Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Neraka


__ADS_3

Kami menghabiskan sore itu untuk berlatih. Dan Diana sepertinya bertekad untuk membuat hidupku seperti di neraka..


“Main di C yah?” tanya Dino ketika kami mulai.


Aku mengangguk dan Diana berkata, “kurang tinggi lah. C itu hanya untuk amatir. Coba ke E.” dia berkata sambil melengos ke arahku.


Kami mencoba menyanyi di E dan bahkan buat dia, E terlalu tinggi untuk lagu ini.


“Jangan di E Di, kamu aja hampir gak nyampek. Diturunin saja,”


“Iya Kak, diturunkan saja,” aku berkata mencoba memberi saran. Tapi yang ku terima malah,


“Sudah jangan sok tahu kamu. penyanyi baru saja kebanyakan gaya. Main gitar dulu yang benar, baru boleh kasih saran,” ujar Diana padaku berapi – api. Aku benar – benar merindukan toebroek, Nenek dan Kak Frans.


Diana mencoba mati – matian membuktikan kalau aku salah. Ketika dia memaksa menyanyikan lagi di kunci yang dia minta tapi malah tidak bisa menjangkau nada tinggi, dia berkata,


“Kamu sengaja yah, main gitar gak bener? Supaya aku kelihatan jelek gitu?”


“Nggak Kak. Memang nadanya ketinggian. Kalau direndahkan sedikit pasti Kak Diana akan nyampek,” aku mencoba bersabar.


“Maksudmu suaraku kurang tinggi gitu?”


“Bukan begitu Kak. Tapi memang kuncinya yang ketinggian.”


“Sudah jangan banyak omong kamu,” dia berlalu ke belakang panggung.

__ADS_1


“Ayolah Di, kita professional saja. Sophie dari tadi sudah berusaha menuruti kemauanmu. Kamunya saja yang banyak permintaan,” Dino berujar dan disambut dengan Diana mengacungkan jari tengah ke arahnya.


“Kalau begitu ganti saja lagunya. Beres khan?” dia berteriak lagi.


“Tidak bisa begitu,” kata Dino gusar. “Lagu – lagu ini yang diminta Pak Doni. Malah ada beberapa yang pesanan dari Pak Bos. Kamu ada masalah dengan lagu – lagu ini Sophie?”


“Beberapa bukan lagu yang biasa aku nyanyikan. Tapi tidak ada masalah Din.”


“Jadi kamu mau bilang kalau aku bermasalah dengan lagu – lagu itu ?” Diana tiba – tiba masuk lagi ke panggung dan menghadapiku seperti bersiap – siap untuk menyerang. “Kamu mau bilang aku tidak professional dan tidak bisa menyanyikan apa yang mereka minta. Begitu ?” ujar Diana berapi – api. Aku berpandang – pandangan dengan Dino bingung. Bukankah dia tadi yang minta lagunya diubah ? Tapi sekarang kenapa dia malah menuduh kalau aku bilang dia tidak professional.


“Aku tidak bilang seperti itu Kak Diana …..,” belum sempat aku teruskan sudah dia potong,


“Sudah … sudah. Sudah hampir jam tiga sekarang. Lebih baik kita latihan sekarang. Sophie, kamu tidak perlu bilang apa saja yang harus aku lakukan. Aku lebih tahu dari kamu.”


Aku hendak mengatakan sesuatu tapi keburu kulihat Stan yang sedang duduk di deretan kursi penontong menggelengkan kepalanya. Mungkin dia tidak ingin masalah kecil ini menjadi panjang. Tapi itu bukan berarti lalu semuanya mulus – mulus saja.


“Dari tadi Kak Diana mengeluh terus. Aku sudah berkali – kali mencoba menuruti permintaan Kak Dian, tapi semuanya selalu salah. Sebetulnya apa sih yang Kak Diana mau?”


Demi mendangarkan aku mengatakan hal itu, aku lihat kilatan di mata Diana. Aku jadi ingat cerita Nek Irma tentang Nenek yang bertarung melawan seekor kerbau. Mungkin untuk sekarang, Diana adalah ‘Kerbau’ yang aku harus hadapi. Semua perempuan dalam keluargaku adalah perempuan kuat. Tidak akan aku biarkan perempuan manja macam Diana menginjak – injak aku sekarang.


Aku lihat Stan mulai berdiri dari tempat duduknya mendekati aku. Sepertinya dia tahu kalau siatuasi akan menjadi panas sekarang. Dino menghentikan musiknya dan mengamati kami berdua. Aku berdiri dari kursi tinggi tempatku duduk dan mulai menghadapi Diana. Tapi perempuan itu tetap saja maju dan menghadapi mukaku. Aku sebetulnya ingin menangis. Tapi aku tidak akan biarkan dia melihat air mataku. Sophie yang dia lihat sekarang, haruslah Sophie yang kuat. Bukan Sophie yang suka menangis.


“Dengarkan aku anak baru,” aku bisa merasakan bau napasnya yang wangi serta bau lipglossnya yang beraroma strawberry. “Jangan sombong kamu. kalau bukan aku yang mau menemrimamu di sini, kamu tidak akan menjadi apa – apa. Orang – orang tidak akan kenal kamu dan kamu hanya akan menyanyi di kedai kecil yang menyedihkan itu. Paling – paling kamu akan menjadi bintang kampung yang hanya manggung pada acara 17an,” dia berkata tajam. Dia sangat intimidatif.


“Kedai kecil yang Kak Diana bilang menyedihkan itu milik keluargaku turun temurun. Banyak orang senang di sana, tidak seperti di sini dimana aku harus berhadapan dengan cewek culas setiap hari.”

__ADS_1


“Siapa yang kamu sebut culas, hah?” Kak Diana semakin merangsek maju.


“Kamu Kak Diana. Kamu sangat culas, iri hati, sombong, tidak bisa menerima kenyataan kalau bintangmu di tempat ini sudah mulai meredup,” aku tatap matanya menantang.


“Dasar kamu anak ingusan,” dia mengangkat tangannya hendak menamparku tapi cepat – cepat Stan menangkap tangannya. Dino sudah berdiri ingin melerai serta orang – orang yang ada di sana sudah mulai berkerumun melihat kami seperti sebuah tontonan.


“Sudah … sudah …,” Stan berkata. Satu jam lagi acara akan dimulai dan orang – orang akan mulai datang. “Diana, kendalikan dirimu. Kamu tidak ingin pamormu tambah merosot karena hal ini khan? Kamu harus akui kalau kamu sudah tidak seterkenal dulu lagi dan itu bukan salah Sophie!”


Aku melihat kilatan amarah di mata Diana. Tapi rupanya ucapan Stan itu cukup menusuk hatinya. Tanpa berkata apa – apa dia lalu pergi ke ruang rias. Setelah dia pergi, tasngisku pecah. Aku menangis di dada Stan. Stan menarikku ke pojok ruangan supaya tidak ada orang yang melihat.


“Dengarakan aku nona kecil, begiti nenekmu sering memanggilmu bukan?” Stan bertanya dan aku mengangguk.


“Di luar sana, ada banyak Diana yang lain. kamu tidak akan terpengaruh oleh satu Diana di tempat kecil ini. Lagian pula, aku cukup bangga denganmu hari ini. Kamu bisa menangani Diana. Kamu tidak diam saja ketika ada orang lain yang menindasmu. Ingat Nenekmu, ingat Frans. Mereka tidak membesarkan seorang cewek yang gampang menyerah.”


Aku mengusap air mataku dan menguatkan diri.


“Sekarang kamu pergi ke ruang ganti dan mulai siap – siap yah. Sebentar lagi acara akan dimulai. Kamu harus kelihatan cantik malam ini,” ujar Stan lagi.


Aku pergi ke ruang rias. Aku melihat Diana di sana dengan setumpuk peralatan riasnya. Aku tidak takut sama dia. Sebetulnya aku ingin berteman dengan dia. Aku pernah berharap belajar banyak dari dia. Tapi dengan keculasannya, aku tidak yakin hal itu akan terjadi. Aku ambil peralatan mandiku dan mulai mandi. Setidaknya air hangat akan menyegarkanku malam ini.


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie

__ADS_1


2.      Matahari Menjadi Bintang 


__ADS_2