takut sama aku ?” tanyanya.


Aku menggeleng dan mengusap air mataku, “Aku hanya tidak suka melihat orang berkelahi.”


“Sorry Sophie. Aku sungguh tidak ingin membuatmu takut,” desahnya sambil menunduk, seperti menyesali sesuatu.


“Kamu suka memukul orang Hardin ?”


“Aku bukan orang seperti itu. Jangan pernah berpikir aku seperti itu,”


“Tapi dengan apa yang aku lihat barusan ?”


“Bukan … bukan … kamu salah sangka. Aku tadi sangat marah karena……,” dia berhenti sebentar. Aku lihat keragu – raguan yang sama seperti sebelumnya. “Sebenarnya aku marah pada diriku sendiri Sophie. Aku marah karena aku sudah menjadi sangat pengecut. Aku bertingkah seperti anak kecil,”


“Maksudmu apa ?” aku bingung dengan apa yang dia lakukan. Sementara itu dia membalikkan badannya, kemudian duduk menghadap sisi luar jalan. Aku duduk di sebelahnya.

__ADS_1


“Suratku kemarin,” katanya pelan. “Sangat kekanak – kanakkan bukan ?”


“Eh … nggak kok. Biasa saja,” aku jawab begitu supaya dia merasa lebih nyaman.


“Aku yakin kamu pasti berpikir begitu. Tapi aku ingin kamu tahu kalau aku saat itu benar – benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan supaya kamu memperhatikan aku.”


“Aku memperhatikanmu Hardin.”


“Jangan menghiburku,” dia menarik napas dalam, “Aku ingin dekat sama kamu. Tapi temanku bukan temanmu. Orang yang kamu kenal bukanlah orang yang aku kenal. Aku jadi tidak tahu alasan apa yang harus kukatakan supaya kita bisa saling berbicara,” dia berbicara sambil memandang ke depan. Ke arah sawah yang ada di sisi kanan dan kiri jalan beraspal. Sebagian padinya sudah kelihatan menguning. Seorang petani terlihat sedang menancapkan sebuah orang – orangngan sawah lengkap dengan topinya. Tampak burung – burung kecil tebang berhamburan karena takut. Sementara itu, langit tidak mendung dan tidak juga panas. Udara segar yang keluar dari tanaman di tempat itu benar – benar membuatku nyaman.


“Apa juga yang kamu katakan. Kita sudah jadian dan rasanya hubungan kita baik – baik saja. tapi kenapa kamu seperti tidak mau memaafkan dirimu hanya karena masalah kecil yang menurutku indah itu?”


“Sungguh? Kamu pikir apa yang kamu lakukan itu hal yang indah?”


“Tentu saja Hardin. Aku deg – degan tidak karuan, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku tulis, aku harus minta bantuan Dede, minta bantuan Fernando, Fernando hampir salah memberikan surat balasanku pada Kak Frans. Apa yang kurang seru dari itu? Mirip seperti roller coaster bukan? Kamu sudah memberiku pengalaman indah. Mungkin suatu saat nanti, hal ini akan aku ceritakan pada orang – orang dan kita akan sama – sama memnertawakannya. Bagaimana? ”


“Sungguh ?” tanyanya terkejut.


Aku mengangguk, “Aku tidak bohong. Bahkan, aku merasa ada yang hilang ketika kau tidak berjalan terburu – buru di jalan kecil di samping kamarku kemarin malam. Secara tidak sadar, aku juga memperhatikanmu.”


“Tapi aku sangat tidak suka cowok yang suka marah – marah. Apalagi seperti tadi,”


“Iya, aku ngerti, maaf. Semoga tidak akan terulang lagi.”


“Semoga?”


“Iya, semoga. Kalau perlu yah akan aku sikat.”


Aku mengerti apa yang dia katakan. Mungkin suatu saat hal seperti itu perlu. Tapi aku tidak berharap.


“Kamu tahu khan, orang tuaku bercerai?” aku bertanya dan dia balas dengan anggukannya.


“Aku ingat malam itu. Aku bangun malam – malam karena mimpi buruk. Aku dengar di ruangtengah Papa dan Mama bertengkar. Pirin pecah dan perabotan rusak. Melihat orang bertengkar, mengingatkanku akan malam itu.”


“Maafkan aku,” Hardin merangkulkan lengannya di pundakku. Aku sandarkan kepalaku di pundaknya.


“Mama Papaku biasa saja. mereka sering bertengkar juga, untuk hal – hal kecil yang menurutku gak perlu. Aku tidak mau kita jadi seperti itu.”

__ADS_1


“Jadi Mama Papa maksudmu?” aku menggoda dan dia meringis.


“Suatu saat nanti pasti. Kalau aku sudah dapat kerja atau aku bisa mengelola kebun kakek dengan baik. kamu tidak keberatan aku jadi petani?”


“Ngomong apaan sih? Omku sekarang petani. Kakek nenekku petani. Kenapa aku keberatan?”


Dia memandagku sesaat.”Kalau kamu pingin jadi apa?”


“Apapun itu, asalkan aku masih tetap bisa menyanyi dengan gitarku.”


“Aku akan pastikan bahwa tidak ada seorangpun yang akan mengambil gitarmu itu dari tanganmu Sophie,”


Kata – kata indah dia ucapkan di siang panas ini. Rasanya hangat.  


 


Jangan cemas


Aku ada disini


Menggenggam tanganmu erat


Apakah kau rasakan itu ?


Jantung yang berdetak lebih cepat


Sehingga darah mengalir kuat


Membuat wajahku merah, hidungku merah


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1


__ADS_2