Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Rahasia yang Terbongkar


__ADS_3

Hari ini sepulang sekolah, nekad aku tanya Dede ada apa sama dia. Sudah sekitar 2 minggu ini hubunganku dengannya sama sekali tidak baik. Dengan alasan yang sebelumnya tidak aku mengerti, Dede pelahan-lahan seperti menjauh, seperti menyembunyikan sesuatu, seperti takut kalau aku tahu sesuatu yang penting.


“Kita harus bicara,” aku tarik tangannya ke pojok tempat parkir setelah bel pulang sekolah berbunyi.


“Aku harus ngantar mamaku,”


“Akupunktur lagi?”


“He eh,”


“Kamu tuh bodoh atau bego sih De? Masak selama dua minggu ini kamu gak pernah membuat alasan yang lebih baik dari itu?”


Kali ini dia terdiam. Sang pendebat kehilangan taringnya.


“Sekarang kamu ngomong sama aku deh. Kenapa kamu jadi jauh sama aku begini? Salahku itu apa? Aku kira kamu itu temanku De.”


“Kamu temanku Sophie.”


“Aku temanmu benar. Teman yang selalu percaya kalau setiap hari kamu mengantar mamamu akupunktur.”


Dede menunduk. Wajahnya merah seperti hendak menangis.


“Gak usah nangis. Aku gak kasihan sama kamu!” ujarku jengkel.


Dan lagi-lagi, Dede meraih gantungan kuncinya yang kecil. Gantungan kunci itu bentuknya bola, squishy yang selalu dia remas – remas kalau lagi gelisah. Dia remas-remas, dia putar-putar. Kalau saja gantungan kunci itu hidup, sudah dari dulu pasti dia marah pada Dede.


Lalu kulihat wajah Dede berubah. Merahnya bukan seperti merah orang menangis. Tapi merah marah. “Apa? Sudah ngomong saja!” di titik ini aku benar – benar mendidih. “Kamu tahu Soph. Apa yang jadi urusanku bukan urusanmu. Terserah kalau aku mau mengantarkan mamaku akupunktur atau apa. Itu bukan urusanmu. Terserah juga aku mau melakukan apa, itu juga bukan urusanmu. Dan sekarang aku menangis karena apa, itu juga bukan urusanmu!”


Aku tidak percaya kalau cewek yang mengeluarkan kata-kata tajam seperti itu adalah sahabatku, Dede. Selama ini kami telah melakukan banyak hal berdua. Meskipun sering aku dengar dia mengucapkan kata-kata kasar, tapi tidak pernah setajam yang baru saja dia katakan. Aku mulai menangis.


“Baik De, kalau begitu. Persahabatan kita harus putus, aku terima. Tidak apa-apa. Bahkan aku tidak tahu kenapa. Mungkin sebaiknya mulai besok aku duduk dengan Jenny. Setidaknya dia tidak ngomong kasar padaku. Dengan ramalannya dia bisa memberi tahu aku siapa teman baik siapa yang bukan.” air mataku seperti tidak bisa ditahan. Biasanya aku paling ahli dalam menahan tangis. Seperti dulu, setelah mama meninggal dan Nenek berkata padaku tegas bahwa hidupku terlalu indah untuk aku lewatkan dengan menangis. Aku balikkan badan menuju motorku. Kutinggalkan Dede yang masih saja terisak. Aku tidak peduli, dia bukan lagi sahabatku.

__ADS_1


Pelataran parkir telah sepi. Hanya tinggal beberapa motor termasuk motorku. Suara keras memenuhi tempat itu ketika aku starter motorku kuat-kuat. Aku akan pergi dari tempat ini.


“Kamu ingin tahu alasannya bukan?!” Dede berteriak.


Aku diam saja.


“Kamu ingin tahu alasannya bukan?!” dia mendatangiku, tepat di samping motorku yang berdampingan dengan motornya.


“Aku kira kita sudah tidak ada urusan lagi,” aku berkata tanpa memandangnya.


“Tapi kamu harus tahu,” suaranya kini melunak. “Maafkan aku Sophie. Kamu harus tahu betapa aku kuat-kuat ingin melawan hatiku, tapi aku tidak bisa. Kamu sahabtku Sophie, aku tidak ingin kehilanganmu.”


“Iya, memang benar aku sahabatmu. Sahabat yang bodoh sehingga mau-maunya aku kamu marahi tanpa alasan. Bukan hanya sekali. Mungkin sudah ribuan kali sejak aku jadi sahabatmu. Aku memang bodoh.”


“Jangan ngomong seperti itu Sophie. Dalam hal ini aku yang salah. Kamu harus baca ini,” Dede mengulurkan sesuatu. Sebuah kertas yang terlipat seperti perahu. Kertas itu lusuh tidak lagi berwarna putih. Sebagian pinggirnya telah menguning dan telah layu. Seperti kertas yang sudah lama sekali disimpan. Aku teringat sesuatu sehingga cepat-cepat kubuka kertas itu. Di dalamnya aku membaca,


Besok aku pergi


Nando


“Minggu lalu kami jadian. Sejak kami bertemu di Toebroek waktu itu Sophie, setiap hari dia telpon aku. Nomor telpon yang dia dapat dari kamu,” dia terisak sebentar. Lalu aku lihat dia berusaha mengumpulkan suaranya lagi.


“Aku sudah berusaha menyangkal perasaanku ke dia, tapi aku tidak bisa. Kamu suka dia. Aku tidak bisa suka dengan cowok yang disukai sahabatku. Aku tidak ingin hubungan kita jadi seperti ini Sophie, kamu sahabatku.”


Air mataku menetes deras sekarang. Hatiku seperti dicacah kemudian cacahannya dijadikan makanan ayam.


“Kamu sudah berbohong ke aku De. Apalagi ini adalah masalah cowok. Kamu tahu khan kalau selama ini aku ingin dapat sayang dari seorang cowok yang bukan Kak Frans. Aku pikir kalau Nando orangnya, tapi kamu mengambilnya sekarang.”


“Sophie, dia adalah cinta pertamaku. Cinta pertama dengan kenangan seperti itu sama sekali tidak bisa hilang sekuat apapun kamu berusaha membunuhnya. Kalau aku bisa memilih Sophie, aku tidak ingin semuanya ini terjadi. Kamu sahabatku, aku pikir kamu bisa mengerti.”


“Bukan Dede, kamu yang sahabatku. Aku yang berpikir kalau kamu yang bisa mengerti. Kamu punya orang tua lengkap Dede, dua. Dan aku bahkan satu saja tidak punya.”

__ADS_1


“Tapi kamu punya Nenek dan Kak Frans. Juga Fernando. Aku gak punya Fernando.”


“Dan kamu tahu Dede, apa yang paling mebuatku merasa bodoh? Aku yang membuka jalan buat kalian berdua. Aku yang memberikan nomor HPmu pada dia. Kamu bukan lagi sahabatku Dede.” Aku larikan motorku sekarang. Dan kudengar dari belakang Dede juga menyalakan motornya mengejarku. Sekarang dia sudah ada di sampingku.


“Sophie, kamu harus tahu kalau aku sama sekali tidak ingin menyakiti hatimu. Aku masih ingin tetap jadi sahabatmu.”


Tidak mau aku dengar dia. Aku menyanyi keras-keras sampai debu-debu jalan masuk dalam mulutku.


Akhirnya aku kenalan dengannya, dengan alasan tahu dari teman…


Langsung saja kubilang aku suka, urusan sama temanku itu belakangan …(Mak Comblang by Melloy Goeslaw)


 “Sophie, aku tahu kamu marah ke aku. Sorry. Semuanya ini diluar kendaliku,” teriak Dede gusar.


Semakin keras aku bernyanyi,


….


Maafkanlah oh temanku bukan aku yang jahat, habis salahmu sendiri suruh aku


….


Tenggorokanku sakit dan aku batuk – batuk. Mak Comblang punya Melly Goeslaw itu aku nyanyikan sama sekali tidak indah. Dede masih disampingku, sambil berbicara padaku sesekali dia melihat jalan. Jalan-jalan di kota Batu pukul satu siang tidak terlalu ramai. Hanya sesekali kulihat mobil bak mengangkut para petani dengan wortel atau kubis mereka. Setiap hari adalah musim panan tanpa henti.


Kami sampai di perempatan jalan. Lampu lalu lintas telah berubah merah. Kami berhenti.


“Sophie, tolong kamu tempatkan dirimu di posisiku. Aku percaya kamu pasti akan mengerti. Mungkin bukan hari ini masalah harus kita selesaikan. Kita berdua harus sama-sama menenangkan diri.”


Lampu lalu lintas kini berubah kuning, berkedip-kedip. Dede terdiam sebentar, sambil memperhatikan lampu yang pasti sebentar lagi berubah hijau. Ketika hal itu terjadi, dia ambil jalan ke kiri, pulang ke rumahnya sedangkan aku berbelok ke kanan, menuju Toebroek. Rumah kami berlawanan arah, mungkin itu adalah salah satu pertanda bahwa kami tidak akan pernah bisa sejalan. Lagi-lagi, aku menangis. Sahabatku hanya Dede seorang. Aku tidak ingin kehilangannya.


Tapi ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta. Ini juga pertama kalinya ku berharap kalau aku tidak akan jadi jomblo lagi. Aku akan masuk dalam grup cewek yang punya pacar. Tapi kenapa, ini yang pertama, aku harus jatuh cinta pada cowok yang ternyata suka pada sahabatku. Menurutku ini sama sekali tidak adil. Aku pulang, aku menangis. Memang benar, persahabatan bagai kedondong.

__ADS_1


Follow me in instagram @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


__ADS_2