
“Sepertinya tidak ada yang bisa selain kamu” Diki berdiri di depan kelas sambil kedua tangannya bertumpu pada bangku. Bangku Dita dan Sita, dua cewek tidak sedarah yang sangat yakin kalau sebenarnya mereka sebetulnya kembar.
“Kami yakin kamu bisa Soph. kamu akan membuat kami semua bangga,” Dita dan Sita berbicara bersamaan.
“Bagaimana ?” tanya Diki sambil memandangku. Yang lainnya ikut – ikuttan juga memandangku.
“Kayaknya yang lain aja deh Dik,” aku berusaha menolak.
“Yang lain bagaimana ?” sergah Dede dengan gayanya yang meledak – ledak.
Semua orang waktu itu, kecuali Dede dan Diki, tiba – tiba saja sibuk. Dita dan Sita sibuk mengepel lantai, ada yang sibuk membaca buku dan ada juga yang tiba – tiba tertarik dengan tanaman tak terawat di luar kelas.
“Yah yang lainnya khan bisa De. Kenapa harus aku? Lagian khan ini acara parade band. Mana bisa aku nanti tampil sendiri?”
“Jadi intinya kamu mau tampil kalau tidak sendiri, begitu ?” tanpa menunggu jawabanku Dede langsung saja berteriak,
“Sophie mau teman – teman. Sudah tidak ada masalah,” mataku memandang Dede gemas. “Gimana sih ?”
“Santai aja deh Soph,”
“Santai bagaimana ? Yang tampil dilihatin banyak orang nanti tuh aku, bukan kamu.” Dede mengambil sebutir permen lalu memasukkannya dalam mulut. Aku melipat tanganku kesal.
“Masih ada masalah nih. Siapa nanti yang mau menemani Sophie ?”
Begitu pertanyaan itu Diki lontarkan, kontan kelasku sepi. Dita dan Sita pura – pura membersihkan sarang laba – laba yang banyak bergelantungan, ada yang pura – pura tidur, bermain dengan rambut, pura – pura sakit perut dan harus ke toilet, dan bahkan ada yang kepalanya menunduk seperti orang berdoa.
Memang sih, sepanjang yang aku tahu cuma aku saja yang bisa main musik disini, lainnya penikmat musik yang tidak pernah ketinggalan lagu terbaru Sthepanie Poetri atau Maroon 5.
“Jadi kesimpulannya. Harapan kita semua hanya tergantung pada Sophie.” Kata Dede dan lagi – lagi mata semua teman sekelas tertuju padaku. Dita dan Sita bersujud sampai muka mereka ke tanah. Jenny berbicara keras – keras,
“Menurut ramalanku, Sophie akan membawa kita pada puncak kejayaan!”
Dan serentak aku mendengar suara – suara macam, “Please … please … please …”
Kalau sudah begitu, mana bisa aku menolak. Aku tidak punya pilihan lain lagi. Aku terpaksa. Aku mengangguk pada Dede dan Diki.
“OK kalau begitu. Sophie yang mewakili kelas kita nanti,” Diki tersenyum bahagia karena sudah bisa memimpin rapat yang menghasilkan keputusan gemilang. Seketika kelas yang semula hening berubah jadi ramai. Mirip seperti supporter sepak bola yang girang bukan kepalang tim favoritnya berhasil mencetak gol.
Masih ada satu masalah lagi,
“Kenapa tidak boleh ?” Dede meledak lagi ketika aku, wakil yang sudah disetujui kelas ditolak oleh Nino, sie. Kesenian OSIS.
“Yah terang saja lah. Namanya juga parade band. Jadi yang tampil yah harus dalam format band !” Nino tidak kalah meledaknya dengan Dede. Aku bisa maklum sih, setiap panitia pasti senewen kalau ada yang tidak beres.
__ADS_1
“Gini, Nin,” Diki berbicara tenang, “Di kelas kami gak ada yang bisa nge-band dan nyanyi selain Sophie,” belum selesai Diki berbicara Nino meledak lagi,
“Bagaimana bisa anak satu kelas gak ada yang bisa main musik ?!!”
“Ada Nino, Sophie bisa !!!” tangan kanan Dede menunjukku yang sedang berdiri tidak enak hati. Rasanya sangat tidak enak menjadi obyek untuk diperdebatkan.
“Sudah deh, aku tidak tampil juga gak apa – apa,” kataku pelan.
“Apa kamu bilang ?!!” Dede dan Diki berbicara sama – sama.
“Sophie aja sudah bilang tidak mau kenapa kalian yang malah maksa ?” Nino merasa menang.
Dede menarik napas kesal lalu merangkul pundakku menjauh. “Maksudmu apa sekarang Soph ? Kamu sudah bilang mau didepan teman – teman sekelas. Sekarang seperti tanpa merasa berdosa kamu bilang ‘Sudah deh, aku tidak tampil juga gak apa – apa’ seenaknya,” kepala Dede menggeleng – geleng dan mulutnya mencibir.
“De, sebelumnya aku sudah bilang kalau yang tampil khan harus band, bukan solo. Nino juga punya alasan sama. Peraturannya seperti itu, masa harus kita langgar ?”
“Bohong. Bukan itu alasannya. Alasannya sebenarnya karena kamu memang tidak mau tampil. Kamu lebih suka jadi tontonan orang di Toebroek daripada membuat bangga teman – temanmu sekelas !”
Kata tontonan orang membuatku tersinggung. Aku lepaskan rangkulan tangan Dede dengan kasar.
“Kamu pikir aku ini cewek apaan seenaknya jadi tontonan orang ?”
Dede terkejut.
“Pikir deh Soph. Nanti waktu wakil dari kelas – kelas lain tampil, teman – teman sekelas mereka akan menyoraki teman – teman sekelasnya. Nah, kalau tidak ada yang tampil di kelas kita, aku, Diki dan teman – teman sekelas kita yang lain mau menyoraki siapa ?
Langsung saja dalam bayanganku kulihat teman – temanku duduk di pojokan sekolah dengan wajah lesu. Mereka tidak menghiraukan hangar – bingar musik yang bercampur teriakan dari lapangan di tengah sekolah. Ada yang memutar – mutar bola basket dengan lemas, ada juga yang memandang dengan tatapan kosong.
“Paling tidak Soph, kalau kamu tampil akan ada yang kami tunggu. Walaupun band sebelum kamu nanti jeleknya minta ampun, tapi kami nanti akan tetap disana nunggu kamu tampil. Bagaimana ?”
…
Dalam hati setiap orang
Ada sebuah kotak daur ulang
…
“Kamu jangan ngomong seperti itu lagi,” ujarku tegas.
“Iya Soph, maaf. Aku tadi tidak sengaja.”
“Aku tahu. Tapi setidaknya kau mulai berhati – hati dengan ucapanmu.”
__ADS_1
Dede mengangguk, “Lalu ?”
“Aku tidak akan membiarkan kalian duduk lemas di pojokan sekolah.”
“Hah ? Maksudmu apa ?”
“Aku akan tampil buat kalian semua.”
Wajah Dede terlihat gembira lalu merangkul pundakku lagi berjalan menuju Diki dan Nino yang sepertinya telah memperoleh kata sepakat.
“Bagaimana Dik?” Dede bertanya dan dijawab dengan gelengan Diki.
“Nino yang cakep dan bijaksana. Aku taku kalau acara sekolah kita ini adalah parade band. Tujuan acara ini khan supaya setiap kelas bisa tampil dan menunjukkan bakatnya khan? Nah, kelas kami tidak punya band, hanya solois. Kalau Sophie gak tampil, kelas kami gak ada yang mewakili dan tujuan acara tidak bisa tercapai. Apa itu yang kamu inginkan?” Dede bertanya tajam pada Nino.
Nino celingukan, seperti serba salah. Aku tahu kelas kami pasti bukan yang pertama membuat masalah dengannya.
“Tapi aku tidak bisa begitu De. Kalau aku kasih ijin Sophie, kelas lain akan protes ke aku.”
“Sudah kalau begitu ikut aku saja dulu,” Dede menggandeng Diki dan Nino ke kantin sekolah. Di tempat ibu jualan bakso dia lalu bilang, “Bu, bakso istimewa buat Nino!”
Nino makan dengan lahap. Hari terakhir pendaftaran pasti mengras banyak tenaganya.
“Dik, uangmu!” Dede memerintah Diki yang memandangnya dengan kebingunan.
“Uangfmu Diki. Ini demi kelas kita. Kamu khan ketua kelas. Kamu harus bertanggung jawab!”
Dengan memelas dan pasrah Diki menyerahkan uang terakhir di dompetnya.
Setelah Nino selesai dengan bakso istimewanya, dia berjata;
“OK Sophie, kamu bisa tampil,” ujar Nino yang membuat Dede hampir melonjak girang, “Tapi kamu akan tampil di urutan terakhir.”
“Tidak apa – apa. Jangan kuatir Sophie, kami semua akan mendukungmu,” kata Diki.
Satu masalah lagi selesai.
Aku tahu apa artinya tampil di urutan terakhir. Biasanya yang menonton hanya tinggal sedikit. Yang lainnya sudah pulang atau makan bakso di kantin sekolah untuk mengisi tenaga yang dikeluarkan sehabis lonjak – lonjak dan berteriak – teriak. Bisa jadi juga teman – teman sekelasku yang lain sudah pada bosan menungguku tampil dan hanya ada segelintir panitia yang menontonku sebagai formalitas.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang