Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Kesempatan yang tidak akan datang dua kali


__ADS_3

“Dengarkan aku burung nakal,” kataku pada Fernando. “Begitu dia lewat, kamu harus berikan surat ini. Kamu mengerti?”


Fernando mengangguk – angguk.


“Kamu yakin dia akan melakukan pa yang kamu katakan?” tanya Dede kuatir.


“Santai saja, Fernando ini memang nakal. Tapi dia pintar. Betul khan Fernando?”


Fernando lalu berteriak – teriak sambil mengepak – ngepakkan sayapnya memutari kamarku.


“Dia mengerti kok De.”


“Yah semoga saja,” ujar Dede kuatir. lalu sepeti yang kami sudah sangka sebelumnya, Hardin datang. Aku lihat di ujung jalan dia datang, berjalan pelan – pelan. Hardin berjalan melewati jalan kecil yang akan membawanya ke samping kebun apel.


“Itu dia datang,”


“Hah mana ? Yang mana ?” kata Dede sambil menjulurkan kepalanya keluar dari jendela. Untung Hardin masih jauh. Kalau saja dia dekat, pasti kepala Dede sudah dia lihat.


“Dede ! Kepalamu itu loh !”


“Kenapa ??? Kenapa kepalaku?” Dede kebingungan sambil memegang kepalanya.


“Kepalamu nanti kelihatan. Nanti kita ketahuan kalau sedang sembunyi di sini !” aku berkata sambil menyeret Dede untuk menyembunyikan kepalanya.


“OK Fernando. Sekarang lakukan tugasmua. Ingat, kali ini kau tidak boleh salah. Mengerti?”


Fernando mengangguk – angguk.


Aku lepaskan Fernando di tanah dan dia mulai berjalan. “Ayo, berikan pada cowok itu,” aku memberinya semangat. Dede berdiri di sampingku sambil mengurut – urut dadanya. Kami berdua tidak menyangka bahwa memberikan sebuah surat saja bisa membuat rasa deg – degan yang intense begini.


Fernando berjalan berputar – putar, tapi dia tidak pergi ke jalan samping di kebun apel. Dia malah pergi ke Kak Frans yang lagi ngobrol sama Nando.


“Apa ini Fernando?” Kak Frans bertanya dan mengulurkan tangannya untuk mengambil surat yang ada di paruh Fernando.


“Ah, jangan!” aku dan Dede berteriak bersamaan. Kami berlari menggendong Fernando untuk mengarahkannya ke jalan yang benar.


“Burung nakal, bukan Kak Frans. Ke Hardin, cowok pencuri apel tempo hari.”


“O … o ….,” Fernando berujar sambil menutupkan sayapnya di matanya.


“Kamu mengerti Fernando?” Dede bertanya untuk memastikan.


“Tidak boleh salah lagi yah Fernando,” aku berkata. Aku semakin deg – degan karena kulihat Hardin sudan mulai mendekat.


“Sekarang Fernando,” aku melepaskan Fernando lagi.


Kali ini dia diam saja, mematung seperti tidak terjadi apa – apa. Apa dia tidak mengerti kalau dia sekarang sedang melaksanakan tugas mulia?

__ADS_1


“Ayo Fernando,” aku berkata lagi pelan – pelan. Hardin sudah semakin mendekat.


“Hush … hush …” Dede menyemangati Fernando.


Hardin semakin mendekat dan aku bisa melihatnya dengan jelas. Aku dan Dede bersembunyi di balik jendela kamarku, deg – degan. Apakah burung nakal itu bisa menyelesaikan tugas yang diembannya?


Masih dalam kamar aku dan Dede mingintip. Aku lihat Hardin menunduk begitu melihat Fernando. Dia ulurkan tangannya, lalu tersenyum melihat namanya ada di atas amplop yang dibawa Fernando. Hardin mengambil amplop itu, tapi sebelum dia berhasil membukanya, burung nakal itu mematuk kakinya dengan keras lalu mulai berteriak,


“Pencuri … pencuri ….,” lalu berlari masuk ke dalam kamarku lagi.


Aku dan Dede membungkam mulut kami bersama – sama. Tidak kami sangka bahwa perkara kirim mengirim surat akan menjadi setragis ini.


Hardin memegangi kakinya yang pasti sekarang nyut-nyuttan karena patukan Fernando. Fernando menghambur ke kamarku sambil tetap berteriak, “Pencuri … pencuri …” dan segera saja aku bekap mulutnya.


Aku lihat Hardin membuka amplop suratku, kemudian dia tersenyum. Dia berjalan pulang. Kami berdua memandangi dia sampai dia menghilang di ujung jalan.


HP Dede bergetar beberapa kali. “Nando miss call. Mungkin dia pingin pulang,” katanya.


“OK, trims kamu mau kesini,” ujarku sambil memeluk Dede.


“Thanks De. Sorry aku sudah memotong waktu pacaranmu dengan Nando hari ini,”


“Jangan begitu. Kamu sahabatku. Aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama padaku suatu saat nanti meskipun kamu sudah punya pacar. Tapi meskipun kamu tidak melakukannya. Kamu tetap sahabatku Soph,” kata Dede lagi. Meskipun kedengarannya sok tua, tapi di mataku Dede adalah seorang cewek yang sangat dewasa. Tidak seperti diriku yang sering berlaku kekanak – kanakan.


“Kamu harus cerita kalau – kalau dia hubungi kamu nanti,” Dede mengedipkan matanya.


Setelah mengantarkan Dede sampai pintu, aku cepat – cepat kembali ke kamarmu dan terus saja memandangi HPku. Beberapa kali HPku menyala, tapi hanya ada notifikasi tidak penting yang aku dapatkan. Yang aku maksud dengan notofikasi tidak penting adalah semua notifikasi yang tidak ada hubungannya dengan Hardin.


Bagaimana?


Dia sudah hubungi kamu apa belum?


Tetap semangat


Dan semacamnya.


Aku sampai binging tidak bisa menjawab pertanyaan Dede.


“Ada apa Nona kecil? Kenapa kamu kelihatan risau begitu?” Nenek bertanya sambil mengaduk toebroek untuk pengunjung yang datang hari ini.


“Gak ada apa – apa Nek. Cuma nunggu kabar dari teman saja,” jawabku sekenanya.


“Oh,” Nenek melanjutkan lagi membuat toebroek. Kamu ingin menyanyi sama Nenek malam ini?   


“Mau Nek,” aku menjawab. Mungkin menyanyi akan sedikit membuat rasa gundahku hilang.


“Mainkan gitarmu, Nona Kecil,” ujar Nenek ketika kami sudah ada di panggung kecil di toebroek.

__ADS_1


Aku memainkan gitarku pelan, dan semua orang mulai menghentikan kegiatannya. Kota Batu cukup dingin malam itu, dan bulan bundar bersinat di langit. Aku Tarik napas pelan – pelan lalu aku mulai bernyanyi,


 


Kalau hatimu ragu,


Dengarkan saja jangan berteriak pilu


Hati manusia seperti radar


Mendeteksi setiap kesalahan


Sekaligus bertindak seperti mercusuar


Memberitahumu laut tanpa karang


Jadi percaya saja hatimu


Jangan ragu – ragu


Karena kau tahu kalau setiap kebenaran itu


Tersimpan dalam pojok sukmamu


 


Nenek lalu memainkan bait melody dengan harmonikanya. Nadanya mendayu – dayu membuat setiap orang yang ada di toebroek malam itu terlempar ke dalaqm dimensi yang lain. sebuah dimensi yang membuatmu bahagia dan merasa hangat, sekaligus mendambakan cinta dari mereka yang kamu sayang. Aku mengakhiri lagu itu dengan sebuah petikan di senar nomor 6. Aku berhenti dan semua orang bertepuk tangan. Nenek memelukku dan aku tersenyum.


Lalu aku melihat dia di sana, di salah satu pojok di tempat duduk toebroek. Hardin, cowok itu memandangku tanpa berkedip, membuat jantungku berdetak kencang dan pipiku memerah.


“Temui dia,” Nenek sedikit mendorongku.


Aku mendatangi mejanya dan dia tersenyum malu.


“Terima kasih sudah membalas suratku hari ini,” dia berkata manis.


“Bukan aku yang menulis surat itu, tapi Fernando,” kataku berkelakar.


“Tulisan tangan Fernando bagus sekali,”


“Dia memang burung yang istimewa,”


“Tidak lebih istimewa dari yang punya.” Hardin berkata kemudian menggenggam tanganku. Rasanya, malam itu adalah malam terindah yang pernah aku dapatkan dalam hidupku. 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon

__ADS_1


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2