
Kalau saja ada gua di dalam kelas ini, aku yakin semua orang akan berlomba – lomba masuk di dalamnya. Ada ketakutan besar yang tidak siap kami masing – masing hadapi. Pak Rustam itu bagaikan fobia bagi banyak orang. Bukan hanya bagi murid yang masih ada di sekolah ini saja, tapi dia adalah fobia bagi para alumni, para murid yang mau masuk bahkan bagi para orang tua yang anak – anaknya sekolah di sini.
Menurut desas – desus yang aku dengar, Pak Rustam akan pensiun tahun depan. Tapi waktu itu adalah waktu aku lulus dari sekolah ini. Jadi, kabar itu bukanlah kabar bagus buatku. Mungkin seluruh siswa sekolah ini akan membuat tumpeng besar, mengucapkan syukur karena dia pensiun.
Nama Pak Rustam sudah menjadi semacam legenda di Kota Batu. Bahkan para orang tua akan bilang, “Mama bilangkan Pak Rustam loh kalau kamu nakal terus!” atau “Sudah jangan nangis, ada Pak Rustam!”. Jadi wajarlah kalau sampai sekarang, tidak ada murid atau wali murid yang mau macam – macam dengan dia.
Dan saat ini kami harus menghadapi Pak Rustam, sosok yang membuat pendengar namanya saja menjadi merinding. Aku genggam tangan Dede erat – erat. Aku lihat muka Dede sudah pucat. Keringat sebesar jagung bertetesan dari mukanya. Beberapa temanku yangt paling jarang berdoapun aku lihat sudah mulai mengucapkan doa apa saja yang mereka tahu. Dita dan Sita sudah kehabisa taktik meloloskan diri. Vieri, anak paling pintar di kelas inipun terlihat pasrah. Hanya satu saja yang berbeda dari kami semua.
Jenny.
Dengan santainya dia mengoleskan cat kuku di setiap kuku jarinya yang panjang. Sedikitpun tidak terlihat dia kuatir. dalam waktu seperti ini, ingin rasanya aku mempercayai dia. Tapi aku rasa semua itu sudah terlambat.
Pintu kelas terbuka pelahan sehingga cahaya matahari pagi yang masuk terlihat bergaris – garis. Udara sepertinya menguap dari dalam kelas kami dan kami semua macam ikan yang megap – megap kehilangan air. Kemudian muncul ujung kaki bercelana panjang memakai sepatu fantofel. Aku bahkan mendengar Dita dan Sita menjerit kecil bersama – sama.
Suasana hening, kami semua menunduk. Kami semua pasrah dengan apa yang akan terjadi dalam hidup kami. Mungkin hanya nama kami yang akan pulang ke rumah kami masing – masing hari ini.
Masih tetap hening.
“Ehem,” suara berdehem terdengar. Rasanya aku tidak percaya. Tapi aku tidak berani melihatnya.
“Kenapa hari ini kelas kalian sepi sekali?” suara itu kembali terdengar. Seperti tidak percaya, aku melihat ke sumber suara. Ketika aku mendongak ke atas, begitu terkejutnya aku mengetahui kalau ternyata bukan Pak Rustam yang datang. Tapi seorang ‘Pak’ lain. Pak Wahyu, wali kelasku yang juga mengajar Bahasa Indonesia.
“Selamat pagi semua,” ujar Pak wahyu disambut dengan “Selamat pagi,” panjang dari teman – temanku.
“Pak Rustam tidak bisa masuk hari ini. Dia sedang sakit.”
Mendengar kata itu, wajah Jenny langsung cerah. Dia menoleh ke kanan – kiri tersenyum senang sambil sesekali dari mulutnya keluar kata,
“Tuh khan …. Tuh khan. Apa juga aku bilang?”
__ADS_1
“Pak Rustam tidak meninggalkan tugas apa – apa. Saya pikir, lebih baik kalau kalian menyiapkan tugas yang lain. Siang nanti kalian ada tugas dari saya khan ?” Pak Wahyu berhenti sebentar lalu semuanya seperti lomba mengangguk.
“Jangan ramai. Jadi anak yang baik yah.” Pak Wahyu kemudian pergi diiringi perasaan lega dari kami. Senang rasanya. Aku saling pandang dengan Dede. Hari seperti ini harusnya dirayakan. Dari belakang kudengar Vieri berkata pada Jenny.
“Jenn, tolong deh ramal siapa yang cocok jadi pacarku sekarang ?”
“Bukannya kamu tadi bilang kalau ramalan itu tidak masuk akal,” ujar Jenny sewot.
“Iya sorry. Ternyata aku salah,”
Lagi – lagi aku berpandangan dengan Dede.
“Akan ada satu kejutan lain kita terima hari ini. Kita santai – santai saja sekarang,” ujar Jenny.
“Kejutan apa Jen?” tanya Diki.
“Ada deh Dik. Kalau aku beri tahu sekarang, artinya itu bukan kejutan kan?”
“Aku bisa nomor dua saja,” kata Vieri.
“Aku nomor satu. Nomor tiga juga bisa tapi cuma setengahnya saja,” kata yang lain.
Bergantian beberapa teman menuliskan jawabannya di papan. Ada beberapa soal yang menurut persetujuan kami masuk dalam kategori super sulit. Tapi, dengan prinsip susah senang kita tanggung bersama, akhirnya bisa juga kami pecahkan soal – soal itu bersama. Lega rasanya. Beban satu hari ini rasanya langsung terangkat.
Menjelang jam istirahat pertama, pintu kelasku kembali terbuka dan muncul lagi ujung kaki dengan sepatu fantofel yang memakai celana panjang berwarna abu – abu. Pak Wahyu datang memberi pengumuman.
“Ada satu hal sehingga para guru harus mengadakan rapat hari ini,”
Oh … oh, aku sudah tahu apa artinya ini.
__ADS_1
“Karena itu sekolah memberi tugas belajar di rumah buat kalian semua,” pengumuman Pak Wahyu terhenti karena kami semua tidak bisa menahan diri untuk mengatakan “Hore !!!!”
“Ingat. Kalian tidak pulang pagi, tidak juga libur. Kalian mendapat tugas untuk belajar di rumah.” Pak Wahyu menyelesaikan pengumumannya.
“Kita ke Toebroek yah Soph,” kata Jenny setelah Pak Wahyu kembali ke kantor dan kami semua bersiap – siap untuk pergi.
“Jangan ke Toebroek deh. Bosen. Cari tempat yang lain aja lah,” usulku.
“Ke Payung aja,” kata Dita.
“Ke Payung bagaimana teman – teman ?” teriak Diki.
Kami semua pergi ke Payung untuk merayakan hari yang jarang – jarang terjadi ini. Berombongan dengan sepeda motor sambil tertawa sepanjang jalan menuju Payung, jalur yang menghubungkan Batu – Malang, yang dibatasi gunung di satu sisinya dan tepi jurang yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi warung – warung nyaman di sisi yang lainnya. Payung adalah tempat favorit kami kongkow-kongkow. Ada beberapa mall memang di kota batu. Tapi, kami lebih suka pergi ke tempat di mana kami bisa menikmati alam, minum susu hangat, roti bakar, bakso, pangsit mie, singkong rebus, ketan bubuk, semua yang enak – enak pokoknya. (Hanya toebroek yang bisa mengalahkannya, tentu saja, hehehehe)
Kami menuju sebuah warung yang bisa menampung kami semua di dalamnya. Duduk bersama sambil bercanda. Beberapa teman mulai bercerita tentang rencana masa depan mereka. Macam – macam jurusan yang mereka inginkan. Tapi Dita dan Sita kompak berkata bahwa cita – cita sejati mereka adalah, menikah.
Di sebelah timur terlihat kota Malang dari kejauhan.
Angin sebelum jam sepuluh siang memberi kami rasa tentram yang sulit dikatakan.
Beberapa monyet terlihat bergantungan di atas pepohonan yang tumbuh di tepi jurang. Berkumpul bersama teman dengan semangkuk bakso dan es teler.
Sungguh nikmat.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang