
Tentu saja, mandi di hotel tidak sama dengan mandi di rumah sendiri. Hotel memberimu sabun kecil, shampoo kecil, pasta gigi kecil, handuk bersih yang wangi, air hangtat dan kamar mandi dengan bath tub. Aku putuskan untuk berendam sebentar menikmati air hangat merendam tubuhku dan mengendurkan seluruh otot di tubuhku.
Waktu aku mandi ada, semacam bunyi ‘klik’ di pintu dan segera aku bilang, “Ada orang!”. mungkin ini adalah waktunya aku selesai mandi. Aku keringkan badanku dan rambutku dan mulai berganti pakaian. Aku ulaskan pelembab, sedikit bedak dan lipstick di wajahku dan hendak membuka pintu kamar mandi.
Tapi pintu ini tidak bisa dibuka. Aku coba berkali – kali tapi tidak terbuka juga. Aku coba berteriak,
“Halo”
“Ada orang di luar?”
“Tolong bukakan”
Tapi tidak ada siapapun di luar. Aku gedor – gedor pintu kamar mandi juga percuma. Aku cari – cari HPku dan baru sadar kalau aku tidak membawanya ke kamar mandi. Acara akan segera dimulai dan aku masih terjebak di dalam kamar mandi. Sekali lagi aku gedor – gedor pintu kamar mandi dan mendengar suara,
“Sophie!? Kamu di dalam?”
“Din … Dino! Iya Din …! Aku di dalam! Bukakan Din!” aku berteriak begitu mengenali kalau suara Dini yang adi di luar.
Pintu kamar mandi diguncang – guncang dan tetap saja tidak terbuka.
“Kamu kunci kamar madinya dari dalam Soph?” Dino berteriak.
“Nggak lah Din. Ngapain aku kunci. Aku gak tahu. Tadi gak aku kunci kok waktu aku masuk!” aku berteriak putus asa. Suhu di kamar mandin rasanya panas, membuat wajahku yang sudah siap sekarang berpeluh, besar – besar sebesar jagung yang biasanya aku berikan pada Fernando.
“Sebentar Soph. aku cari teknisi hotel saja!” aku dengar Dino berkata. Aku berdiam diri di kamar mandi, duduk di tepi bath tub. Aku benar – benar merindukan toebroek. Pasti di saat seperti ini Nenek dan Kak Frans lagi sibuk. Untung sudah ada Hardin yang mau ikut bantu – bantu. Hardin itu sudah semacam menantu saja. apa yang kami lakukan, dia pasti ikut. Aku juga rindu dia. Seharusnya saat seperti ini aku pacaran sama dia seperti pasangan cowok cewek lainnya di dunia ini. Malam minggu khan waktunya pacaran. Tapi ngapain aku malah bekerja di sini? Terjebak di kamar mandi lagi. Aku jadi marah pada diriku sendiri.
“Soph! Kamu di dalam?” kali ini aku dengar suara Stan.
“Iya Stan, di dalam!” aku berteriak.
“Kok bisa ke kunci gitu bagaimana ceritanya? Acara sudah mau mulai nih.”
__ADS_1
“Yah gak tahu bagaimana ceritanya Stan! Memangnya aku sengaja kekunci seperti ini?” aku berkata jengkel. Memangnya ada orang yang terkunci tapi disengaja? Kecuali Harry Houdini atau Chris Angel tentu saja.
Lalu aku dengar pintu kamar mandi di ketuk – ketuk, di dorong – dorong dan Dino berteriak, “mekanik hotel sudah datang Soph! Kamu akan keluar sebentar lagi!”
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu itu terbuka juga dan aku bernapas lega. Stan langsung mengambil perlatan riasku. Dia mengambil tissue dan kapas lalu mulai membersihkan wajahku dari keringat. Dia ambil bedak dan menyapukannya di wajahku.
“Sudah Stan, jangan tebal – tebal. Nanti orang mengira aku badut, bukan penyanyi.”
Stan tertawa.
“Sudah kamu cantic sekarang. Kamu ingat semua lagu yang akan kamu nyanyikan?”
Aku mengangguk.
“Kamu ingat semua bagianmu?”
Aku mengangguk lagi.
“Iya Stan, iya. Aku ingat semuanya. Kamu jangan kuatir.”
“Ok … ok ….” Kata Stan sambil mengangkat ke dua tangannya.
Aku beranjak mengambil gitar Mama dan akan pergi menuju panggung sebelum Dino meninggalkan aku.
“Sophie, aku tadi mencari – carimu untuk menyerahkan ini.” Dino menyerahkan sebuah gitar untukku. Gitar ini bagus, kelihatan modern dengan pengatur elektronik di sampingnya.
“Sophie, sepertinya kamu tidak bisa memakai gitarmu kali ini,” kata Dino.
Aku terkejut karena merasa tidak ada masalah apa – apa dengan gitar Mama ini. “Memangnya ada apa ? Suaranya masih OK dan senarnya baik – baik saja kok Din.”
“Gitar tua semacam itu tidak pantas ada di acara seperti ini,” celetuk Diana dengan muka jengkel. Aku jadi tambah tidak mengerti cewek ini. Kesalahan apa yang aku buat sehingga dia begitu tidak sukanya padaku. “Sebetulnya masalahmu apa sih? Setelah seharian ini bikin masalah denganku lalu kamu terkunci di kamar mandi? Kamu mau cari perhatian siapa lagi?”
__ADS_1
“Diana, bisakah kau diam sebentar ? Kamu sudah membuat banyak orang ‘panas’ hari ini,” tegas Dino sambil memandang Diana tajam sebelum aku sempat menjawab . “Bukan itu maksudku Sophie. Tapi kita kekurangan mike ekstra untuk gitarmu. Jadi kau harus memakai gitar yang itu,” Dino menunjuk sebuah gitar yang kelihatan bagus. Gitar itu punya semacam alat yang bisa langsung dihubungkan dengan loud speaker. “Kamu coba dulu Sophie.”
Aku ambil gitar itu. Sedikit lebih berat dari gitar Mama. Aku coba mainkan dan kudengar suaranya sangat jernih. Mungkin lebih jernih daripada gitar Mama. Tapi aku harus bilang kalau aku tidak punya keterikatan apa – apa dengan gitar ini. Gitar ini seperti orang asing yang sama sekali tidak tahu siapa aku dan aku juga tidak tahu siapa dia. Meskipun aku bisa memainkannya dengan baik, tapi tetap saja aku merasa kurang pas, tidak nyaman, ragu – ragu dan lain sebaginya.
“Din, apa tidak ada cara lain supaya aku bisa tetap memakai gitarku ?”
Doni menggeleng. Tampaknya aku harus menerimanya.
“Sudah, jangan banyak tingkah. Kamu tahu betapa ributnya orang – orang ini waktu kamu menghilang? Kamu sengaja mencari perhatian yah? Biar orang – orang kuatir kamu gak ada di sini, gitu? Sekarang pakai gitar bagus sekali saja mau belagu? Gitar kampungan itu gak pantas dipakai di hotel seperti ini. Tapi lebih tepatnya, cewek kampungan seperti kamu tidak pantas main di hotel berbintang seperti ini,” Diana kembali menyerangku.
Duh, cewek ini. Sudah berkali – kali aku ingin menonjok mukanya. Tapi selalu saja waktunya tidak tepat. Kalau saja hanya ada kami berdua, kami tidak akan segera manggung, dan tidak banyak orang di sini, pasti aku sudah tonjok dia dari kemarin. Entah keberanian mana yang merasuki, tapi aku tidak lagi menangis kalau cewek ini menggangguku.
“Aku sudah mencoba menghormati Kak Diana sebagai senior di sini. Tapi Kak Diana tidak pantas dihormati. Mungkin benar kata Stan, Kak Diana sudah tua, dan hampir gak laku lagi. Kalau gak ada aku, Kak Diana sudah gak akan dipakai di tempat ini,” aku berkata tenang sambil berusaha mengatur napasku.
Dia datang mencengkeram tanganku. Di luar aku dengar acara sudah mulai. Para pimpinan hotel mulai berbicara bergantian. Sesekali aku mendengar suara tawa dan tepuk tangan. Beda sekali dengan yang terjadi di belakang panggung, aku dan Diana. Aku tepis tangannya dan aku dorong badannya. Dia maju lagi lalu dengan mata nyalang berkata,
“Entah kenapa Dino berhasil menemukanmu. Seharusnya kamu membusuk di kamar mandi itu. Pintu kamar mandi itu tidak akan terkunci dengan sendirinya khan?” dia tersenyum licik. Matanya berkilat.
“Kamu!” aku marah. Tapi tepat saat itulah dua nama kami dipanggil masuk ke atas panggung.
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
Matahari Menjadi Bintang
__ADS_1