Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Job Mendadak


__ADS_3

Waktu pelajaran Bahasa Indonesia tadi aku tertidur sebentar ketika giliran Jenny berbicara di depan kelas. Sebelumnya masih sempat aku dengar dia berkata,


“Bahkan, banyak orang pada jaman yang serba mengutamakan pemikiran logis ini masih mempercayai nasib yang dibaca melalui … bla …bla …bla.”


Dan ………..  “Aduh !” lagi – lagi aku menerima bola kertas segenggaman tangan dari Dede.


“Jangan sampai kamu tertidur waktu giliranku nanti,” katanya setengah mengancam. Maka aku melakukan segala cara seperti mencubit pipi, menarik – narik rambut, menggambar Pak Rustam dengan rambut Einstein dan mengedarkan surat permintaan permen kopi ke bangku teman – temanku secara diam – diam supaya tidak tertidur. Karena itu aku sempat mendapat teguran dari Pak Wahyu.


“Sophie, kamu kenapa?”


Dan karena aku tidak segera menjawab dia menambahkan, “Saya yakin kamu pasti tahu bagaimana sikap menghormati teman yang sedang berbicara.”


Kemudian Jenny berbicara lagi, “Ada beberapa penelitian yang berusaha membuktikan secara ilmiah bagaimana posisi bintang ….. bla … bla … bla.”


Dan selama pelajaran hari ini aku harus berusaha mati – matian untuk tidak tertidur. Rasanya sungguh tersiksa. Aku sungguh – sungguh menantikan jam satu waktu Hardin menjemputku.  Dan aku berhasil. Aku berhasil tidak tertidur, aku berhasil mendengarkan presentasi Dede dan aku berhasil melewati perjuangan sekolahku hari itu. Terima kasih pada berbutir – butir permen kopi yang disumbangkan teman – teman padaku.


“Kamu nanti nyanyi di club house?” tanya Hardin di atas sepeda motornya yang berjalan ketika dia menjemputku hari itu.


“Semoga tidak Hardin,” aku menguap lebar – lebar di balik punggungnya. “Tapi gak tahu juga kalau ada acara mendadak. Kuliahmu tadi bagaimana ?”


“Gak begitu baik. Tiba – tiba saja notebookku ngadat.”


“Kenapa ?”


“Komputer Kakek kemarin error jadi dia pakai notebookku buat cek harga di internet. Setelah dia selesai, ternyata giliran notebookku yang error. Padahal semua dataku untuk presentasi aku simpan di sana.”


“Sekarang ?”


“Masuk ‘bengkel’,” katanya singkat.


Motor Hardin membawa kami ke Toebroek tidak lama kemudian. Terlihat Kak Frans melap meja dan kursi kayu yang biasanya menjadi tugasku. Aku jadi merasa bersalah, tidak seharusnya Kak Frans melakukannya.


“Kak biar Sophie saja,” aku letakkan tasku di salah satu kursi dan berusaha mengambil lap dari tangannya.


“Biar saja Sophie. Kamu khan baru saja pulang dari sekolah.”


Aku berdiri tidak enak hati. Hardin menyusulku dari belakang setelah memarkir motornya di salah satu bagian yang rindang.


“Stan baru saja telpon. Dia akan datang sebentar lagi,” kata Kak Frans.


“Ngapain ?”

__ADS_1


“Gak tahu sih Soph. Tapi katanya ada acara di sana. Kamu diminta menyanyi,” kata Kak Frans. Hardin duduk sambil mengipasi wajahnya yang merah kepanasan. Aku pergi ke kamarku untuk berganti pakaian. Di meja dekat tempat tidurku, ada segelas susu yang telah dingin. Pasti Nenek sengaja menyisahkan satu gelas untukku. Membayangkan begitu banyak cinta yang ada dalam segelas susu itu membuatku tidak tega untuk tidak menghabiskannya sampai tuntas. Di pojok – pojok bibirku terdapat warna putih bekas susu yang langsung aku usap dengan punggung tanganku. Aku lepas seragam putih abu – abu dengan kaos dan celana sebatas lutut. Rasa kantuk yang sebelumnya menderaku kini telah hilang.


Aku lihat Kak Frans sedang berbicara dengan Hardin. Di hadapan mereka duduk Stan. Dia memakai kaos biru pas badan yang tampak cocok sekali dengan kulitnya yang putih.. Kak Frans berbicara sambil sekali – kali memetik gitarnya. Sudah beberapa waktu aku rindu mendengar Kak Frans menyanyi. Ritme yang dia mainkan tidak akan pernah bisa aku tiru. Mungkin karena dia punya sesuatu yang baik aku atau Nenek tidak punya.


“Nenek kemana Kak ?” aku bertanya sambil duduk di salah satu kursi di sekitar sebuah meja bundar.


“Ke rumah Tante Irma.”


“Din, kamu sudah kenal Stan kan ?”


