Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Pertunjukan


__ADS_3

Aku sudah siap dengan gitar asing itu dan duduk di kursi tinggi yang memang disiapkan buatku. Lampu sorot menyala ke mukaku dan muka Diana. Diana berdiri di salah satu ujung panggung dan aku ada di tengah, lengkap dengan mike dengan stand ada di depanku. Aku mengatur nafaskau dan mulai membayangkan lagi ketenangan toebroek, Kak Frans dengan gitarnya, Nenek dengan harmonikanya, Fernando dengan jagungnya, dan tentu saja Hardin dengan senyum manisnya.


“Sophie … Sophie … bumi memanggil Sophie. Apakah di Mars baik – baik saja Sophie? ” Diana memanggilku dengan suara manisnya, lalu tertawa. Tertawa yang langsung saja disambut dengan tertawa seluruh isi ruangan.


Aku tergagap, tidak menyangka lamunanku tentang toebroek membuatku terlena. Aku atur nafasku lagi dan kulihat Stan di belakang ruangan membisikkan ‘semangat … semangat …” sambil meloncat – loncat supaya aku melihat dukungannya. Menejerku itu tahu bagaimana membuat aku tersenyum.


“Terima kasih Kak Diana. Selamat buat direksi hotel yang baru saja terbentuk. Semoga hotel ini semakin maju dan menjadi hotel terdepan dalam pariwisata kota batu,” aku berkata disambut dengan tepuk tangan semua orang di sana. Diana tampaknya tidak suka dengan tepuk tangan yang aku dapat. Dia lalu menghampiriku dan merangkul pundakku. Aku dapat rasakan dia meremas pundakku dan berusaha menggoreskan kukunya di kulitku. Dengan lembut aku dorong dia dengan pundakku. Kalau orang tidak memperhatikan dengan seksama, mereka psati mengira kami adalah sahabat dekat yang suka meni pedi sama – sama. Tapi sebetulnya kami lebih mirip kontestan X factor itu, yang tiba – tiba saja saling memukul di hadapan Simon Cowell dan juri – juri lainnya. Cari saja di youtube, kalian pasti nemu dan mengerti bagaimana seharusnya kami berdua tampak.


“Sudah siap Kak Diana?” aku berkata tenang.


“Tentu saja siap Sophie, kamu sih pakai pergi ke Mars dulu,” dia berkelakar dan disambut dengan senyum seadanya oleh orang – orang di sana. mampus kamu.


“Lagu pertama kami kali ini sangat istimewa. Lagu dari Bruno Mars tentang sahabat ‘Count on Me’. Kak Diana sendiri yang memilih kunci dasarnya dan ini adalah pilihan yang tepat Kak Diana,” aku berkata tenang dan aku lihat kilatan panic di wajah Diana.


Aku melihat Dino dan mengangguk. Dino mulai memainkan organnya dan aku mulai memetik gitarku. Diana dengan panic berbisik,


“Turunkan kuncinya … turunkan kuncinya,”


Tapi sudah terlambat cewek jahat. Aku tetap tersenyum manis pada para penonton dan juga Diana. Aku sudah memetik gitarku dan Dino bahkan sudah tidak melihat ke arah kami berdua. Beberapa kali Diana berputar memberi Dino tanda untuk berhenti. Diana membuat tanda dengan tangannya dan melambai – lambaikannya di depan lehernya, seperti tanda membunuh begitu. Tapi Dino sudah asyik dengan permainannya dan aku bertekad tidak akan berhenti. Ketika intro sudah hampir selesai, aku berteriak,


“Diana saudara – saudara!” dan ruangan itu bergemuruh dengan tepuk tangan.


Diana mulai menyanyi dan kulihat otot – otot di lehernya menegang. Dan Diana ketinggalan intronya, dia tidak bernyanyi di waktu ketika dia seharusnya bernyanyi. Aku berpandang – pandangan dengan Dino, membuat bridge sederhana dan kembali masuk pada intro. Diana terlihat cemas, dan dia pantas menerimanya. Dia mulai menyanyi,


 


If you ever find yourself stuck in the middle of the sea,


I'll sail the world to find you


If you ever find yourself lost in the dark and you can't see,


I'll be the light to guide you


 


Salah satau nada tertinggi lagu ini ada di pembuka lagunya. Diana mencoba mengajak penonton menyanyi dengan menyorongkan mike ke penonton dan mereka malah memilih register rendah lagu ini. Mereka bernyanyi dengan suara besar, tidak ada semangat dan Diana juga demikian. Dan ketika dia mulai menyanyi lagi, suaranya seperti tikus terjepit dan membuatku dan Dino terkejut. Aku memberi tanda berhenti dan Dino pun berhenti.


“Kak Diana mungkin terlalu karena tadi latihan terus. Minum dulu Kak Diana,” aku berkata.


Diana ber’eme – ehem’ dengan mikenya dan menerima minuman dari salah satu penonton. Dia meminumnya sampai habis lalu berkata.


“Ah Sophie. Memang sengaja yah nadanya ditinggikan?” Diana berkata.


“Gak lah Kak, khan Kak Diana yang minta,” aku tersenyum manis.


“Tapi apa artinya malam perayaan peresmian direksi baru tanpa sebuah pembuka yang hebat bukan?” Diana berteriak lagi dan disambut dengan gemuruh tepuk tangan mereka.


“Baiklah Sophie, kita main di C seperti aku minta sebelumnya yah. Tepuk tangan buat Sophie Bapak Ibu!” penonton kembali bertepuk tangan.


Maka aku dan Dino menuruti apa yang dia minta. Paling cewek culas itu mengerti apa akibatnya kalau bermain – main dengan aku.


 


Aku mulai bernyanyi,


 


If you ever find yourself stuck in the middle of the sea,


I'll sail the world to find you

__ADS_1


If you ever find yourself lost in the dark and you can't see,


I'll be the light to guide you


Find out what we're made of


When we are called to help our friends in need


 


“Mari bernyanyi sama – sama Bapak Ibu,” aku berteriak. Dan gemuruh seperti konser itu aku dengar, semua orang yang ada di sana menyanyi.


 


You can count on me like one two three


I'll be there


And I know when I need it I can count on you like four three two


You'll be there


'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah


Whoa, whoa


Oh, oh


Yeah, yeah


 


Diana lalu menyambung,


 


I'll sing a song


Beside you


And if you ever forget how much you really mean to me


Everyday I will


Remind you


 


Lalu sama – sama kami mengakhir lagu itu dengan bernyanyi sama – sama lagi,


 


You can count on me like one two three


I'll be there


And I know when I need it I can count on you like four three two


You'll be there


'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah

__ADS_1


Whoa, whoa


Oh, oh


Yeah, yeah


 


Selepas lagu pertama ini, semuanya berjalan mulus tanpa insiden. Diana sudah belajar apa akibatnya kalau memperlakukanku dengan buruk atau bersikap semuanya dalam pertunjukan bersama.


Ada lagu yang harus kunyanyikan sendiri. Ada juga lagu yang harus kunyanyikan dengan Diana. Sepanjang acara Diana sama sekali tidak membuat ulah seperti sebelumnya. Hal ini sangat melegakanku. Berkali – kali aku mencari Hardin di deretan bangku penonton tapi dia tidak kunjung datang.


Lagu terakhir aku menyanyi sendiri dan Diana menjadi backing vocal di belakangku. Lagu ini adalah laguku sendiri dan aku lihat semua orang yang sebelumnya hingar bingar itu sekarang tenang. Aku bayangkan lagi diriku menyanyi di toebroek dengan orang – orang yang aku cintai. Aku mulai menyanyi,


 


Cinta datang di waktu yang tidak diduga


Seperti hujan ketika langit sedang terang


Datang tiba – tiba


Tidak ada peringatan


Tidak ada tanda – tanda


Hanya datang dan memberi kejutan


Buka hatimu, dengarkan semesta berbisik


Cintamu tiba di ambang pintu


Mengetuk – ngetuk hatimu


Menggelitik perasaanmu


Dan kau mulai bimbang


Haruskah tertawa, haruskah menangis


Waktu di dunia tidak untuk dijalani sendiri


Kalau memang itu yang kamu mau


Bentangkan tanganmu


Buka lebar – libar jiwamu


Cinta itu sedang menunggu


 


Ketika senar terakhir aku petik, gemuruh itu terdengar lagi. Semua orang berdiri dan bertepuk tangan, untukku. Di ujuang ruangan, aku lihat kepala Hardin nongol di antara kepala – kepala yang lain.


Lagu itu memang aku tulis buat dia. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie

__ADS_1


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2