Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Kebenaran


__ADS_3

Akhirnya, hari itupun usai. Semua orang senang, kecuali Diana. Setelah selesai kami menyanyi, tidak satu patah katapun dia ucapkan.


“Kerja bagus. Kalian pasti lelah, cepat makan sekarang. Kalau kalian tidak cepat – cepat, orang – orang itu pasti melahap semuanya,” Pak Doni dengan gaya menunjuk – nunjuknya yang khas berbicara. Kami semua berusaha tertawa mendengar gurauannya yang tidak lucu itu.


Aku letakkan gitar asing yang selama ini menggantung di pundakku sampai pegal. Gitar Mama, berapapun lamanya menggantung di pundakku tidak akan membuat pundakku pegal seperti itu. Gitar Mama serasa mengerti lekuk tubuhku sehingga bisa menempatkan dirinya sendiri pada tempat yang tepat. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari – cari gitar Mama. Rasanya aku sangat merindukannya. Kecuali malam ini, belum pernah sekalipun aku menyanyi tanpa gitar Mama.


“Kamu mencari ini khan ?” Stan datang membawa gitar Mama. Rasanya seperti menemukan emas sebesar batu bata.


“Kau tidak ingin makan Sophie ? Aku sudah lapar sekali nih,” kata Stan sambi mengusap – usap perutnya yang rata.


“Bagus sekali nona – nona,” Menejer hotel yang selalu kami sebut sebagai Bos itu  mendatangi kami berdua sambil memandangi Stan seperti biasa.


Melihat Bos besar yang datang, Diana berlalti – lari mendekat, lalu tersenyum dan merangkulku.


“Kami tadi tim yang hebat khan Bos?” ujar Diana genit.


“Tentu saja, hebat … hebat … sekali. Terutama kamu Nona,” Bos memandangku dengan tersenyum. “Akan aku minta Pak Doni untuk memperpanjang kontrakmu di sini. Bagaimana? Kamu pasti mau bukan?”


Aku bingung, aku pandang Stan dan Stan berbalik memandangku sambil mengangguk – angguk. Tapi aku ragu menjawab iya sampai akhirnya Stan berbicara,


“Mungkin Sophie lelah Pak. Jadi dia masih bingung. Sophie pasti mau kok,” ujar Stan.


“Kontrak sya diperpanjang juga kan Bos?” Diana bertanya manja sambil memegang tangan Pak Bos. Pak Bos dengan sopan melepaskan tangan Diana.


“Kita bisa bicarakan itu nanti Diana,” ujar Pak Bos bijak. Pak Bos lalu berbalik menghadapku, sehingga Diana sekarang ada di belakangnya. Sekilas aku menangkap rasa tidak percaya dari matanya. Bintangnya sudah pudar.


“Dan kamu Sophie. Yang kamu lakukan lebih daripada menyanyi. Tidak semua orang bisa seperti itu. Kamu menyanyi dengan hati. Dengarkan aku Sophie, sedikit orang yang bisa melakukannya sepertimu. Kamu istimewa. Teruslah menyanyi Sophie, mungkin ini adalah jalan masa depanmu. Mari nona – nona,” katanya sambil berlalu pergi tanpa memperdulikan Diana. Ketika melewati Stan, Pak Bos berkata, “Mari Nona,” sambil mengerling.


Stan mendengus dan mukanya merah, “Memangnya orang itu siapa selalu memanggilku dengan Nona,” ketika Pak Bos sudah pergi.

__ADS_1


“Maksudnya bukan kamu Stan. Yang dia maksud tuh hanya aku.”


“Apa kamu tidak mendengar apa yang dia ucapkan Sophie. ‘Nona – Nona’. Itu dua kata, menunjukkan lebih dari satu, plural. Sedangkan dia menunjuk kita berdua. Kau dan aku. Kalau saja dia bukan bos. Sudah kutonjok mukanya,” sergah Stan berapi – api. Bibirnya yang merah kelihatan mengkilat terkena cahaya lampu.


“Sudah, biarkan saja. mungkin dia itu salah ngomong saja. lagian juga dia yang kasih kita pekerjaan khan? Kalau kamu marah – marah sama dia, bisa – bisa kita gak dapat uang lagi loh,” kataku berusaha menenagkan, tidak menghiraukan hatiku yang rasanya tidak nyaman. Tentu saja aku akan tetap menyanyi, tapi akum au menyanyi di tempat yang aku suka, bersama dengan orang – orang yang aku cintai.


“Kamu benar. Kamu mau memperpanjang kontrak khan?”


Mendengar kata ‘memperpanjang kontrak’ itu, Diana melengos kemudian berjalan ke ruang rias sambil sebelumnya menyenggol bahuku.


“Uhhh, cewek itu.” Aku berkata kesal. “Kamu tahu Stan, kenapa aku bisa terkunci di kamar mandi hari ini?”


“Kenapa?” Stan bertanya dengan mata terbuka lebar.


“Karena cewek culas itu. Dia yang mengunci aku di kamar mandi. Pasti dia tidak mau aku tampil di depan para bosa itu hari ini,” aku berkata dengan nafas memburu, lalu menyambung ceritaku tentang bagaimana aku mengetahui kalau Diana yang mengunci aku di kamar mandi.


“Jangan kuatir Sophie, aku akan membuatnya tidak berani macam – macam dengan kamu lagi setelah hari ini. Akan aku jambak cewek culas itu,” ujar Stan marah.


“Maksudmu kamu gak mau memperpanjang kontrak?”


Aku mengangkat bahuku.


“Aku mau ganti baju. Kamu makan dulu deh,” kataku pada Stan setelah beberapa saat. Aku lalu meninggalkan Stan, pergi ke ruang rias. Diana ada di sana menepuk – nepuk wajahnya dengan kapas basah face tonic.


“Kamu membuatku iri,” tukas Diana tiba – tiba.


Aku melihat ke sekeliling, bertanya – tanya kalau ada orang lain yang dia ajak bicara. Aku tidak melihat ada orang lain di ruang rias selain aku dan Diana. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang kudengar sekarang. Aku menoleh ke arahnya.


“Kak Diana ngomong sama aku?” aku berusaha memastikan.

__ADS_1


“Jangan pura – pura lugu. Jangan menatapku aneh seperti itu. Aku ini manusia, bukan setan.”


Dia memang manusia, tapi sikapnya padaku seperti setan sepanjang aku menyanyi di sini.


“Sorry … sorry, aku tidak bermaksud membuat Kak Diana tersinggung.”


Memang aku tidak mau membuat dia tersinggung, aku hanya menggenggam erat tanganku supaya tidak menonjok mukanya.


“Tidak lebih dari satu bulan kamu menyanyi di sini, tapi kamu sudah mendapat perhatian banyak orang. Kontrakmu dengan mudah diperbarui. Cuma kamu nyanyi saja orang – orang sudah tepuk tangan gak karuan. Kamu tidak akan mau tahu apa yang aku harus lakukan supaya kontrakku diperpanjang setiap bulan Sophie,” dia mengambil nafas panjang. semoga dia tidak curhat yang bikin aku kasihan padanya.


“Aku menyanyi disini sudah lebih dari enam bulan Sophie dan baru akhir – akhir ini saja mereka memperhatikan aku. Itupun tidak lama, kamu mengambilnya dariku. Sebetulnya apa yang membuat kamu istimewa? Kamu bisa main gitar, aku akui itu. Tapi suaramu? Wajahmu? Aku punya semua yang kamu punya. Tapi kenapa mereka lebih memperhatikanmu?”


Aku lihat matanya berkaca – kaca.


“Kamu masih muda, masih banyak kesempatan. Bukan hanya di sini. Kamu gak harus bayar kontrakan, bayi kecil yang selalu membutuhkan susu dan orang yang harus aku bayar untuk menjaga anakku kalau aku kerja. Bahkan aku tidak punya suami. Dan kamu ingatkan Pak Bos tadi bilang apa? Dia masih mau membicarakan tentang kontrakku, dan itu bukan tanda yang bagus. Aku memerlukan pekerjaan ini Sophie, hanya ini yang aku tahu.”


Diana hampir menangis. Dan aku benar, aku jadi kasihan padanya. Tapi terlebih dari itu semua, aku jadi lebih mengerti, kenapa dia bersikap jahat padaku selama ini. Dia hanyalah seorang ibu yang harus memenuhi kebutuhan anaknya. Dia menghapus air matanya.


“Tapi mungkin memang harus begini. Tidak seharusnya aku menyalahkanmu.” Diana sudah mengganti kostum panggungnya dengan jeans ketat dan kaos longgar. Dia menepuk pundakku sebentar kemudian pergi ke luar.


Sambil membersihkan wajahku aku memikirkan sikap Diana. Aku rasa, tidak hanya uang dan penghargaan yang aku dapat disini. Tapi aku mulai belajar untuk lebih memahami orang. Belum tentu apa yang mereka tunjukkan sama dengan apa yang mereka rasakan. Seperti Hardin yang memintaku untuk berpikir apa mimpiku adalah benar – benar keinginan hatiku. Dia menjemputku.


 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie

__ADS_1


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2