
“Apa ini ?”
“Hanya sebuah surat. Tolong sampaikan pada Frans. Bilang sama dia kalau aku menyesal dengan semua yang terjadi. Tolong sampaikan juga kalau kapan – kapan aku pasti akan mengunjungi dia,” ujar Dit menyodorkan sebuah amplop padaku.
“Ayo Sophie. Sudah malam nih, kamu besok masih harus sekolah !” teriak Stan dari dalam mobilnya.
“Iya … iya sebentar !” teriakku. “Aku tidak tahu apa hubungan Kakak dengan Kak Frans. Tapi kalau dia sampai marah, pasti ada sesuatu yang benar – benar menyakiti hatinya. Maaf kalau aku berkata seperti ini, tapi mungkin lebih baik Kakak tidak menambah kemarahannya dengan mengirim surat ini,” aku sodorkan kembali surat Dit.
“Aku sudah pikirkan itu Dik. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa kukatakan padamu. Tolong berikan saja surat ini. Tentang dia nanti akan bertambah marah atau apapun, aku yang akan menanggung,” Dit berkata padaku dengan wajah penuh harap.
Beberapa saat dia terus memandangku ketika surat yang ada di tangannya tak kunjung aku terima.
“Ayo Sophie ! Kalau kamu tidur kemalaman kamu besok gak bisa bangun sekolah dan aku akan mendapat hadiah omelan dari Frans dan Tante ! Dit …. ! Biar anak itu pulang !”
Aku terkejut. Tidak aku kira sebelumnya kalau Stan juga mengenal Dit.
“Kakak kenal Stan juga ?”
“Ya …., kalau jawaban itu bisa membuatmu menolongku menyampaikan surat pada Frans.”
Semakin banyak hal yang tidak kumengerti di sini. Maka kuputuskan untuk melakukan apa yang Dit minta. Aku yakin, Stan pasti tahu suatu hal tentang hal ini.
“Trims,” ujar Dit.
“Sama – sama. Salam buat Dodo,” kataku begitu Dit meninggalkan aku.
Keberanian mengungkap jati diri, kejadian diluar kehendak Dit, sesuatu yang tidak bisa Dit katakan dan Stan yang ternyata mengenal Dit. Aku berusaha mencari hubungan dari kata – kata itu ketika aku berjalan ke mobil Stan. Stan sudah menyalakan mesin mobilnya lalu berangkat ketika aku sudah duduk dengannya di dalam mobil dan meletakkan gitarku di bangku tengah.
“Kamu tidak pernah bilang kalau ternyata kamu kenal Dit,” kataku.
“Hah … ? Dit ? Dit siapa ?” tanya Stan sambil menyetir.
“Teman Kak Frans itu, yang ngobrol sama aku barusan.”
“Oh …. Dito. Buat apa aku bilang ? Kamu tidak pernah tanya dan aku rasa kamu tidak ada hubungannya dengan dia.” kata Stan seperti sedang menutupi sesuatu dengan marah.
“Aku rasa kamu tahu sesuatu antara Kak Frans dengan Dito.”
__ADS_1
Stan tidak menjawab. Matanya tetap waspada melihat jalan yang ada di depannya. Sudah hampir jam sebelas malam. Tidak ada lagi bus antar kota yang memenuhi jalan – jalan kota Batu.
“STAN !” teriakku kesal karena Stan tak kunjung merespons jawabanku.
“Eh STAN !,” Stan mengulang ucapanku. “Sophie, kamu bikin aku kaget saja. kalau kita ketabrak bagaimana ? Kamu tidak akan bisa pacaran lagi ! Yah Tuhan … bahkan aku saja belum punya pacar !”
Aku tergelak panjang. “Kamu latah yah Stan ? Hayo ngaku ….”
“Eh … siapa bilang aku latah. Gak tuh,” wajah Stan cemberut malu – malu waktu aku katakan itu.
“Kamu harus katakan padaku Stan, ada apa sebenarnya antara Kak Frans dan Dit.”
Stan diam saja pura – pura tidak dengar.
“Kau ingin aku kagetkan lagi ?”
“Jangan seperti anak kecil Sophie. Aku sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun kepada siapapun. Aku harap kamu mengerti itu,” tukas Stan berlagak serius.
“Janji ? Janji pada siapa ?”
Stan terlihat seperti ingin mengutarakan sesuatu tapi dia urungkan. Dia mengemudikan mobilnya dengan waspada. Menghindari setiap lubang dan mencari sela di antara kendaraan. Beberapa kali terdengar suara klakson dari mobil – mobil di belakang kami. Kadang – kadang juga terdengar sepintas tape mobil yang dimainkan keras – keras. Tapi Stan tetap diam. Matanya yang dihiasi bulu mata panjang itu tetap memandang ke depan.
“STAN ! Kak Franskah ?!! ” teriakku keras.
“IYA !!” teriak Stan lebih keras lagi. “Aduh Sophie, kau membuatku kaget lagi. Sudah lama sekali aku berusaha menghilangkan kebiasaan ini. Kamu ingin aku jadi tertawaan orang yah ?!” sambungnya dengan wajah bersungut – sungut.
“Jadi betul Kak Frans yang membuatmu berjanji ?”
“Aku tidak mengatakan nama itu Sophie. Anggap saja kau tidak mendengarnya.”
Berarti memang ada sesuatu di antara mereka berdua. Aku duduk tidak tenang walaupun sebenarnya jok mobil Stan sangat nyaman. Sebentar aku miring ke kiri, sebentar ke kanan, sebentar ke depan dan sebentar kemudian aku ingin tengkurap.
“Kamu kenak wasir Sophie ?” tanya Stan sambil menoleh sejenak ke arahku. Aku tidak membenarkan atau menyangkal. Sepertinya, Stan melihat kegelisahanku.
“Baiklah,” Stan berkata dengan nada terpaksa lalu meminggirkan mobilnya. Aku dengar beberapa kali Stan mengambil nafas panjang setelah dia berhasil menemukan tempat yang aman untuk mobilnya berhenti.
“Dengarkan aku baik – baik Sophie. Aku tidak akan mengatakan apa yang aku tahu tentang Frans dan Dito. Aku kira kau sudah sangat paham apa artinya berteman dan pentingnya menjaga kepercayaan. Kau mengerti itu khan ?”
__ADS_1
Aku mengangguk.
“Bagus kalau kau mengerti. Satu hal yang harus kamu lebih pahami lagi Sophie. Siapapun dan bagaimanapun dia, Frans adalah pamanmu. Dia selalu ada buat kamu bahkan ketika Papamu sendiri tidak memperdulikanmu. Maaf kalau aku berkata sedikit kasar tentang hal ini,” Frans diam sesaat untuk melihat rekasi wajahku. Memang kata – kata Stan sedikit menyakitiku, tapi yang dia ucapkan adalah kebenaran dan aku harus belajar untuk menerimanya. “Apa gunanya kamu mengetahui ada apa sebenarnya antara Dito dan Frans ? Perhatikan ini, mencari tahu sesuatu tentang orang lain untuk memuaskan keingin tahuan diri sendiri Sohie, adalah tindakan yang egois. Katakan padaku sekarang, kamu ingin mengetahuinya untuk memuaskan keingin tahuanmu sendiri atau kau benar – benar ingin menolong Frans ?”
“Ehm …. dua – duanya aku rasa.”
“OK. Anggaplah kau ingin menolong Frans. Apa yang akan kau lakukan ?”
Aku bingung menjawab pertanyaan seperti itu. Maka, selanjutnya aku hanya mengangkat dua pundakku.
“Jadi bisa kukatakan kalau kau hanya ingin memuaskan keingin tahuanmu. Katakan kalau aku salah.”
Aku tidak berkata apa – apa karena rasanya aku mulai menyadari bahwa aku memang hanya ingin memuaskan keingin tahuanku. Aku bukan Thomas Alpha Edison yang melakukan 1000 eksperimen sebelum bisa membuat bola lampu yang sempurna, yang karena keingin tahuanya menolong banyak orang sampai sekarang ini.
Sekali lagi Stan mengambil nafas panjang kemudian berkata, “Dia manusia seperti dirimu juga Sophie. Dia berhak mendapat cinta dan punya kehidupan pribadi yang tidak pantas dicampuri siapapun. Selain itu Sophie, aku rasa selama ini Frans sudah menerimamu apa adanya. Tidak pernah sekalipun aku mendengar dia mengeluhkan sikapmu yang kadang – kadang amat kekanak – kanakan. Dengan cintanya, aku harap kamu juga bisa menerima Frans bagaimanapun dia.”
Selesai berbicara Stan menghidupkan lagi mesin mobilnya. Mobil warna biru ini kembali berjalan di jalan yang beraspal halus. Udara dingin semakin terasa dengan bertambahnya malam.
Tiba – tiba saja terjadi keheningan antara aku dan Stan. Aku pandangi wajahnya yang bersih. Bahkan sampai sekarang aku masih bisa membaui parfumnya yang mahal dan terkesan berlebihan itu.
Aku merasa tidak enak hati telah membuatnya ada dalam posisi yang sulit dengan memaksanya memberi tahuku ada apa antara Dito dan Kak Frans. Seharusnya aku tahu kalau aku tidak boleh memaksakan kehendak pada seorang sahabat yang telah mengucapkan janji. Seharusnya aku mengerti hal itu.
Aku juga merasa bersalah karena beberapa kali sikapku kurang sopan padanya. Tapi jauh di dalam hatiku aku sangat menghormati Stan. Dia bijaksana dan tahu betul apa artinya kesetiaan dalam sebuah persahabatan. Karena kebijaksanaannya juga, aku jadi bisa memahami betapa pentingnya arti Kak Frans dalam hidupku.
“Sory Stan. Tidak seharusnya aku memaksamu seperti itu.”
Lagi – lagi Stan pura – pura tidak mendengarku dengan pura – pura waspada melihat jalan.
“STAN !”
“IYA STAN … STAN !!! Sophie … kapan kamu berhenti menggodaku !”
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
__ADS_1
2. Matahari Menjadi Bintang