Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Diana


__ADS_3

“Aku harus mengiringi dia ? Memangnya siapa dia Don ? Dia baru menyanyi di sini beberapa kali. Aku lebih senior dari dia. Seharusnya dia yang mengiringi aku menyanyi. Bukan sebaliknya !” protes Diana pada Pak Doni, menejer restoran. Beberapa kali aku bertemu Diana di ruang rias waktu menyanyi di club house. Kami berdua tidak pernah satu panggung karena dia punya grup pengiring sendiri sedangkan aku, waktu itu, selalu bersama Kak Frans.


“Sorry Di. Semuanya ini diluar kuasaku. Menejer hotel yang menginginkannya begitu. Kamu tahu khan, Pak bos.” Pak Doni berusaha menjelaskan sambil wajahnya kelihatan tidak enak padaku.


“Pak, aku kira Sophie bisa menyanyi sendiri. Dia tidak perlu siapa – siapa menemani dia menyanyi,” sergah Stan berusaha mengeluarkan aku dari situasi itu.


“Aku tahu Stan. Aku sudah mencoba mengungkapkan ini pada Pak Bos tapi dia tidak mau mengerti. Menurutnya, mereka berdua ini adalah bintang kita,” tangannya menunjukku dan Diana bergantian.


“Bukannya selama ini kamu bilang aku bintang di sini Don? Baru saja ada anak baru lalu kamu bilang kami berdua adalah sama – sama bintang.” Diana memasang muka tak senang sambil mengoleskan lipstick merah di atas bibirnya.


“Acara ini adalah acara istimewa, bukan acara sembarangan. Kamu tahu khan, RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM. Katanya, kalau mereka menyanyi sama – sama,” lagi – lagi dia menunjukku dan Diana yang sudah selesai dengan lipstick dan kini beralih pada eye shadow, “akan meningkatkan kepercayaan para pemegang saham pada pihak menejemen. Kamu tahu khan apa artinya itu Stan ?”


Stan mengangguk. Baru kali ini aku lihat Stan kehabisan kata - kata.


“Tapi, aku di sini adalah penyanyi utama. Bukan pengiring lagu anak ingusan sepertia dia” Diana berteriak keras sambil menatap tajam kepadaku.


“Saya tidak apa – apa Pak, tidak pakai pengiring,” aku gak enak hati juga pada Diana. Dia lebih senior sedangkan aku masih baru dan dia diminta untuk mengiriku. Emang aku ini siapa? Mariah Carey? Hallooooooooo?????


“Sudah Di, terima saja. Diskusi kita sudah selesai. Kita sudah cukup membicarakan hal ini bahkan sebelum sekarang. Baik aku ataupun kamu sama – sama tahu kalau ini sudah diputuskan. Kamu ingat itu. Kalian punya 30 menit sebelum acara dimulai dan aku tidak ingin ada keributan.” Selesai mengatakan itu Pak Doni mendekatiku yang sedang berpura – pura tidak mendengar dengan memeriksa senar gitarku.


“Aku tahu kamu belum terbiasa dengan situasi seperti ini Sophie. Maafkan aku. Tapi aku percaya percakapan ini tidak akan mempengaruhi kamu untuk bernyanyi di luar sana. Betul begitu bukan ?” dia menunjuk kearah restoran. Heran, baru kali ini aku bertemu dengan orang yang punya hobi menunjuk – nunjuk.


“Iya Pak. Tapi sebenarnya saya ingin hal ini tidak terjadi.” kataku singkat.

__ADS_1


“Well. Who knows ?” katanya seraya pergi.


Setelah Pak Doni tidak ada di ruangan itu lagi, Diana cepat – cepat berdiri dari kursi riasnya. Dia mendatangiku lalu mencengkeram lenganku kuat – kuat dan berkata,


“Dengar kamu anak baru. Kalau saja semua ini bukan perintah dari bos. Tidak akan sudi aku melakukan ini. Jangan kau pikir semuanya ini terjadi karena kamu lebih baik dariku. Camkan itu !” begitu dekatnya muka Diana dengan mukaku sampai aku bisa mencium bau lipstick dari bibirnya.


“Hei … hei ….. Lepas Diana. Kamu tidak ingin mendapat masalah khan ?” kata Stan tegas sambil melepaskan tangan Diana dari lenganku. Di dalam mataku sudah menumpuk berkarung – karung air untuk aku keluarkan. Tapi aku tidak akan menangis di depan cewek jahat ini.


Beberapa saat berlalu dan mata Diana masih menantang Stan. Aku lebih memilih menundukkan kepalaku supaya air mataku tidak lekas jatuh.


“Ada masalah nona – nona ?” tiba – tiba saja tirai ruang rias terbuka dan seorang bapak – bapak yang tinggi dengan perut sedikit buncit dan wajah bersih nongol.


“Ahh, tidak ada apa – apa Pak. Kami hanya sedang memilih lagu sama – sama,” wajah Diana yang sebelumnya seperti serigala langsung saja berubah seperti Barbie. Terang saja, yang masuk barusan adalah orang yang Pak Doni sebut – sebut sebagai ‘Pak Bos’.


“Kalau yang meminta Bapak, mana mungkin kami tolak ? Betul khan Sophie ?” ujar Diana dengan senyum bersahabat dan merangkulku seperti seorang sahabat karib yang selalu pergi belanja sama - sama. Kalau saja situasinya berbeda, pasti sudah aku tonjok mukanya.


“Baik. Tidak ada masalah kalau begitu. Menyanyi yang bagus yah,” katanya sambil menepuk pudakku. “Selamat berjuang Nona – Nona,” dia berkata sambil memandang Stan kemudian berlalu pergi dan diikuti Diana.


“Sialan, memangnya aku ini mirip Nona – Nona,” dengus Stan membuyarkan keheningan. Aku tertawa sebentar kemudian menangis lama di bahunya.


“Sudah Sophie. Hushh … jangan menangis,” ujar Stan lembut sambil memegang kedua pipiku dengan tangannya yang halus.


“Ingat … kamu adalah seorang professional. Professional seperti kamu tidak akan terpengaruh dengan hal kecil seperti ini. Orang – orang di luar sana tidak akan mau mengerti apa kamu sedang sedih atau gembira. Yang mereka tahu adalah kau menyanyi di sana untuk membuat mereka gembira, untuk membuat mereka lupa akan kesulitannya selama beberapa saat. Kamu tahu itu khan ?”

__ADS_1


Aku mengangguk masih dengan sesenggukan. Aku benamkan kepalaku sebentar di bahu Stan supaya aku bisa menangis lebih puas. Aku jadi rindu aroma toebroek yang Nenek buat dan kesegarannya ketika mengalir melalui kerongkonganku. Aku rindu Kak Frans dengan suara gitarnya yang meneduhkan hati, aku rindu panggung kecil dan aku rindu Hardin. Cowok itu sudah sangat dekat dengan hatiku sehingga selalu aku perhitungkan selain Nenek, Kak Frans, Fernando dan Stan.


“Tarik napas dalam – dalam Sophie,” kata Stan sambil menuntunku ke meja rias. Dia ambil bedak dan membetulkan riasanku yang bergaris – garis di pipi karena air mata.


“Stan, aku mau pulang saja,”


“Sssttttt, tidak boleh begitu. Kita sudah tanda tangan kontrak. Kalau kita tidak patuh pada kontrak, huhhhhhhhhh, uang akan melayang, kita harus ganti rugi banyak. Ayo Sophie, kuatkan hatimu. Di luar sana, masih banyak cewek macam Diana. Kalau kamu tidak bisa menghadapai satu cewek saja macam itu, kamu tidak akan bisa melawan cewek – cewek jahat yang lain. ingat, kamu dibesarkan perempuan kuat. Nenekmu pernah bertarung dengan seekor kerbau yang sekarang sudah tinggal namanya. Bagaimana?” Stan mengguncang – guncangkan bahuku.


“Bagaimana?”


Aku mengangguk. Ini adalah pilihanku dan aku harus punya integritas di sini. Aku ingat – ingat Nenek, Mama dan semua cewek yang ada di dalam hidupku. Mereka semua orang kuat dan aku tidak akan membiarkan satu Diana menghancurkanku sekarang.


“Kamu sudah siap sekarang. orang – orang di luar sana pasti sudah menunggumu.”


Aku menarik napas panjang. Aku melangkah keluar dari kamar rias.


 Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1


__ADS_2