Stan menyunggingkan senyum kecil di wajahnya pada Hardin. “Sudah. Maksudnya barus saja kenal. Tapi aku sudah berkali – kali mendengar cerita tentang Kak Stan dari Sophie,” tukas Hardin pada Stan.


“Ah betulkah ? Cerita bagus apa jelek ?” ujar Stan dengan senyum menggoda.


“Gak ada jeleknya kok Kak,” jawab Hardin.


“Ada apa Stan ?” tanyaku.


“Ah iya. Job dari Pak Doni buat nanti sore Sophie.”


Aku memandang takut – takut pada Kak Frans.


“Gak usah takut Soph. Kamu melakukannya sendirian karena salahku juga,” Kak Frans berkata seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan.


“Diana ?” aku berkata ragu – ragu.


“Kamu professional Sophie. Ada atau tidak ada Diana tidak akan mempengaruhimu menyanyi. Begitu bukan ?”


Sedikit terpaksa aku mengangguk.


“Kita pergi sekarang Sophie,” kata Stan lagi.


“Aku ganti baju dulu,” aku pergi ke atas membiarkan mereka melanjutkan ngobrol ala cowok yang sebelumnya sempat terputus. Aku ganti kaos dan celanaku dengan yang lebih baik.


“Kamu mau ikut Din ?” aku bertanya pada Hardin. Siapa tahu dia mau ikut dan aku bisa mengenalkannya pada Diana.


“Gak bisa Soph. Aku harus ngurus kebun wortel siang ini. Tapi nanti malam, kalau aku ada waktu, aku pasti nonton kamu. Kamu gak malu khan aku lihat ?”


Aku tersipu, “Gak malu kok. Santai aja.”


Hardin kemudian pergi. Aku juga pergi meninggalkan Kak Frans di rumah bersama Fernando yang aku yakin pasti sekarang berjalan – jalan di sekitar kebun apel dan mobil Stan membawaku pergi ke club house.

__ADS_1


Di sana sudah beberapa orang yang sekali dua kali pernah ku lihat sebelumnya. Beberapa orang sedang sibuk memasang berbagai kabel warna – warni untuk sound. Yang lainnya memasang lampu, karpet dan hiasan.


“Ada acara apa sih Stan ?”


“Kata Pak Doni, dewan direksi hotel yang baru sudah terbentuk. Hari ini acara syukurannya,” jelas Stan.


Pantas saja semua set yang aku lihat sekarang tampak lebih mewah dari sebelumnya.


“Stan,” seseorang memanggil Stan. Stan kemudian membalasnya dengan melambaikan tangan.


“Hei. Kenalkan, ini Sophie. Sophie ini Dino. Dia yang nanti akan mengiringimu bernyanyi.”


“Ah … rupanya kamu yang banyak dibicarakan orang itu,” kata cowok itu ramah sambil mengulurkan tangannya. Aku terima uluran tangannya kemudian menjawab, “Hai,” begitu saja. Aku bukan Stan yang bisa akrab dengan seseorang hanya dalam hitungan menit. Kemudian kami bertiga  sama – sama diam bingung akan mengatakan apa.


“Sophie, bandnya yang nanti akan mengiringimu bernyanyi,” ucap Stan memecah hening.


“Din … sini sebentar !” seseorang memanggil Dino.


“Aku pergi dulu,” katanya kemudian pergi. Aku tersenyum untuk menunjukkan kesan baik. Ada satu hal yang ingin aku bicarakan dengan Stan.


“Stan, kamu bercanda khan ? Aku tidak biasa menyanyi diiringi band yang berisik.”


“Sophie, santai saja. Kamu belum tahu bagaimana permainan mereka.”


“Sepertinya aku tidak bisa Stan. Biasanya hanya gitar Kak Frans dan harmonica Nenek yang ada di sampingku. Tapi sekarang dalam waktu singkat aku harus menyesuaikan diri dengan keyboard, bass, drum ….”


“Jangan nervous dulu. Ini acara istimewa Sophie. Pantas saja khan pihak menejemen meminta sesuatu yang lebih. Lagipula, kita sekarang tidak dalam posisi menawar. Kita menerima apa yang diperintahkan,” Stan berkata sambil memegang pundakku.


“Stan, kita bisa mulai sekarang ?!” teriak Dino dari belakang keyboardnya.


“Mereka sudah menunggumu,” Stan berjalan mendorong tubuhku seakan – akan enggan beranjak dari tempatku semula.


Di atas panggung kecil yang mereka sediakan, sudah mereka siapkan dua buah kursi yang salah satunya sudah diduduki Diana. Dia memandangku sesaat kemudian membuang mukanya untuk melihat daftar lagu yang akan kami nyanyikan.


“Ini daftar lagunya Sophie. Kamu bisa khan ?” ujar Dino menyodorkan lima buah lagu yang akan kami nyanyikan. Setelah aku teliti beberapa saat, rasanya tidak ada masalah. 


 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2