
“Bagaimana kabarmu Nona kecil?” Nenek bertanya padaku sore itu. Sore itu toebroek tidak begitu ramai. Pelanggan yang datangpun kebanyakan memimlih membuat kopinya sendiri. Kota Batu sudah sering hujan di bulan – bulan seperti ini. Hawa yang memang sudah dingin, jadi lebih dingin lagi. Aku tidak melihat seorangpun yang keluar rumah tanpa menggunakan jaket atau baju tambahan.
Dimana – mana aku sudah melihat wortel yang siap dipanen, brokoli yang sudah tumbuh lebat, serta apel yang sudah mulai ranum. Mungkin karena tempat ini tidak begitu ramai dan alamnya yang asri, toebroek bisa bertahan sampai sekarang ini.
“Baik – baik saja Nek,” kataku pada Nenek sambil membersishkan gitarku. Aku setel setiap senar yang ada di sana memastikan suaranya sempurna apabila aku pakai nanti.
“Dede ?” tanya Nenek lagi. Sesekali tangannya menjatuhkan beberapa butir jagung ke lantai untuk Fernando.
“Lebih baik dari sebelumnya Nek. Dia sekarang sudah punya pacar,”
“Nando ?”
Aku pandang Nenek sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Iya, sekarang Dede pacaran sama Nando,”
Nenek tidak pernah bertanya padaku hal – hal yang terlalu pribadi. Dia lebih memilih aku yang bercerita. Di hadapan Nenek, aku tidak pernah merasa seperti seorang gadis 16 tahun yang sedang diinterogasi orang dewasa.
“Oooooh. Fernando, makan pelan – pelan,” sentak Nenek bercanda ketika Fernando mencoba mengambil jagung langsung dari telapak tangan Nenek. “Burung nakal.” Ujar Nenek sambil menyentil paruh Fernando. Fernando kemudian lari ke arahku mirip seperti anak kecil yang ingin mengadu pada ibunya.
“Jangan nakal Fernando,” aku angkat Fernando dengan dua tanganku. Mengahadapkan mukanya dengan mukaku. “Sudah lama kita tidak ngobrol yah,” kataku sambil mengusapkan hidungku di paruhnya. Tapi tidak kuduga sebelumnya tiba – tiba saja Fernando mematuk hidungku, “Aduh. Kamu nakal sekali Fernando,” ujarku sambil meletakkan Fernando di lantai.
“Fernando lapar … lapar …” katanya lalu pergi berusaha terbang. Tapi tentu saja hal itu tidak berhasil. Fernando adalah satu – satunya burung beo yang aku tahu tidak bisa terbang.
Aku usap hidungku pelan. Tidak luka, tapi sedikit perih.
“Dari seluruh keluarga kita, hanya Nenek saja yang tidak bisa benar - benar main gitar,” cerita Nenek tanpa kuminta. “Meskipun berkali – kali belajar, tetap saja Nenek tidak bisa. Kalau bermain gitar lagu sederhana, Nenek masih bisa. Musik sudah ada di keluarga kita sejak dulu, menjadi tradisi, bagian dari darah kita. Untung saja Nenek bisa mengtuasai harmonica. Kalau tidak, mungkin Nenek sudah dikeluarkan dari daftar anggota keluarga,” Nenek terkekeh.
“Kakek dulu juga bisa main gitar ?”
“Justru karena kepintarannya bermain gitar itulah Kakek buyutmu menerimanya menjadi suami Nenek,”
__ADS_1
“Oh,” aku terkejut. Seakan – akan aku baru menyadari kalau bermain gitar adalah salah satu syarat untuk menjadi anggota keluarga kami. “Sophie tidak tahu itu,” lanjutku.
“Nenek dulu sangat tomboy Soph. tidak ada cowok yang berani dekatin Nenek. Sampai – sampai, kakekmu berpikir kalau Nenek ini seharusnya lahir sebagai laki – laki. Tapi tidak, Nenek tetaplah perempuan walaupun pernah bertarung dengan seekor kernau.”
Aku ingtat cerita Nek Irma tempo hari. Pikiranku kembali menerawang ke waktu – waktu yang sudah lalu. Seperti film hitam putih aku lihat Nenek yang bermain harmonika serta Kakek yang bermain gitar. Mereka berdua mengelola toebroek. Indah sangat. Aku terlena.
“Mamamu dulu bintang di Toebroek. Seperti kamu juga Sophie. Dia sering gugup di muka banyak orang. Tapi ketika dia sudah bernanyi Sophie, tidak ada seorangpun yang sanggup memalingkan mukanya. Seakan – akan dia menyerap semua perhatian yang ada disekitarnya hanya untuk dia seorang. Tidak dia sisakan buat Nenek dan Frans yang waktu itu masih kecil. Bahkan Kakekmu juga tidak bisa menyaingi dia.”
Mamaku seorang bintang yang mampu menciptakan keajaiban di atas panggung mungil Toebroek. Tidak mungkin aku bisa menyamai dia. Dari bayangan tentang Kakek dan Nenek, bayanganku beralih pada Mama, bintang toebroek waktu itu. Bisa kubayangkan mama dengan rambut panjangnya, dan bandana yang disemat di rambutnya, menyanyi memukau setiap orang yang ada di toebroek.
“Setiap kali kamu menyanyi Sophie, Nenek selalu ingat Mamamu. Kamu bisa membuat mata setiap orang tidak berkedip memandangmu. Seakan – akan, kamu adalah sebuah bintang dengan sinar terlampau indah sehingga sayang untuk tidak diperhatikan,”
“Sophie tidak sama Nek. Sophie selalu gugup setiap kali Sophie akan menyanyi,”
“Ahhhh, jangan khawatir. Kebiasaan itu akan hilang sejalan dengan waktu,”
“Menyanyi dengan hati Sophie. Itu yang penting.” ujar Nenek beberapa saat kemudian.
“Sophie tidak yakin akan selalu bisa melakukan itu,”
“Kamu sudah melakukannya,”
Orang tua seperti Nenek kadang mengatakan sesuatu yang sulit kupahami. Ketika menyanyi di Toebroek, Nenek dan Kak Frans selalu membawaku ke suasana yang membuat hatiku nyaman. Di sekolah tempo hari, aku menyanyi dengan bagus karena pengorbanan yang dilakukan teman – teman untukku. Tanpa itu semua, aku sangsi apa aku bisa bernyanyi dengan hati. Rasanya tidak mungkin.
“Sepertinya Sophie tidak akan bisa Nek,”
Nenek tersenyum kecil, “Sudah ada dalam dirimu Sophie. Jangan kuatir.”
Tidak sempat aku berpikir tentang arti ucapan Nenek, kulihat sebuah mobil mengkilap berwarna biru memasuki halam Toebroek. Dari dalamnya kemudian keluar Kak Frans dengan seorang cowok seumuran Kak Frans memakai kacamata hitam.
__ADS_1
“Ah, kebetulan kalian semua ada di sini,” kata Kak Frans riang. Cowok yang bersama – sama dengan dia membuka kaca matanya sehingga kornea matanya yang berwarna coklat, mungkin karena soft lens, terlihat jelas. Dia tersenyum pada Nenek, kemudian padaku.
“Ini temanku, Stan.” Tukas Kak Frans. cowok itu menjulurkan tangannya menyalami Nenek dan aku. Bisa kucium bau minyak wanginya yang berkesan mahal.
Cowok yang dipanggil Stan oleh Kak Frans ini sangat ganteng. Dia tinggi dengan postur tubuh berimbang. Kulitnya bersih dengan sedikit cambang berumur beberapa hari melintang di dagu dan atas bibirnya.
“Duduklah Nak,” Nenek berkata ramah. Dia mengambil duduk di sebelah Nenek, berhadapan denganku kemudian memandangku dengan cara yang aneh.
“Bisa kau buatkan kopi Sophie ?” tanya Kak Frans.
“Tentu,” aku hendak berdiri ketika aku dengar dia berkata dengan suaranya yang lunak,
“Kalau bisa, saya ingin mencoba toebroek yang terkenal itu,”
“Tidak ada yang bisa membuat toebroek disini seenak Nenek,” aku berkata.
“Baiklah,” Nenek berdiri dari tempat duduknya. “Akan kuberikan kau kehormatan mencicipi toebroekku hari ini Nak,” tukas Nenek sambil tersenyum.
“Stan kesini khusus untuk bertemu denganmu Sophie,” Kak Frans mencopot topi yang dia pakai dari tadi.
Aku terkejut. Tidak biasa ada orang yang sama sekali belum kukenal ingin bertemu denganku. “Ah, yang benar ?”
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1