
Dede melonjak – lonjak gembira waktu kuceritakan bagaimana Hardin membuatku berpegangan pada pinggangnya dan keberaniannya menggenggam tanganku waktu itu. Kata Dede, “Sekarang aku bisa ngerti kenapa Hardin kirim surat sama kamu Soph. Mungkin rasanya seperti suka sama seseorang tapi tidak tahu cara mendekatinya. Yah … sama seperti aku dan Nando dulu itu,”
Memang benar kata Dede. Tapi sampai sekarang aku masih belum tahu apa bisa aku dan Hardin dibilang jadian. Yang penting aku sama dia sudah nyaman, sudah gitu aja.
“Cinta itu tidak perlu diucapkan. Kamu boleh percaya atau tidak Soph. Tapi Nando sama sekali tidak pernah tanya apa aku mau jadi pacarnya atau tidak. Bagaimana mau ditanya, orang kami berdua sudah pacaran kok,” kata Dede seraya tertawa.
Sepertinya benar apa yang Dede bilang. Tidak perlu diucapkan tapi dijalani saja seperti air yang mengalir. Mungkin itu kata yang tepat. Hardin dan aku sekarang lebih sering melewatkan waktu bersama. Yang aku maksud sering disini bukan berarti tiga kali sehari. Hanya waktu luang ketika aku sudah menyelesaikan pekerjaanku di Toebroek. Biasanya, kami ngobrol di teras rumah dan kebun apel. Atau, kalau tidak ingin diganggu Fernando, kami bisa pergi ke kebun kakek Hardin. Duduk di bawah rumah kayu kecil di tengah – tengah bentangan kebun wortel.
“Jangan lupa latihan gitarnya Sophie,” kata Kak Frans begitu tahu aku sedang dekat dengan Hardin.
Lain dengan Nenek yang bilang, “Sekolah tetap nomor satu Nona kecil,”
“Hati – hati Soph. Jangan – jangan dia punya bakat kriminal,” sergah Dede menakut – nakuti. Karena aku tahu Dede, kalimat itu sama sekali tidak berpengaruh padaku.
Dan yang lebih parah adalah tanggapan Stan “Jadwal pacaranmu tidak boleh bentrokan dengan job. Kamu itu professional yang berpikir jauh ke depan Sophie. Jangan sampai keperluan pribadi menghambat karirmu di masa datang. Jadi, jangan terlalu banyak pacaran.”
Sebagai seorang cewek yang hidup di Indonesia, aku rasa peringatan yang diberikan orang – orang disekitarku adalah sesuatu yang wajar. Mereka semua menginginkan yang terbaik untukku. Dan untuk sekarang ini, aku rasa Hardin adalah yang terbaik untukku.
Hardin dan aku punya beberapa kesamaan yang aku kira membuat kami cocok satu sama lain.
Yang pertama, dia tinggal dengan Kakek tanpa Nenek dan aku tinggal dengan Nenek tanpa Kakek. Sedikit berbeda karena aku punya Kak Frans dan Fernando. Tapi, bukankah manusia itu unik dan berbeda satu dengan yang lainnya. Jadi yang menjadi perhatianku kali ini adalah persamaannya, bukan perbedaannya. Masuk akal bukan ?
Yang kedua adalah kami sama – sama anak tunggal. Sepanjang aku kenal dia sampai sekarang, jarang sekali kutemukan dia ingin menang sendiri. Kalau ada orang yang bersikap kekanak – kanakan dan ingin menang sendiri, itu adalah aku.
Aku tidak tahu kenapa, tampaknya obrolan tentang mama dan papa adalah obrolan yang secara tidak sengaja jadi paling sering kami bicarakan.
“Mama Papaku sayang banget sama aku. Tapi rupanya mereka juga sayang pekerjaan mereka masing – masing. Jadi sering aku di rumah sendirian sampai malam. Aku baru bisa melihat mereka pagi hari sebelum sekolah, yang tidak lama. Kadang weekend pun mereka juga masih kerja. Mungkin lama – lama mereka merasa bersalah, jadi aku dititipkan di kakek. Di sini aku senang banget. Kakek selalu ada buat aku. Dan juga aku bisa ketemu kamu,”
Dia berkata membuatku melting lagi siang – siang begini.
“Kamu dulu pasti nakal banget,” kataku sambil membersihkan badan gitar Mama dari debu.
“Iya, aku nakal sekali. Kamu tidak akan percaya berapa kali aku pindah sekolah,”
Aku mendongakkan wajahku, “Berapa kali memang ?”
“Tebak saja !”
“Tiga atau empat kali begitu ?”
__ADS_1
“Enam kali sampai aku tamat SD,”
“Pembohong,” kataku tertawa. Tapi dari caranya memandangku saat itu, aku rasa dia tidak berbohong. “Jadi kamu pindah sekolah setahun sekali? Setelah itu ?”
“Aku jadi anak yang sangat manis.”
“Hah … bagaimana bisa ?”
“Mama Papa ngobrol sama aku. Mereka minta maaf sama aku. Moment itu adalah moment yang tidak akan aku lupakan. Mama nangis, Papa nangis. Mereka bilang kalau mereka kerja keras itu buat aku. Yah aku jadi ngerti lah. Sampai keputusan aku pindah ke rumah Kakek ini dibuat.”
“Dan itu adalah salah satu keputusan terbaik yang kamu dapat sepanjang hidup khan?,” kataku untuk menujukkan simpati.
“Tentu saja.”
“Aku selalu bersyukur punya Nenek dan Kak Frans Hardin. Tapi itu bukan berarti hubungaku dengan mereka selama ini lancar – lancar saja. Meskipun tidak pernah secara langsung bertengkar, tapi aku sering merasa Nenek terlalu cerewet atau Kak Frans yang selalu bersikap sok tua dan menyuruh – nyuruhku mengambilkan apa yang dia minta.”
“Ada yang sedang ngomongin aku yah ?” Kata Kak Frans sambil berjalan ke Toebroek membawa sekarung besar kopi yang belum digiling.
“Ihhh, GR,” tukasku sambil melanjutkan mengelap gitarku.
“Dibantu Kak ?” Hardin menawarkan diri.
“Itu juga yang sering aku pikirkan tentang Kakek dan orang tuaku Sophie,” sambung Hardin ketika Kak Frans sudah berlalu, “Aku sering berpikir kenapa Kekek menyuruhku melakukan hal – hal yang tidak aku suka seperti menemaninya memancing misalnya. Lebih baik aku bekerja di kebun wortel seharian daripada menemaninya memancing satu jam. Membosankan banget. Tapi, begitu aku menyadari betapa Kakek menyayangiku, rasanya kebersamaan model apapun akan terasa menyenangkan.”
“Betul juga. Kamu sering kangen sama orang tuamu?”
Dia mengangguk, “Karena itu berusaha tidak jadi anak nakal sekarang,” katanya mengerling, “Dulu waktu masih tinggal sama – sama, aku sering menyakiti hati mereka. Maksudnya sih supaya mereka lebih perhatian dikitlah. Atau pura – pura sakit. Kalau aku sakit, mama selalu libur kerja. Jadi aku suka banget. Begitu sekarang aku gak sama – sama mereka lagi, aku jadi sadar kalau aku betul – betul sayang mereka dan aku harus menghargai setiap kerja keras mereka,” aku melihat penyesalan di wajahnya. “Karena itu aku sekarang tidak ingin menyakiti orang – orang yang dekat dan sayang sama aku.”
“Oh yah ? Memangnya siapa yang sedang dekat sama kamu sekarang?” tanyaku sambil tersenyum.
“Sepertinya cewek yang sedang memegang gitar di depanku deh?”
“Bagaimana kamu tahu kalau dia sayang sama kamu ?”
“Karena dia akan nyanyi buat aku. Benar khan ?”
“Ihhhh, memang siapa yang mau nyanyi buat kamu ?”
“Apa aku harus berdiri kedinginan malam – malam sampai kepergok Fernando dulu supaya kamu mau nyanyi buat aku ?”
__ADS_1
“Baiklah. Mungkin kamu sudah pernah mendengar lagu ini. Lagu ini adalah kenanganku tentang Mamaku.”
…
Samar – samar sanggup kudengar
Waktu kau mainkan gitarmu ketika malam
Ketika bulan sedang menyala bundar
Dan langit cerah karena bintang
Suara gitarmu berdenting
Jarimu menari diatas gitar
Menyanyikan lagu sayang
Supaya aku dapat lelap tertidur
Dalam pelukan cintamu
…
Fernando datang ketika aku selesai memainkan gitarku sambil berteriak – teriak “Sophie … maling … malam … malam.” Kemudian dengan cepat dia berjalan lewat bawah meja lalu mematuk jempol kaki Hardin.
“Dia masih menganggap aku pencuri rupanya,”
“Iya, pencuri hati.”
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1