
“Apa ?!” Stan berteriak meminta penjelasan.
“Dengar dulu Stan, jangan emosi,” aku berusaha menjelaskan pada Stan apa yang beberapa hari ini aku pikirkan. Kami sedang duduk di teras. Hardin datang untuk membantu Kak Frans memasang TV baru di Toebroek. TV baru itu baru saja datang tadi siang. Nenek sedang sibuk mengahdapi beberapa termos besar yang harus diisi Toebroek. Beberapa kali kacamatanya berembun karena uap air dan dia bersihkan dengan sapu tangan yang selalu dia simpan di salah satu saku celana jeansnya.
“Stan,” aku memulai penjelasanku perlahan. “Dulu aku mengira kalau menyanyi di hadapan orang dan mendapat tepuk tangan meriah adalah hal yang kuinginkan. Tapi ternyata bukan itu yang ku inginkan.”
“Jangan terlalu cepat memutuskan Sophie. Mungkin kau hanya emosi karena suasana disana membuatmu tidak nyaman. Ini semua karena Diana khan ?”
“Mungkin. Mungkin tentang Diana. Kemarin dia memberitahuku kenapa dia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Kamu tahu dia punya anakk khan? Dan dia butuh menghidupi anaknnya.”
“Iya aku tahu. Sebenarny aku kenal Diana lumayan lama.”
“Kemana suaminya?”
Stan menghela nafas.
“Kamu tahu Sophie, dunia hiburan ini kadang – kadang kejam. Kamu beruntung karena ada om sama Nenekmu jadi mereka bisa mengarahkanmu. Diana tak seberuntung itu. Orang tuanya seperti gak peduli mau jadi apa dia, lalu dia mulai menyanyi di club – club malam dan bergaul dengan orang – orang yang tidak tepat. Dia lalu punya nak, tanpa suami. Jadi dia memang berjuang untuk membesarkan anaknya, seorang diri.”
“Oh,” begitu saja responsku. Aku jadi lebih mengerti tetang sikapnya selama ini. Mungkin saja aku akan bersikap yang sama kalau ada di posisinya sekarang.
“Tapi, masalah Diana, itu hanya hal kecil saja yang membuatku tidak nyaman di sana. Jadi sama sekali tidak. Bukan itu masalahnya.”
“Lalu apa ?” Stan memburuku.
Aku mengambil nafas panjang. “Beberapa kali aku tertidur di kelas karena terlalu mengantuk. Kegiatanku menyanyi mengganggu sekolahku.”
“Hanya itu ?”
“Tidak. Masih ada yang lain. Setiap kali aku menyanyi disana, aku merasa tidak nyaman. Diana hanya salah satu faktor. Disana aku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Aku selalu diatur harus menyanyi apa, memakai baju apa dan menyanyi dengan siapa. Yang paling parah Stan, aku tidak bisa lagi menggunakan gitar Mama. Tapi semuanya itu membantuku untuk berpikir dan memutuskan…..”
“Apa ? Apa yang ku pikirkan ? Apa yang kau putuskan Sophie ?”
“Bahwa aku selalu merindukan panggung kecil Toebroek. Para pelanggan yang selalu ingin mendengar suaraku. Dentingan gitar Kak Frans dan harmonica Nenek yang lembut. Tempatku di sini, bukan di sana.”
“Tapi itu jalan yang harus kau tempuh untuk menjadi seorang bintang Sophie,” ucap Stan lemah.
“Tidak perlu di sana untuk menjadi seorang bintang Stan.”
__ADS_1
“Kamu sangat keras kepala yah,” Stan menunduk lemah sambil tersenyum tipis. Tangan kanannya merogoh saku bajunya mengambil sebatang rokok.
“Kau tahu anak muda ? Tidak ada asbak di Toebroek,” Nenek datang membawa segelas toebroek untuk Stan. “Aku tahu kau pasti sangat menginginkannya.” Nenek kembali lagi ke dapur kecil.
Stan memasukkan kembali rokoknya.
“Aku pasti akan merindukanmu Sophie.”
“Jangan berlebihan. Kau selalu bisa datang ke sini. Kalau ada job sewaktu – waktu yang tidak terikat kontrak, kamu tetap bisa jadi menejerku”
“Asalkan aku bisa mendapat secangkir toebroek gratis setiap kali aku ke sini”
“Selalu gratis buat kamu. Jangan kuatir.” Stan berhenti sebentar, seperti sedang berpikir sesuatu.
“Aku punya ide Sophie. Bagaimana kalau kita buka channel youtube. Kamu bisa menyanyi sama Nenek dan Frans, cover lagu – lagu penyanyi lain. mungkin kita bisa juga dapat uang dari situ. Bagaimana?”
“Mau banget. Kak Frans sama Nenek pasti juga tidak keberatan. Tapi aku gak tahu bagaimana caranya Stan?”
“Itulah gunanya menejer Sophie. Kamu serahkan semuanya padaku. Bagaimana?”
“Bagaiamana aku bisa menolak?” aku tersenyum. Stan berdiri kemudian memelukku.
Nenek dan Kak Frans berdiri di panggung kecil di tengah – tengah Toebroek.
“Aku dulu selalu menyanyi dengan Frans. Saat itu kami berdua sudah merasa lengkap sebagai keluarga. Ketika Sophie datang ke rumah ini dan mulai menyanyi bersama kami, berdua tidak lagi membuat lengkap. Bertiga baru lengkap,” ucap Nenek dengan mata berkaca – kaca.
“Tapi sekarang, Sophie telah membuat sebuah keputusan berani yang tidak akan mudah untuk setiap orang. Dia akan menyanyi bersama – sama dengan kami lagi.” Kata Kak Frans mantap diiringi tepuk tangan pelan para pengunjung Toebroek. Aku maju ke panggung kecil dan mendengar beberapa orang berkata,
“Mainkan gitarmu Sophie.”
“Mainkan gitarmu Nona kecil.”
Nenek mulai meniup harmonikanya. Jari – jari Kak Frans memetik senar gitarnya dan aku mengelus gitar Mama sesaat sebelum memainkannya. Kami bertiga sama – sama bernyanyi,
…
Kemarin waktu pagi
__ADS_1
Aku lihat sebutir embun
Berayun di ujung sebuah daun
Angin lembut datang
Membuat embun kecil jatuh
Hancur meresap ke tanah
Embun kecil musnah membuat tanah basah
Lalu timbul sebuah tunas
Hidup baru dimulai
Yang semula kecil akan menjadi besar
Karena sebutir embun
…
Hardin duduk dia atas karpet, di salah satu pojok dengan televisi. Baru kali ini dia melihatku menyanyi di Toebroek. Sesuatu yang sebelumnya malu dia lakukan.
Hardin membantuku untuk membedakan mana impian dan mana keinginan. Seringkali aku terkecoh dengan mengira impian adalah keinginan. Dan aku telah membuat satu keputusan salah yang untungnya dengan cepat bisa kubetulkan. Tapi aku juga tahu ada beberapa keputusan yang akan sulit kalian betulkan. Jadi hati – hati saja dengan setiap keputusan yang kalian buat. Memang kadang – kadang kita harus membuat suatu kesalahan untuk mengetahui mana yang benar. Tapi kalau kalian bisa mengetahui mana yang benar tanpa membuat kesalahan, aku kira hal itu pantas untuk dilakukan. Percaya saja pada diri kalian, dengarkan juga apa yang hati kalian katakan.
Dan aku akan tetap di sini, bernanyi sambil memetik gitar Mama. Dengan orang – orang yang mencintaiku di sekelilingku, aku rasa aku telah mendapatkan dunia. Aku telah menjadi bintang.
Dear pembaca,
Terima kasih sudah menjadi bagian dalam perjalanan Sophie. Saya sebagai author merasa terhormat karena teman - teman mau membca karya sederhana ini. Mohon masukan dan sarannya, juga comment dan votenya, supaya author lebih bersemangat membuat cerita lagi. :-)
Follow me on IG @eveningtea81 for daily quotes, short stories and more!
Check out other stories written by Eveningtea81 in Noveltoon
__ADS_1
1. Mainkan Gitarmu, Sophie
2. Matahari Menjadi Bintang