MANDY

MANDY
Tuan Brondong


__ADS_3

Berjam-jam menapakkan kaki di trotoar jalan raya besar yang ramai kendaraan, hempasan angin sepoi-sepoi menerpa tubuh Andy yang membuatnya sejuk dan rileks. Tengok kanan kiri sambil garuk kepalanya bingung mau menetap kemana lagi.


Nasib diburu polisi The Punk mengundang banyak oknum yang mengincar bounty kepala Mandy demi imbalan besar. Andy harus pintar memilih tempat yang cocok bagi dirinya yang sekarang seperti gelandangan yang tidak tahu arah jalan pulang.


“Astaghfirullah, aku harus kemana lagi ini?” batin Andy mengelus perutnya yang keroncongan.


Syukurlah pejalan kaki sekitaran trotoar tidak mengenal Andy, bila gambar bounty kepalanya me-reveal wajah asli Andy, entah bagaimana nasibnya selama jalan-jalan di trotoar berpapasan dengan orang lain.


Ketika di perempatan jalan yang panjang dan luas, tampak seorang nenek tua bawa keranjang anyaman berisi sayuran kesusahan menyebrang karena lampu lalu lintas masih hijau.


Nenek bingung tengok kanan kiri mau jalan sedikit banyak sepeda motor melaju kencang, dengan senang hati Andy menghampiri nenek tersebut dari belakang.


“Mau ikut nyebrang, nek!” Andy menuntun nenek tua pelan-pelan menyebrangi jalan raya sambil melambaikan tangan. Nenek tua itu bukan memperhatikan jalan malah memandang wajah Andy yang keringetan.


Andy tinggalkan nenek tua itu setelah menyebrang, dia hiraukan beliau agar lanjutkan perjalanan, dia berpikir mana ada orang atau pendamping nenek yang tega biarkan ibu lansia itu menyebrangi jalan raya sendirian.


“Maturnuwun ya, hati-hati di jalan.” ucap nenek tua itu meninggikan suaranya.


Reaksi Andy cuma tersenyum lebar, dia melirik sekilas kebelakang, nenek tua itu rupanya mau naik angkot. Andy lihat sekeliling jalan yang ia pijak, mengetuk keningnya berpikiran bahwa pernah lewat jalan ini yang menuju ke Moto Punk Garage.


...•••...


Dan benar saja, 20 langkah kaki dari perempatan jalan tadi ada rombongan cewek-cewek muda memakai pakaian couple merah hitam putih dengan pacarnya. Berkumpul semua di depan Club yang akan segera terbuka.


Andy diam-diam cari area yang sepi dari orang-orang. Dia keliling gedung Club yang besarnya seluas lapangan futsal. Beruntung ada 3 toilet umum. Dia masuk ke toilet tengah untuk menyamar sebagai orang gila, kaos dan celana jeans pendek yang usang, kumis, jenggot panjang serta bergaya seperti orang mabuk.


Tidak lupa menggenggam botol bir kosong untuk mendalami karakter orang gila yang pemabuk berat. Tak disangka dari toilet sisi kiri mohon maaf ada sepasang kekasih yang lagi bermesraan, ini membuat Andy tutup telinga kiri, nggak mau dengar suara cewek yang bikin cowok tergoda.


Sedangkan toilet kanan, ada bunyi gesekan sepatu masuk, ada beberapa orang yang berbincang sambil bertelepon sama seseorang.


“Bos, kami semua sudah tiba di titik kumpul, barangnya siap dijual ke orang-orang Club,”


“Kerja bagus, aku serahkan semuanya kepada polisi The Punk.”


Mendengar kata The Punk, Andy mengernyitkan keningnya penasaran kenapa dan apa tujuan mereka datang ke tempat Club ini. Berhubung tempatnya samping bengkel motor, Andy mau melakukan aksinya lagi yang tentunya lebih gila dibanding di warung lalapan.


Andy dobrak pintu toilet tengah hingga membuat orang-orang di luar sana kaget, kepalanya linglung berjalan belok kanan kiri nabrak orang sambil menawarinya botol bir yang kosong.


“Hey cepatlah lama kali bukanya, aku haus minum nih!!” kata Andy mengeraskan suaranya hingga terdengar jauh.


Orang-orang disana pada risih ketika didekati Andy, badannya didorong-dorong sampai pura-pura jatuh sendiri karena mabuk. Andy ketawa sendiri berjalan membungkuk ke pintu kaca Club yang terkunci rapat.

__ADS_1


Andy gedor pintunya dengan botol bir, sengaja melakukan hal tersebut supaya pemilik Club datang cepat. Semua orang koar-koar minta panggilkan polisi atau satpam Club agar mengusir Andy.


Bodoh amat dengan teguran orang-orang, yang terpenting gimana cara Andy bisa cepat masuk ke dalam Club.


“Woi hentikan dasar orang gila!!” teriak polisi The Punk mendekati Andy dengan tampang muka marah.


Rambut Andy dijambak, bokong ditendang dan disuruh putar balik menjauh dari pintu utama Club. Botol bir masih digenggam tangannya, dengan santainya Andy bangun tanpa merasa sakit.


Andy dan polisi The Punk saling bertatapan muka, meski tanpa topeng beras jangan kira wajahnya ketakutan melawan polisi. Raut wajah Andy jadi makin serius dan bermuka datar polos, tidak ada rasa takut sama sekali sama polisi The Punk.


“Oooh! maaf aku...tidak sengaja,” kepalanya Andy masih linglung.


“APA KATAMU!!” teriak marah polisi The Punk.


Hantaman keras diluncurkan tepat di pipi Andy, orang-orang disana pada bengong tutup mulut menonton kekerasan polisi The Punk ini. Andy pura-pura menangis, dia pijat rahangnya menahan rasa sakit kena hantaman.


“Hahahaha!!” tawa lepas Andy.


BUGHHH


Polisi The Punk rasanya mau muntah kena pukulan maut tangan kiri Andy, dia jatuh tersungkur sambil memegangi perutnya. Orang-orang pun beri tepuk tangan ke Andy, diikuti kedatangan seorang pria pemilik Club yang berbadan kekar, rambut gondrong bertato kepala kingkong, dan yang lebih kerennya berpakaian Tuxedo Suit warna biru dongker.


Mendorong troli ukuran besar berisi kotak kardus dilapisi kresek merah. Ketika pria ini jalan berpapasan dengan Andy, tinggi badannya lebih tinggi.


“Perutku sakit Tuan, buka sendiri pintunya lah!" lirih polisi The Punk kedua tangannya mengelus perut.


DUAGHHH


“AAAAA SAKIT TUAN!” jerit polisi The Punk suaranya cempreng.


Andy terpana melihat pria itu menginjak kepala polisi The Punk hingga satu giginya copot. Benar-benar injakan kaki yang begitu keras melebihi seekor gajah yang menginjak semut.


Andy dirangkul pundaknya, dia melirik pria itu memegang kunci warna emas. Begitu pintu kaca dibuka, semua cowok dan cewek couple boleh masuk terlebih dahulu.


“Oooh iya, perkenalkan namaku Brondong, siapa namamu wahai pak kumis?” tanya Bron.


Andy tutup mulut nahan ketawa mendengar nama Bron si pria pemilik Club ini. Mukanya Bron senyum sendiri menatap wajah Andy yang menyamar sebagai orang tua.


“Saya Andy, salam kenal Tuan Bron.” jawab Andy sambil pegang kumis palsunya.


Bron tertawa kecil, jarang sekali dia ketemu orang tua pemabuk seperti Andy di tempat Club yang mayoritas banyak cewek dancer pemikat cowok. Entah kenapa semua orang berpakaian couple layaknya hari Valentine.

__ADS_1


...•••...


Di dalam Club bukan hanya ada pasangan couple saja, rupanya ada polisi The Punk lain yang jadi anak buah Bron. Selagi jalan-jalan, Andy dikenalkan dengan berbagai ruangan di Club ini.


Namun ketika masuk ke ruangan korden merah yang diatasnya ada slogan gambar hati, Andy langsung berhenti sejenak. Dia lepas rangkulan tangan Bron.


“Jangan takut pak Andy, tenanglah ini bukan ruangan berbahaya, silahkan masuk,” Bron membuka korden sedikit.


“N-Nggak mau Tuan, saya lapar mau makan disini,” Andy tersenyum meringis.


“Halah, ayo masuk!” paksa Bron menarik tangan kiri Andy.


Andy dibawa ke ruang penyimpanan kokain yang ditumpuk dalam kotak gabus putih. Dia ditawari satu pak bungkus kokain oleh Bron.


“Saya tidak mau kokain, itu berbahaya bila dikonsumsi atau dijual sembarangan,”


“Kau yakin tidak mau? baiklah aku tidak memaksa." Bron melempar bungkus kokain ke kotak gabus.


Rasanya Andy ingin cepat beli minum dan keluar dari Club ini, dari luar korden merah terlihat dua bayangan hitam polisi The Punk yang jaga-jaga.


Ketika Bron fokus menghitung jumlah kokain dan uang dalam sakunya, Andy jalan berjinjit keluar korden merah. Dia salam hormat ke polisi The Punk yang tengah mengobrol dengan wajah tersenyum meringis.


“Diam dan jangan bergerak!” salah satu polisi muka cina memegang tangan Andy.


Celana jeans Andy digeledah, bahkan sampai ke dalam celananya dirogoh oleh tangan polisi The Punk yang kukunya hitam panjang tidak pernah dipotong.


“Tuan Bron, ada tamu yang mau kabur!” teriak polisi The Punk membuka korden merah.


Andy reflek minggir dan mengelak tangan bodyguard tersebut, dia berlari kabur menyenggol orang-orang didekatnya. Dua polisi itu mengejar Andy, bukan hanya dua melainkan lima.


Andy bingung tengok kanan kiri dimana jalan keluarnya, tetapi pandangannya beralih ke TV tabung yang menyiarkan berita langsung Sasha yang jadi reporter di penampungan sampah.


Kening Andy bergelombang, dia semakin dekat dengan layar TV, ada yang aneh dengan tempat kerjanya, tidak ada satupun sampah atau tong sampah yang tersusun rapi di sekitar rumah kayu maupun truk besar.


Tiba-tiba dari belakang kedua tangan dan kaki Andy ditahan, kepalanya dipukul dengan botol kaca Teh Sosro. Seketika membuat Andy terdiam mendongak kepalanya ke atas.


“Kamu adalah tamu Tuan Bron, tidak boleh sembarangan keluar dari Club tanpa izin.” kata polisi The Punk.


Pandangan mata Andy buram, telinganya masih bisa dengar suara keramaian Club dan bacotan polisi The Punk.


“Kamu harus kuat kak Andy, kamu ini pahlawan pendampingku. Jangan menyerah, bangun dan sadarlah banyak sampah yang harus dibersihkan, semangat kak aku sayang kamu.” terdengar suara perempuan yang menggema di dalam pikiran Andy.

__ADS_1


Punggung belakang Andy didorong oleh polisi The Punk, tetapi Andy tidak mau jalan, dia masih berdiam diri lalu matanya merah menatap polisi The Punk dengan senyuman yang mengerikan.


__ADS_2