
Stan berdiri di belakangku yang sedang menghapus riasan di wajahku. Terus – terussan dia memuji penampilanku dan Kak Frans malam ini. Dia juga bercerita kalau menejer hotel suka penampilan kami dan berniat mengontrak kami berdua untuk beberapa waktu.
“Bagaimana ?” Stan meminta persetujuanku.
“Tanya Kak Frans dulu deh Stan,”
“Katanya terserah kamu kok,”
“Tapi, Nenek nanti bagaimana ?” aku bergumam sendiri.
“Jangan kuatir Sophie. Dia pasti setuju. Ingat khan kalau dia yang menyarankan kau ambil pekerjaan ini ?”
Kamu masih muda Nona Kecil. Kesempatan jarang datang dua kali
Ragu – ragu aku mengangguk. Tidak tega rasanya membiarkan Nenek mengurus Toebroek sendiri waktu aku dan Kak Frans tidak ada di sana. apalagi hari Sabtu. Toebroek ramai banget hari sabtu. Aku tidak bisa membayangkan Nenek sibuk sendirian di sana.
“Kak Stan,”
“Ssssttttt,” Stan menyorongkan telunjukkan di bibirku. “Sudah berulang kali aku bilang, panggil namaku Stan. Gak usah ada embel – embel yang lain. kita khan seumjuran Soph,” Stan mengerling.
“Iya, maaf. Stan, aku harus membicarakan hal ini sama Nenek dan Kak Frans dulu. Aku gak tega ninggalin mereka. Kalau sekali – sekali OKlah. Tapi kalau setiap Sabtu, rasanya gak bisa. Lagian gak semua orang menerimaku di sini.”
“Membicarakan dengan Nenekmu dan Frans aku mengerti. Tapi kalau tentang orang yang tidak menerimamu, maksudmu Diana? Jangan kuatir. dia itu hanya gak mau dapat saingan.”
“Sudah, kamu pergi ke mobil dulu. Aku harus ketemu menejer hotel sekarang,” Stan menggesek – gesekkan jari telunjuk dan jempolnya kemudian pergi. Aku berjalan keluar sambil melihat sekeliling. Sudah tidak terlalu banyak pengunjung di rumah makan. Di meja pojok sebelah kanan, tidak kulihat Papa Dodo. Hanya ada dia dan ibunya yang kelihatan sedang mengulum ice cream yang kelihatannya sedap.
Jarak rumah makan dan tempat parkir tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 300 meter melewati kolam renang dan taman. Aku berjalan sepanjang hall way yang hanya diterangi lampu remang – remang sampai ke tempat parkir. Aku melongok ke mobil Stan dan tidak menemukan Kak Frans di sana. Hanya gitar kami berdua yang teronggok di bangku belakang. Kak Frans pasti sedang jalan – jalan sebentar menikmati udara malam yang segar. Tidak ada salahnya juga kalau aku melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Aku berjalan menuju taman hotel. Di tengahnya ada sebuah kolam dengan air mengalir bergemericik dan ikan emas besar – besar yang berenang sambil membuka – menutup mulutnya. Menurutku, kolam ini terlalu sesak untuk mereka. Pasti mereka lebih bahagia dan berenang lebih cepat kalau mereka mendapat kolam yang lebih besar.
Di tengah kolam ada gundukan kecil yang dibentuk seperti bukit. Dari bukit itu mengalir air seperti sumber air. Aku duduk di tepi kolam melepas sepatuku. Memasukkan kakiku di dalam kolam dan kadang – kadang merasakan mulut – mulut kecil tanpa gigi menotol kakiku.
Dari sisi lain kolam, di balik bukit kecil yang mengalirkan air, aku mendengar suara orang sedang berbicara. Berbicara berbisik dengan nada marah. Aku mengenal suara itu. Suara cowok, suara Kak Frans yang berbicara dengan cowok lain yang tidak aku dengar. Aku geser sedikit dudukku supaya bisa lebih mendengar apa yang mereka katakan.
“Frans, sorry.”
“Kamu tidak pernah bilang kalau kamu punya istri !” dari nada suaranya, sepertinya Kak Frans sedang marah berat.
“Aku salah. Aku akui itu. Tapi kamu harus tahu kalau semuanya itu terjadi di luar kuasaku. Semuanya ini bukan kemauanku.”
“Dan kamu Dit,” Kak Frans sedang berbicara dengan seseorang yang bernama Dit. Dito, Didit, Dita ? Sama sekali tidak mungkin. “Sama sekali tidak berani menunjukkan siapa kamu sebenarnya,” sambung Kak Frans.
“Kamu sendiri Frans. Kamu juga tidak pernah punya keberanian untuk mengatakan jati dirimu sebenarnya !”
Aku jadi bingung dengan yang mereka perdebatkan. Mereka mengatakan sesuatu tentang jati diri dan keadaan terpaksa. Aku kira cowok seumuran Kak Frans sudah melewati krisis jati diri. Mereka berdua sekarang diam. Hanya terdengar suara air yang mengalir dan kecipak – kecipuk ikan mas yang berenang senang.
“Kapan – kapan aku akan mampir ke tempatmu, dengan anakku,” kata cowok yang dipanggil Kak Frans ‘Dit’ itu.
“Untuk apa ?”
“Anakku ingin melihat Fernando.”
Aku terkejut. Pria itu …. Aku tahu. Bersamaan dengan itu, seekor ikan mas yang besar, menotol kakiku dengan keras. Tidak sakit, tapi membuatku sangat kaget dan …
BYURRRR !
__ADS_1
Aku terpereset masuk kolam. Disekelilingku ikan – ikan mas itu berkecipakan tidak karuan. Lalu aku dengar suara langkah kaki yang berjalan cepat – cepat dari balik bukit kecil.
“Sophie ! Ngapain kamu di situ ?” ujar Kak Frans gusar.
“Kejebur ! Memang ada kejebur yang disengaja ?!” kataku marah. Pria yang bersama Kak Frans mengulurkan tangannya untukku tapi Kak Frans singkirkan. “Aku bisa sendiri.”
“Maaf,” katanya pelan.
“Kita ke mobil Sophie. Stan pasti sudah nunggu,” Kak Frans melepas jaketnya dan menutupkannya di badanku yang basah. Kami berjalan cepat – cepat ke tempat parkir. Di depan mobilnya Stan kelihatan gelisah menunggu.
“Sophie kenapa ?” tanya Stan.
“Kejebur,” jawab Kak Frans.
“Kok bisa ?!”
“Yah bisa lah Stan. Buktinya aku tadi kejebur kok !” kataku sewot. Bagaimana mungkin Stan tega tanya kenapa aku bisa kejebur !
Pria itu masih membuntuti kami berdua. “Aku pulang. Selamat malam,” kata Kak Frans ketus sambil menutup pintu mobil. Mobil Stan berjalan meninggalkan hotel. Stan masih terus – terussan berbicara tentang prospek kariku kami di masa datang.
“Dengan usahaku, kalian berdua akan jadi bintang,” kata Stan berulang kali. Seperti tadi kami juga tidak begitu mendengar apa yang dikatakan Stan. Kak Frans terus memandang keluar kaca mobil dengan wajah yang murung. Aku sandarkan kepalaku di pundaknya. Aku tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan Kak Frans dengan pria itu. Tapi aku yakin itu adalah sesuatu serius yang tidak ingin Kak Frans bagi denganku. Aku tidak mau tahu apa itu. Satu hal yang aku tahu, aku sayang Kak Frans.
Sampai di rumah aku langsung ganti baju dan tertidur. Kubiarkan kamarku terbuka dan anginnya masuk. Mataku sudah sangat berat. Nenek masuk kamarku dan menutup jendelaku. Dia ambil selembar selimut dan membentangkannya di atas tubuhku yang sudah sangat mengantuk. Tidak kudengar suara langkah kaki yang berjalan tergesa – gesa di samping kebun apel. Rasanya, aku mulai merindukannya. Selamat malam semuanya. Fernando, jangan berisik. Aku mau tidur, kataku dalam hati.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
__ADS_1
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang