Mainkan Gitarmu Sophie

Mainkan Gitarmu Sophie
Bagian Yang Hilang


__ADS_3

“Dik … dik …” seseorang memanggilku. Tidak aku sangka aku akan bertemu dia lagi di sini, dengan anaknya.


“Frans tidak sama – sama kamu ?” tanyanya.


“Kak Frans tidak menyanyi lagi di sini. Dia mengurus Toebroek dengan Nenek.”


Papa Dodo, yang dipanggil Kak Frans ‘Dit’ itu terlihat kecewa. Dia ini cowok seumuran Kak Frans yang kemarin kelihatan bertengkar sama Kak Frans.


“Kakak sering ke sini ?”


“Aku salah satu pemegang saham di sini. Selain itu, begitu Dodo tahu kalau kamu akan menyanyi di sini, dia ngotot ingin datang. Betul Do ?”


Cowok kecil dengan pipi penuh itu mengangguk.


“Kakak nanti menyanyi Fernando yah,” ujarnya panjang.


Aku tertawa sejenak, “Kita lihat nanti yah Adik kecil,” kataku sambil berjalan ke dalam restoran. “Sampai nanti.”


Aku dan Diana sudah menyepakati beberapa lagu yang akan kami nyanyikan. Dia bisa berang kalau aku menyanyikan lagu yang tidak bisa dia nyanyikan.


“Kamu sudah dapat penggemar rupanya. Memanfaatkan keluguan anak untuk mendekati Bapaknya. Cara yang patut dicoba,” kata Diana masam.


“Aku tidak tahu apa yang Kak Diana bicarakan. Orang itu teman Omku. Begitu juga anaknya. Selain itu aku juga sudah punya pacar. Aku tidak tertarik dengan suami orang. Maaf kalau hal itu mengganggu Kakak.”


“Kamu tidak usah berpura – pura lugu di depanku Sophie,” Diana tidak sempat meneruskan ucapannya karena kami harus segera ada di panggung.


Meskipun aku sangat tidak suka dengan dia, tapi harus kuakui kalau Diana adalah seorang professional. Matanya yang garang di ruang rias dan belakang panggung tadi sudah tidak kulihat lagi di sini. Malah, beberapa kali dia melemparkan senyum padaku seakan – akan kami adalah dua orang sahabat baik yang lahir di rumah sakit yang sama, berangkat sekolah bersama dan bermain boneka sama – sama. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan pada Diana meskipun aku adalah ‘anak baru’ aku juga bisa mengendalikan emosiku dengan baik.


Aku dan Diana duduk bersebelahan di atas sebuah kursi tinggi yang terbuat dari kayu berwarna coklat.


“Selamat malam Bapak Ibu semua,” suara Diana yang halus mengalun lembut. “Pasti Bapak Ibu semua sudah mendengar Sophie. Penyanyi baru yang baru beberapa minggu bergabung dengan kami.”


“Selamat malam. Terimakasih Kak Diana. Kita sudah siap bukan ?”


Diana mengangguk manis. Aku telah siap dengan gitarku dan mulai memetiknya pelan. Aku membayangkan bukan Diana yang sedang duduk di sebelahku, tapi Nenek yang sedang menggenggam harmonikanya dan tersenyum hangat. Aku juga membayangkan Kak Frans berdiri di samping Nenek dan memberikan semangat melalui bunyi gitarnya yang selalu memberiku rasa nyaman.



I have a dream, a song to sing


To help me cope with anything,


If you see the wonder,



dan Diana menyahut,


Wonder, of a fairy tale,

__ADS_1


...


Lalu aku sambung,


You can take the future, even if you fail


I believe in angels


Something good in everything I see


I believe in angels


When I know the time, is right for me



Diana masih mengiringiku menyanyi dengan memberi beberapa sahutan di beberapa bagian. tapi hal itu tidak bertahan lama. Sejurus kemudian, Diana mulai menyanyikan bagian – bagian yang seharusnya aku nyanyikan. Malah dia kemudian dia berdiri dan berjalan dengan menyanyi di antara penonton. Membiarkan aku bermain gitar mengiringinya.



I’ll cross the stream – I have a dream



Dia berhenti sejenak kemudian mengarahkan mike yang dia pegang ke mulut seorang bapak sambil mulutnya sendiri memberi contoh bait yang harus dinyanyikan,



“Luar biasa. Suara Bapak bagus sekali. Bisa – bisa saya tambah saingan nih,” ujar Diana mencoba berkelakar. “Tepuk tangan !” sambungnya diiringi tepuk tangan pengunjung di sana. Dengan anggun dia berjalan lagi di sela – sela penonton.


Stan yang berdiri di pojok ruangan menatapku cemas. Tanganku sudah mulai gemetaran. Aku sendiri takut kalau – kalau kunci yang kumainkan salah dan F-ku tidak sempurna. Waktu kuperhatikan lagi, ternyata aku melihat Stan berusaha mengucapkan sesuatu padaku tanpa bersuara. Aku berusaha menebak apa yang dia katakan. Stan berkata STOP sambil menggesek – gesekkan tangan di lehernya. Aku putuskan untuk berhenti sambil melihat apa yang akan terjadi.



“I believe in …” suara halus Diana terhenti karena dia tampak terkejut waktu tiba – tiba kuhentikan gitarku. Matanya menatapku tajam, tidak segarang sebelumnya tapi aku tahu dia pasti marah. Pengunjung mulai berpandangan satu dengan yang lainnya bertanya – tanya apa yang sedang terjadi. Secara tiba – tiba, Stan mengarahkan lampu sorot ke wajahku yang sebelumnya sibuk mengikuti langkah Diana. Secara otomatis, pandangan orang yang sebelumnya mengarah pada Diana, kini mengarah padaku. Aku tahu inilah saatnya. Saat keajaiban yang selalu terjadi di atas sebuah panggung. Tanpa memetik gitar, aku bernyanyi.



I belive in angels, something good in everything I see


I believe in angels, when I know the time is right for me



Aku mulai memainkan jari – jariku di atas gitar sekarang.


I’ll cross the stream, I have a dream


__ADS_1


“Luar biasa. Tepuk tangan buat Sophie !” ujar Diana tiba – tiba berjalan dari tengah – tengah penonton kembali ke panggung.


“Terimakasih,” ujarku pelan hampir seperti berbisik. Kalau saja aku diperhatikan dari dekat, akan tampak lutut dan tanganku yang gemetaran. Aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan Diana lakukan padaku nanti di ruang rias. Tapi bagaimanapun juga aku tidak akan membiarkan dia berbuat sesuatu padaku seenaknya saja.


“Selanjutnya apa Sophie ?” tanya Diana dengan senyum bersahabatnya. Dia meremas punggungku keras – keras dengan kuku panjangnya.


“Lagu istimewa untuk adik kecil yang ada di sana,” ujarku sambil menunjuk Dodo yang yang sedang duduk di pangkuan ‘Dit’. Aku pilih lagu yang tidak akan bisa Diana nyanyikan sehingga dia tidak akan lagi mengambil bagian – bagian yang seharusnya aku nyanyikan.



Fernando, burung gagah berani


Cakap seperti seorang ksatria


Mematuk semut dan memburu tikus


Berteriak maling pada pencuri


Matanya tidak terpejam, telinganya siaga



Aku selesaikan laguku dengan baik. Dodo tampak bertepuk tangan kegirangan lagu permintaannya aku nyanyikan. Semua orang juga terlihat gembira kecuali Diana yang sedang menekuk mukanya karena sama sekali tidak bisa ambil bagian dalam lagu tadi.


“Kamu senang khan ?” tanya Diana sambil meraih pundakku waktu kami sama – sama sudah ada di ruang rias. Aku tepis tangannya.


“Aku sama sekali tidak merencanakannya. Tapi Kak Diana sendiri yang membuat aku melakukannya.”


“Kamu boleh menang sekarang Sophie. Orang – orang boleh suka kamu. Tapi kamu harus ingat kalau ini adalah dunia hiburan. Suatu saat nanti tidak akan ada orang yang bertepuk tangan sambil mengelu – elukan namamu lagi. Kamu akan cepat dilupakan begitu datang penyanyi yang lebih baik darimu.”


“Aku tidak pernah ingin bermusuhan dengan siapapun. Bahkan sebelumnya aku harap bisa berteman dengan Kak Diana karena Kakak lebih senior dibandingkan aku. Tapi aku salah.”


Kami beradu pandang beberapa saat. Kemudian dia mendengus lalu keluar ruang rias dengan sebatang rokok di tangannya.


“Dia tidak berbuat macam – macam khan ?” tanya Stan begitu dia masuk ke ruang rias.


“Tidak,” aku jawab singkat sambil membersihkan riasan dari wajahku.


“Kamu harus siap dengan keaadaan seperti ini Sophie. Kamu harus terbiasa.”


“Mungkin aku tidak akan terbiasa Stan.” 


Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more! 


Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon


1.      Mainkan Gitarmu, Sophie


2.      Matahari Menjadi Bintang 

__ADS_1


__ADS_2