Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Pencuri Apel


__ADS_3

Aku rasa, kalian pasti tahu ada kebiasaan – kebiasaan masa kecil kalian yang terus terbawa sampai besar. Aku tidak asal bicara, tapi benar – benar mengalaminya. Aku masih suka membuka jendela kamarku lebar – lebar sambil menyanyi. Bedanya, kali ini aku menyanyi sambil bermain gitar. Berkat latihan dua jam sehari, kini aku sudah bisa bermain di C tanpa takut menghadapi F.


Tadi sore baru saja hujan. Meskipun tidak seberapa deras, tapi sudah mampu membuat pengunjung Toebroek berkurang. Orang – orang malas keluar karena takut kakinya basah, selain enggan yang besar menghadapi udara dingin setelah hujan. Tapi tidak denganku. Setelah sibuk sebentar di Toebroek dan mengerjakan soal dari Pak Rustam, rasanya nikmat ketika angin dingin menghantam wajahku. Lalu aku ulurkan kepala mendongak ke atas. Langit tidak lagi mendung karena sudah kulihat bulan bundar yang bersinar dan bintang kecil yang berkelip – kelip. Aku jadi ingat lagu yang sering kunyanyikan waktu aku kecil dulu. Aku pejamkan mataku, mencoba mengingat – ingat bagaimana bunyi lagu itu.



Li …. Li …. Li …. Li …. La …. La …..


Bintang bulan. kedip – kedip di langit malam


Gak pernah capek, seperti kunang – kunang


Li …. Li …. Li …. Li …. La …. La …..


Angin besar datang, apimu tidak padam


Kamu butuh sebuah pelangi


Supaya langit indah karena banyak warna


Li …. Li …. Li …. Li …. La …. La …..



Lagu masa kecilku itu jadi lebih indah karena sekarang aku bernyanyi sambil memetik gitar. Aku jadi ingat Mama. Aku rindu bau tubuhnya. Aku rindu coklat panas yang dia buatkan untukku ketika hari hujan. Lalu dengan Papa, kami berdua akan duduk di belakang  jendela melihat hujan turun rintik – rintik dari atas genting. Aku usap mataku yang basah dengan leher kaos yang kupakai.


Beberapa orang berjalan bergerombol sambil membawa senter di jalan yang memanjang di samping kebun apel dan kamarku. Jauh di depanku, terlihat lampu – lampu kecil rumah penduduk. Bersinar warna – warni seperti bintang yang berjajar. Aku pikir, mungkin saja rumah Papaku ada di salah satu rumah – rumah itu. Mungkin sekarang dia sedang merasa hangat, bercengkerama dengan keluarganya yang baru. Aku sibuk menerka – nerka, bagaimana rupa Papa sekarang. aku tidak tahu. Aku sudah lupa wajahnya. Mungkin dia tinggi dengan perut buncit dan kepala botak. Mungkin juga tubuhnya tegap dan wajahnya segar.


Tapi bagaimanapun rupanya, yang jelas dia sama sekali tidak ingin menemuiku. Sejak Mama dan Papa bercerai, belum sekalipun aku bertemu Papa. Aku kira bukan salahku kalau aku lupa wajahnya. Bisa jadi aku bertemu dia di jalan tapi kami saling tidak mengenal karena aku telah berubah dari cewek mungil menjadi cewek SMU.


Jempolku menyentil senar nomor lima, bass A. Sebuah lagu, tiba – tiba saja melompat keluar dari mulutku,



Fernando,


Pernahkah kau merasa rindu


Pada orang yang sama sekali tidak memikirkanmu


Yang samar – samar kau ingat pernah memelukmu


Sebentar saja, kemudian hilang


Pikiranmu tak pernah lepas dari bayangannya


Yang mengalir dalam darahmu,

__ADS_1


Bukankah ini hal bodoh?


Merindukan orang yang tidak kau tahu


Mungkin kau tidak pernah merasakannya Fernando


Kau burung, yang didapat Nenek dari tukang jagung



Selesai menyanyi lagi – lagi mataku basah dan kembali aku tarik leher kaosku untuk mengusap mataku. Tidak ada gunanya menangis. Segala kesulitan hidupku, termasuk mengerjakan soal – soal fisika yang rumit dari Pak Rustam, tidak akan bisa kuselesaikan dengan menangis.


Kudengar seseorang berjalan cepat – cepat di jalan setapak di samping kamarku dan kebun apel. Tapi kali ini, setelah berjalan beberapa langkah kudengar suara GEDUBRAKK, seperti orang jatuh menimpa sesuatu.


“Maling !!! Maling !!!” suara Fernando yang serak berteriak keras berulang kali membuatku panik.


Cepat – cepat kujulurkan kepalaku keluar. Salah satu pagar kayu pembatas kebun apel jatuh tertimpa seseorang.


“Sophie maling … maling … !”


Kuberanikan diriku untuk berteriak, “Hoiii ! Mau mencuri apel yah ?”


“Bukan … bukan. Aku tadi terpeleset. Jalannya licin,” dari suaranya terdengar kalau dia bukan cowok tua.


“Tidak apa – apa khan ?” tanyaku basa – basi.


“Bukan Fernando !!! Bukan maling !!!” kataku pada Fernando yang bertengger di atas sebuah ranting apel sambil mengibas – ngibaskan sayapnya. 


“Tidak apa – apa. Cuma basah dan sedikit kotor,” meskipun tidak aku lihat jelas wajahnya, tapi aku tahu kalau cowok itu sedang berusaha berdiri.


Tapi,


Sejurus kemudian jatuh lagi.


“Ada yang mau curi apel yah ?” suara Kak Frans terdengar keras dari bawah.


“Bukan Kak, ada orang jatuh. Pagarnya roboh !”


Lalu kudengar suara pintu yang dibuka cepat – cepat dan kulihat Kak Frans menghampiri cowok itu. Mereka berdua berbicara pelan sehingga aku tidak bisa mendengar. Kak Frans mengulurkan tangan membantunya berdiri.


“Sophie, buatkan kopi !” Kak Frans berteriak. Aku gantung gitarku lalu turun ke beranda. Kak Frans dan cowok itu sudah ada di sana. Fernando sudah ada di lantai sambil berjalan mondar – mandir.


“Besok, kamu harus bantu aku memasang pagar baru,” kata Kak Frans sambil duduk. Cowok itu kelihatannya sangat merasa bersalah. Fernando berjalan mendekati kaki cowok itu tergesa – gesa kemudian memamtuk kakinya yang memakai sandal jepit biru.


“Aduh,,” cowok itu memegangngi ujung kakinya. Fernando cepat – cepat berjalan menjauh, ke bawah kursi Kak Frans. “Maling !!! Maling … Frans !!!”


“Bukan maling Fernando. Tenang saja,” kata Kak Frans sambil mengangkat Fernando dan mendudukkannya di pangkuan.

__ADS_1


“O … o….,” ujar Fernando sambil menutupi muka dengan sayapnya. Seperti seorang anak kecil yang sedang malu.


“Iya … iya, pasti aku bantu pasang pagar baru besok,” kata cowok itu meringis menahan sakit.


“Berdarah yah ?” tanyaku.


“Gak kok. Cuma lecet sedikit,”


“Kopinya mana ?” Kak Frans menoleh padaku, “Sama ambilkan handuk !”


Aku pergi ke Toebroek yang sudah gelap. Ke dapur kecil membuat segelas cappuccino.  Kembali ke beranda memberikan kopi yang masih mengepul asapnya. Lalu berjalan lagi ke belakang mengambil handuk sambil menyadari nasib menjadi anggota keluarga paling kecil. Selalu disuruh – suruh.


“Nih Kak,” aku ulurkan handuk bersih ke Kak Frans.


“Kok ke aku sih, ke dia toh,” Kak Frans menunjuk cowok itu. Aku jadi malu.


“Eh … dia ini punya nama,” cowok itu berbicara.


Aku jadi bisa melihat jelas wajah dan rambutnya yang cepak.


“Oh, ternyata dia punya nama Soph,” Kak Frans menimpali.


“Memang nama dia siapa ?” lagakku ingin tahu.


“Ehm, nama dia itu Hardin.,” cowok cepak yang ternyata bernama Hardin itu pelan – pelan menyeruput kopinya sampai habis.


“Terimakasih. Kopi toebroek memang enak. Aku besok pasti kesini,” kemudian dia berpamitan pergi.


“Siapa sih dia Kak ?”


“Katanya sih cucunya Pak Yono,”


“Pak Yono yang mana ?”


“Itu loh, yang punya kebun wortel luasnya minta ampun.”


“Ohhhh,” kataku sambil membayangkan seorang Bapak seumuran Nenek yang wajahnya selalu terlihat senang. Aku tidak menyangkan kalau salah satu cucunya tinggal dengan dia.


Selanjutnya aku masuk kamarku. Berusaha tidur diiringi alam yang menyajikan konser paduan suara indah. Jangkrik yang bernyanyi di alto dan katak di bass. Sesekali suara tokek memberi harmony yang menambah indah pertunjukan malam ini. Aku tertidur … dan bermimpi …. Menjadi salah satu finalis Indonesian Idol dan menyanyi diiringi oleh Magenta Orkestra.


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1


__ADS_2