
“Jalan dong !!!!” teriak beberapa anak dari belakangku yang merasa jalannya terhalangi karena motorku.
Aku jarang sekalu meng-update Dede tentang Hardin. Tapi dia tahulah kalau aku sekarang jalan sama dia. Dede aja yang jarang ngelihat Hardin, jadi ngelihat Hardin jemput aku aja sudah heboh.
“Eh … eh … iya … iya … sorry !” kataku sambil melajukan motorku pelan.
Yah, memang setelah aku jalan sama Hardin, aku
“Hai,” kata Dede. “Aku Dede, teman Sophie,” Dede menyenggol bahuku.
“Hai,” kata Hardin. “Iya, Sophie sering cerita tentang kamu De,” Hardin tersenyum manis dan aku melting di hari yang sejuk ini.
Aku tidak tahu kalau kamu bawa motor,” katanya.
“Eh … bukan aku. Ini motor Sophie,” jawab Dede.
“Maksudku bukan kamu. Maksudku Sophie,”
“Ohhhhh … sorry. Sorry,” Dede tertawa kecil.
“Kamu mau menjemput Sophie ?”
“Tadinya begitu. Tapi ternyata dia membawa motor sendiri,” dia menjawab. Aku lihat pandangan matanya yang menunjukkan kalau dia kecewa. Sama seperti waktu itu, ketika dia berjalan menyibak – nyibakkan rumput tinggi untuk mencari surat balasan dariku. Aku ingin menebus kesalahan bodoh yang sudah kubuat waktu itu.
“Lagian juga mau jemput gak pakai pengumuman,” aku bilang pada Hardin disambut senyumnya lagi.
“Eh …. Sebenarnya Dede tadi pingin pinjam motorku buat pergi ke rumah Neneknya. Betul khan De ?” aku mengedip – ngedipkan mata pada Dede.
“Ke rumah Nenekku ? Nenek yang mana Soph ?” tukas Dede bingung.
“Itu De …… Nenek yang baru saja kita bicarakan,” aku mengedip – ngedipkan mataku lagi. Kenapa juga anak ini. Mungkin lagi error karena tidak dijemput Nando. Bukan dia saja yang butuh pacaran kan? Aku juga butuh. Pacaran adalah bagian dari kesehatan.
Hardin juga berdiri dengan ekspresi bingung. Mungkin dia mencium ada kejanggalan dengan percakapanku dan Dede. Karena itu aku cepat – cepat menambahkan,
__ADS_1
“Nenekmu yang sedang sakit itu lho De,” aku berikan penekanan pada kalimat ini. Aku copot helmku langsung kupasangkan di kepala Dede. “Ini STNKnya,”
Masih dengan wajah bingung tentang ‘nenek’, Dede menstarter motorku kemudian pergi. Hardin sekarang berdiri di depanku.
Hardin mungkin sekitar sepuluh centimeter lebih tinggi dari aku. Wajahnya tidak terlalu bersih. Ada beberapa jerawat di pipi dan dia tidak pakai jaket ! Itu artinya dia bukan cowok genit yang takut kulitnya hitam. Tapi memang itu yang bikin dia manis.
Dia tidak punya kumis, tapi dia pelihara jenggot yang dipotong rapi. Sekilas aku bisa melihat lengannya yang tampak kuat. Seperti lengan Kak Frans yang kuat karena setiap hari bekerja di kebun apel bersama Fernando. Hardin memang bantu – bantu kakeknya di kebun. Jadi wajarlah kalau lengannya begitu. Anugerah … anugerah …
Satu point plus lagi karena dari situ aku pikir dia adalah seorang pekerja keras. Mungkin ikut membantu mengelola kebun wortel Pak Yono, kakeknya. Seperti Kak Frans membantu Nenek menjaga kebun apel dan mengelola Toebroek, bukan cowok yang takut tangannya kotor terkena lumpur atau tanah. Baik Nenek maupun Kak Frans pasti suka Hardin. Tapi masalahnya, apa dia bisa bermain gitar ? Ih … kok jadi melantur seperti ini.
“Kamu ngapain aja sih sama Dede?” dia bertanya.
“Gak apa – apalah. Dede aja yang lagi o’on hari ini. Nilai ulangannya buruk” jawabku.
Aku sama sekali tidak merasa bersalah memberitakan hal yang tidak terlalu benar tentang sahabatku itu karena aku tahu pasti dia tidak akan sakit hati.
“Ayo jalan dong,” kataku lalu Hardin memberikan satu helm untukku.
“Iya. Langsung pulang aja atau bagaimana?”
“Ke Payung aja yuk?”
“Payung? Sebentar, aku kasih kabar sama Kak Frans dulu. Ntar dia panik lagi.”
“Ok”
Beberapa temanku masih terlihat mondar – mandir di sekitar gerbang. Sesekali terdengar “Suit … suit …” atau “Ehem … ehem …” dari beberapa suara yang kukenal meskipun tidak kulihat wajahnya.
“Disini berisik. Jalan aja dulu deh. Ntar kalau sama Kak Frans suruh langsung balik, langsung balik yah?”
“Wah, gak jadi pacaran dong?” Hardin berkata pura – pura kecewa.
“Biasa aja kali. Kalau gak pacaran di Payung, kita pacaran di toebroek saja. nenek pasti senang ada tambahan orang yang bantu – bantu di sana.”
__ADS_1
Hardin terkekeh.
“Ayo,” ajaknya tegas. Berbeda dengan beberapa saat sebelumnya waktu suaranya terdengar ragu – ragu. Mungkin mahluk cakep ini mulai menunjukkan sifat aslinya yang aku masih belum tahu bagaimana.
Aku naik di sepeda motornya. Dia lajukan pelahan tapi lama kelamaan cepat memaksaku berpegangan pinggangnya.
“Kamu sengaja yah ?” aku berteriak.
“Kamu ngomong apa ?!” masih tetap melihat jalan yang ramai dia berbicara.
“Gak apa – apa,”
Aku masih berpegangan pada pinggangnya. Motornya berjalan cepat melewati sela – sela mobil, truk dan bus yang sedang berjalan pada jalur yang sama. Beberapa saat kemudian, motornya melambat ketika kami harus berhenti di persimpangan jalan karena lampu merah.
Baru saja aku mau bilang kalau dia tidak perlu berjalan terlalu cepat dan membuat hatiku miris seperti tadi, ketika aku menyadari kalau tanganku masih berpegangan pada pinggangnya. Bukankah seharusnya kulepaskan ? Iya memang seharusnya begitu. Pelan – pelan aku lepaskan peganganku. Meskipunj sudah pacaran. Tapi ada hal – hal yang rasanya masih canggung aku lakukan.
“Jangan dilepas,” katanya singkat sambil kurasakan tangannya yang kuat menahan tanganku untuk lepas. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasa hatiku saat itu. Panas, dingin dan berkeringat. Mungkin wajahku sudah mirip dengan kepiting rebus saat itu. Dalam hati aku berdoa supaya dia mengerti kalau cewek yang baru pertama kali dipegang tangannya sama cowok cakep macam dia, pasti tangannya akan berkeringat. Aku berharap dia mengerti bahwa ini adalah reaksi yang wajar. Aku juga berharap dia mengerti bahwa tangan berkeringat adalah lampu hijau supaya dia terus maju.
Semoga.
Lampu di persimpangan jalan sudah berubah menjadi hijau. Dia menjalankan motornya maju kemudian berbelok ke kiri.
Mungkin begini ini perasaan Dede waktu dibonceng Nando. Rasanya tentram. Mungkin aku tidak akan bosen melewatkan sepanjang hidupku dalam boncengan Hardin. Aku tidak ingin hal ini berakhir.
Aku periksa HPku dan melihat balasan dari Kak Frans. Dia bilang gak apa – apa, tapi aku harus pulang paling tidak jam lima, biar masih bisa bantu – bantu di toebroek kalau diperlulakn.
Di satu persimpangan jalan yang lain, tiba – tiba saja sebuah motor warna biru yang tidak kami kenal berjalan cepat mendahului kami dari sebelah kanan. Tanpa memberi tanda dia kemudian berbelok ke kiri memotong jalan kami sehingga mau tidak mau Hardin harus mengerem motornya mendadak. Motor Hardin berdecit – decit dan dadaku seperti tersedot ke depan menabrak punggungnya keras.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang