Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Hari Yang Sangat Jarang Terjadi (part 1)


__ADS_3

Pagi – pagi sekali aku sudah datang di kelas sampai aku tidak mempunyai waktu untuk menyentuh gitarku barang sebentar. Ada tugas Fisika dari Pak Rustam, PR matematika tentang logika yang bikin pusing, ulangan sejarah dan tugas bercerita di depan kelas untuk Bahasa Indonesia. Hari ini akan jadi hari yang panjang dan penuh dengan sakit perut buatku.


Sekolah masih sepi dan gerbang sekolah seperti baru saja dibuka. Tanaman di depan kelas masih kelihatan basah karena habis disiram. Pagi ini sangat segar. Pasti menjadi salah satu pagi terindah di kota Batu kalau saja tidak ada tugas – tugas yang beberapa saat lagi akan membuatku tegang tidak karuan.


Aku berjalan sepanjang koridor melihat kalau – kalau sudah ada yang datang. Aku kira, aku adalah mahluk berbaju putih abu – abu pertama yang datang di sekolah hari ini.


Tapi ternyata aku salah.


Begitu aku masuk kelasku, sudah kulihat semua teman – temanku lengkap di tempat duduknya masing – masing diselingi teriakan – teriakan yang mendambakan perhatian.


“Aku pinjam tugas Fisikanya !” teriak Diki keras.


“Barusan aku mau pinjam kamu,” jawab Vieri yang berkacamata dan dikenal rajin.


“Aku kemarin sakit perut semalaman, jadi gak sempat ngerjain,” Diki membuat alasan. “Yang biasanya paling rajin ngerjain tugas Pak Rustam khan kamu,” sambung Diki.


Vieri yang ditanya seperti salah tingkah. Tapi bisa juga dia menemukan jawaban akhirnya, “Eh, kemarin aku disuruh menemani Mamaku ke pasar. Jadi tidak ada waktu buat ngerjain,”


“Kalau begitu, kalian kerjain sekarang aja di papan !” kata Sita dan Dita lantang.


“Eh …. Jariku sakit. Jadi masih belum bisa menulis di papan. Kamu aja deh Dik,” Vieri memijat – mijat ujung jari kanannya.


“Wah … kenapa tidak tadi saja. Perutku sakit lagi nih sekarang,” kata Diki dengan wajah yang dibuat seperti orang sakit perut.


“Bilang aja deh kalau kalian tuh gak mau kasih kita contekan,” tukas Dede.


“Bukan begitu De. Tapi memang jariku lagi sakit. Kemarin Mama belanja banyak sekali sih,” Vieri menggerutu sambil memegangi jarinya.


“Dan sakit perutku tambah parah rasanya,” kali ini Diki berujar dengan ekspresi wajah biasa – biasa saja.


“Ya deh. Aku yang menulis di papan, kalian berdua mendiktekan jawabannya,” aku memberi usul.


“Seperti itu juga baik,” kata Dita yang sudah siap dengan buku tugasnya. Aku maju mengambil sebatang kapur berwarna putih. “Ayo deh Vieri,”


“Sebenarnya sih aku sudah mengerjakan tugasnya. Tapi bukunya ketinggalan di rumah. Aku sama sekali lupa jawabannya.”


“Kalau sudah mengerjakan khan pasti ingat. Sudah belum sih ?” Dede melotot gemas pada Vieri. Vieri mengusap kaca matanya dengan tissue warna putih. Setelah beberapa saat, akhirnya Vieri menjawab,


“Aku belum mengerjakan. Tugasnya sulit banget,” akhirnya Vieri mengaku dengan suara pelan.


“Ngomong dari tadi khan bisa. Gitu aja malu,” Dede bersungut – sungut.

__ADS_1


“Ayo cepat, ntar keburu masuk loh,” aku berkata tidak tahan sambil mengetuk – ngetukkan kapur.


“Ok deh,” Diki berdiri. “Karena kalian adalah orang – orang yang sangat menghargai kejujuran, aku mengaku kalau aku sebenarnya memang tidak bisa mengerjakan tugas dari Pak Rustam. Terimaksih.” Kemudian dia duduk lagi.


“Begitu saja pakai alasan segala,” 


“Memangnya kamu jatuh miskin kalau tidak bisa mengerjakan tugas Fisika ?”


Bersautan teman – temanku berkomentar. Bahkan ada yang melempar kertas berbentuk pesawat terbang dan bola kearah Diki.


“Jadi intinya tidak ada yang bisa nih ?” tanyaku keras bercampur cemas. Kelas yang baru saja gaduh sekarang sepi. Aku mulai melihat wajah – wajah yang pucat. Pasti mereka sudah sibuk membayangkan hukuman apa yang kira – kira nanti Pak Rustam berikan.


“Benar – benar tidak ada yang bisa ?” aku bertanya sekali lagi untuk memastikan. Lagi – lagi tidak ada yang mengeluarkan komentar. Dari luar keras sudah terdengar suara langkah – langkah murid dari kelas lain yang datang. Beberapa kudengar sedang bergurau gembira. Hari ini pasti telah mejadi hari yang menyenangkan untuk mereka. Tapi tidak untuk kami disini yang sedang menyiapkan hati untuk menerima hukuman. 


“Terus bagaimana ?” terdengar suara kecil dan bergetar dari belakang.


“Iya bagaimana ?” ujar Dede dengan wajah yang pucat.


“Jangan kuatir deh. Paling – paling Pak Rustam hari ini tidak masuk,” tukas Jenny dengan yakin.


“Darimana kamu tahu Jenn ?” tanya Vieri.


“Ramalanmu tuh banyak salahnya daripada benarnya,”


“Hari gini masih percaya ramalan,”


“Jenny, buat ramalanmu benar. Nanti aku traktir bakso,”


“Sama sekali tidak masuk akal,” kata Vieri keras yang disambut dengan tatapan mata tidak suka dari Jenny.


“Sudah deh. Gak usah menggantungkan sama ramalan. Jadi bagaimana nih ?” tanyaku pada semua orang.


“Susah senang, kita tanggung bersama,” Sita coba memberi usul. Sepertinya kalimat itu sudah basi. Tapi di saat – saat seperti ini, sedikit banyak usul Sita memberi kekuatan buat hati kami yang sedang ciut.


“Kalau begitu tugas Fisika tidak usah dipikirkan sekarang. Matematikanya bagaimana ?” lagi – lagi suara kecil dari barisan bangku belakang kembali terdengar. Teman – temanku saling berpandangan.


“Aku cuma bisa nomor 1,” ujar Vieri mengeluarkan buku matematikanya.


Aku datang ke bangku Vieri untuk mengambil bukunya lalu menuliskannya di papan. Belum lagi selesai aku tulis jawaban dan cara mengerjakannya, keburu bel sekolah berbunyi. Pelajaran Fisika adalah pelajaran pertama. Aku cepat – cepat duduk di bangkuku. Masih sempat aku lihat Dede yang mengambil sekantung tissue dari tasnya untuk melap wajahnya yang berbintik – bintik karena keringat.


Kelas jadi hening. Tidak ada yang berani bersuara. Aku bisa melihat wajah – wajah temanku yang memasang muka pasrah. Pak Rustam sangat benci kegaduhan. Baginya, kelas yang produktif adalah kelas yang tenang dengan murid – murid yang sibuk mengerjakan tugas di dalamnya.

__ADS_1


“De, papannya belum dihapus tuh,” aku berkata dengan suara pelan pada Dede.


“Kamu aja yang hapus,” jawab Dede tidak kalah pelannya.


“Khan aku tadi yang tulis,”


“Dik … Diki. Papannya belum dihapus tuh,” Dede berkata agak keras pada Diki. Diki seperti ragu – ragu untuk maju ke depan menghapus papan. Kami semua tahu kalau papan sudah harus bersih sebelum Pak Rustam datang. Menghapus papan ketika dia datang, sama artinya dengan menambah masalah.


“Cepet dong Dik,” aku memberi semangat. Diki masih ragu – ragu. Untuk urusan yang berhubungan dengan Pak Rustam, Diki tidak bisa diandalkan.


“Dita, papannya please,” kataku. Dita menggeleng lemah padaku. Tidak ada yang berani mengambil resiko walaupun susah senang ditanggung bersama.


“Gak usah kuatir. Pak Rustam hari ini sakit,” sahut Jenny lagi.


“Kalau gak sakit bagaimana ? Kamu yang tanggung ?” Dari bangku belakang, temanku yang suaranya kecil terdengar berjalan cepat dan menghapus papan lebih cepat lagi. Setelah papan bersih, setengah berlari dia kembali ke bangkunya sehingga seisi kelas bisa bernafas lega.


Setelah kami semua memastikan bahwa segalanya baik – baik saja, kelas kembali tegang ketika dari koridor kami dengar suara langkah – langkah sepatu. Beberapa teman kulihat melipat tangan dengan posisi berdoa. Yang lainnya memilih untuk diam saja supaya hati lebih tenang. Aku sama sekali tidak bisa tenang. Lebih baik aku pingsan sehingga aku digotong ke perpustakaan dan tidak perlu bertemu Pak Rustam.


“Sophie, jangan pura – pura mau pingsan,” kata Dede bebrbisik.


“Tidak akan De. Kamu punya ide yang sama khan ?”


“He …eh,” katanya.


“Ternyata ide kita sama,” kata Diki dari belakang. Dita yang duduk di sebelah Sita, di depanku, tiba – tiba badannya bergoyang – goyang seakan – akan tidak bertenaga. Beberapa saat kemudian, tubuh Dita lemas dan dia jatuh ke bawah. Dita pingsan.


“Sudah, tidak usah pura – pura,” tukas Sita setengah berteriak pada Dita yang badannya lunglai di atas bangku.


Selama ini, aku mengenal Sita sebagai orang yang perhatian. Aku jadi heran ketika dia tidak menolong, malah mengeluarkan kata – kata kasar pada Dita yang pingsan. Rupanya, Sita tahu apa yang dia lakukan.


“Tidak berhasil yah ?” Dita sadar dari ‘pingsan’ sambil merapikan rambutnya yang ditata persis seperti Sita. Sita mendengus pelan.


Kemudian kami dengar suara langkah – langkah sepatu itu berhenti. Persis di depan pintu kelas kami. Semua orang menahan nafas ketika kami melihat pegangan pintu diputar dari luar dan mengeluarkan bunyi yang berdecit – decit. Sudah tiba saatnya kami semua menghadapi kenyataan. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1


__ADS_2