
Paginya aku bangun masih mengantuk. Berkali – kali aku berusaha tidur lagi tapi tidak berhasil. Beberapa menit selanjutnya aku hanya berbaring saja sambil mataku kedip – kedip memandang langit – langit kamarku yang terbuat dari kayu diplitur coklat.
Ada rasa tidak nyaman yang tidak bisa aku sangkal. Aku masih bergelut dengan kotak daur ulang itu. Aku juga mengerti kalau di dunia ini ada jutaan cowok. Tapi aku suka hanya pada satu itu saja, dan ternyata dia sekarang pacaran dengan sahabatku. Rasanya konflik seperti itu terlalu besar buatku yang masih SMA ini. Kenapa ada kebetulan – kebetulan yang terjadi, yang malah hanya membawa siksaan saja buat aku. Persahabatanku dengan Dede kendor, dan pasti Nando sekarang tahu kalau aku naksir dia. Aku malu bangetlah. Cowok gak dapat, tapi rasa malu meluber ke mana – mana. Entaha akan aku taruh mana mukaku ini kalau aku ketemu Nando lagi.
Setelah sejenak terbang dengan pikiranku sendiri aku mulai masuk pada dunia nyata. Aku melihat sekeliling dan pendengaranku mulai mendengar berbagai macam hal di sekelilingku.
Dari kebun apel sudah terdengar suara Kak Frans yang sedang memotong dahan apel kering sambil bersenandung. Aku tak mengenali lagunya tapi suara Kak Frans seperti embun pagi yang segar, seperti pagi ini. Nenek bekerja di dapur sambil sesekali terdengar suara – suara, entah itu tutup panci atau penggorengan, yang jatuh. Nenek pasti sedang tidak memakai kacamata. Biasanya aku membantunya. Tapi untuk hari ini taka pa – apalah aku absen piket dapur. Toh sepulang sekolah aku juga bantu – bantu di toebroek.
Di tempat lain di dalam rumah, yang aku tidak tahu persis dimana, Fernando sedang bernyanyi memakai bahasa aslinya, bahasa burung, yang tidak dimengerti oleh satu orangpun di rumah ini. Pagi ini dia sangat comel. Mungkin dia lagi uring – uringan karena sampai saat ini belum juga ada yang memberi dia makan. Tapi mungkin juga dia sedang bernyanyi menyambut hari ini. Seperti ayam yang menyambut pagi dengan kokok panjang.
Aku jadi merasa malu pada diriku sendiri karena ketika setiap orang di rumah ini sudah mulai melakukan kegiatannya masing – masing, aku malah enak – enakkan berbaring sambil memandang langit – langit kamar. Fernando saja, meskipun tidak bekerja, tapi dia selalu bersuara, memberitahukan kepaqda semua orang bahwa di rumah ini ada kehidupan.
Aku bangun dan berjalan beberapa langkah membuka jendela. Satu yang menghadap kebun apel dan satu lagi yang menghadap jalan kecil di samping rumah, di samping toebroek. Hawa pagi kota Batu langsung menyentuh wajahku. Aku tutup mataku lagi berharap bisa tidur dengan bantuan angin dingin yang segar.
“Halo Semut, pagi – pagi kamu kok sudah bangun ?” suara Kak Frans. Lalu dia mengecilkan suaranya dan berbicara “Iya Kak Frans Frans. Rejeki itu datangnya pagi – pagi. Kalau bangun siang, nanti rejekinya diserobot orang.” Suara Kak Frans kembali normal,
“Tapi kok ada yang gak takut kalau rejekinya diserobot orang yah Mut?”
Bukan sekali dua kali Kak Frans berlaku seperti itu. Aku tahu kalau aku sedang disindir. Aku kecilkan suaraku, lalu menjawab,
“Soalnya dia masih sekolah. Masa ada rejeki di sekolah Kak Frans?”
“Lho Mut, suaramu kok jadi beda?” Kak Frans berlagak terkejut sambil menggaruk – garuk kepanya yang sedang memakai topi petani.
“Iya, soalnya masih baru bangun Kak Frans,” aku masih dengan suara kecil.
“Kamu jadi gak tahu malu dong Mut. Orang lain sudah pada sibuk kerja, eh … kamu malah enak – enakkan tidur. Sudah deh Mut, kamu mandi sana. Sudah jam enam loh. Kalau kamu gak mandi sekarang, bisa – bisa rejekimu di sekolah digondol orang.”
“Ih Kak Frans bohong. Masak hari masih gelap begini dibilang sudah jam enam?” dengan suara kecil aku tertawa cekikikan. Tidak mungkin sekarang jam enam. Langit masih terlalu gelap untuk merujuk pada jam enam.
“Semut tuh diajarin baca jam gak sih di sekolah? Masa sudah kelas dua SMA belum bisa baca jam ? Lagian apa gak sadar kalau pagi ini sedang mendung?”
__ADS_1
Setengah tidak percaya aku sambar HPku dan melihat bahkan 3 menit sudah beranjak dari pukul enam. Tidak percaya dengan HP aku berlari ke ruang tengah dan melihat jarum pendek di jam dinding sudah tepat di enam sedangkan jarum panjang sudah beberapa menit melewati angka dua belas.
“Kak Frans jahat! Kenapa tidak bilang dari tadi kalau sudah jam enam?” suaraku sudah tidak kecil lagi.
“Siapa juga yang suruh kamu bangun tidur langsung malas-malasan di jendela?”
“Khan Kak Frans yang ngajak Sophie ngobrol ?”
“Siapa yang ngobrol sama kamu?” Kak Frans membalikkan badan ke arahku sambil melipat tangan di dada. “Aku tadi ngomong sama semut kok,”
Pagi ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan Kak Frans. Aku harus bergerak secepat kilat untuk mandi, sarapan dan memanasi motorku untuk sekolah.
“Makan pelan – pelan Sophie,” Nenek mengingatkan ketika aku sudah mandi dan wangi memakai seragam sedang makan di meja makan.
“Sophie sudah terlambat Nek,” mulutku penuh dengan nasi goreng jagung.
“Kamu bangunnya kesiangan,”
“Nek, yang buat lagu semalam siapa sih ?”
“Yang mana ?”
“Yang Nenek mainkan sama Kak Frans itu,”
“Oh, Itu Frans yang buat. Nenek cuma bantu sedikit. Kamu suka ?”
“Sangat.”
“Lagu itu memang buat kamu Sophie,”
Aku sedikit terkejut walau aku memang merasakannya ketika aku mendengar kemarin. “Bukan berarti karena Nenek dan Frans diam, kami berdua tidak mengerti apa yang terjadi denganmu Sophie,” Nenek menatap mataku lekat – lekat. “Tapi Nenek ingin kamu tahu kalau ada banyak cara untuk mengatakan sesuatu.”
__ADS_1
Nenek memang benar. Lewat lagunya Nenek dan Kak Frans membuatku berpikir dan mengerti tentang apa yang terjadi. Aku berangkat sekolah dengan hati ringan sambil mataku awas melihat jalan raya. Menyalip beberapa mobil dan motor, berhenti di dua perempatan karena lampu merah sambil mataku melirik kiri kanan berharap ada cowok cakep yang segar di pandang. Sesegar udara kota Batu pagi ini.
Di depan gerbang sekolah, Dede sudah menungguku. Disampingnya ada sepeda motor Nando, lengkap dengan sang pemilik diatasnya yang mencoba senyum – senyum padaku. Walaupun sudah mengerti situasinya, tapi perasaan tidak terimaku kembali bangkit. Aku marah, aku malu dan yang aku inginkan saat itu hanyalah membenamkan wajahku di dalam lumpur atau pergi terjun paying di pedalaman hutan Indonesia dan tidak bertemu dengan kedua orang itu lagi. Lalu lagu Kak Frans terngiang kembali di telingaku dan sekarang aku harus berhadapan dengan mereka, mata dengan mata.
…
Dalam hati setiap orang
Ada sebuah kotak daur ulang
Kotak ajaib yang memusnahkan kesalahan
Kesalahan para sahabat
Mereka yang menjadikan kelemahan sebagai kekuatan
Yang membuat saat sedih menjadi kenangan tak terlupakan
Satu kesalahan tidak sanggup menenggelamkan kenangan
Kenangan pahit yang membangkitkan tawa
Kemudian rindu,
Rindu supaya saat pahit yang dianggap manis tetap terulang
Follow me in instagram @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang