
Pria gembel diseret ke dasar sungai bawah jembatan gantung, Andy dorong badan korbannya dengan kaki, seraya menggiring bola sepak terbuat dari karet. Tangan dan kaki diikat dengan tali, lalu dicelupkan ke dasar sungai hingga terbawa arus.
Andy menghela nafas lega, tidak peduli mau hidup dan mati, yang terpenting Mandra selamat. Dia gendong Mandra menggoyangkan badan dan menepuk punggungnya agar tetap tenang, padahal belum diberi susu sepulang dari rumah sakit.
Tiga orang bapak-bapak protes ke Andy karena tidak terima air sungai yang bersih dari sampah ini jadi pembuangan orang gembel yang sekarat.
Andy meremas bibir merah mereka satu persatu, dia menjamin keselamatan bayi Mandra saja. Orang-orang yang berkerumun di jembatan gantung pun minggir ke toko terdekat agar membuka jalan tengah bagi pengendara motor yang sedari tadi pencet klakson.
Mandra kembali dipangkuan ibunya, ada setetes darah merah yang menempel di alisnya yang belum tumbuh.
“Mas Andy, apa anakku baik-baik saja?” tanya ibu muda mengikat selendang di bahunya.
“Dia terus menangis ketika digendong lari oleh pria gembel itu. Rawat anakmu dengan baik ya!” jawab Andy.
Orang-orang yang berkerumun seperti kawanan semut pun bubar. Tinggal kakek tua seorang diri yang masih sibuk mengikat barang bekasnya dengan tali rafia.
PTASSS!
Tali rafia di bangku boncengan putus, sehingga barang bekas bergoyang-goyang. Kakek tua itu banting topi jeraminya lalu duduk selonjoran mendongak kepala ke sinar matahari.
“Sepertinya anda butuh bantuan, barangnya mau dikirim kemana?” tanya Andy ulurkan tangan ke kakek tua.
Kakek itu menyobek karung beras satu ton yang isinya keranjang kayu yang biasa dibuat bungkus ikan pindang mentah sebelum di masak oleh ibu-ibu.
“Saya mau kirim ke TPS Kebonagung, tetapi belum cukup uang buat nyewa mobil pick up.”
Andy tepuk tangan ke atas beri panggilan kepada Ben yang siap siaga dibelakangnya. Andy tunjuk mobil pick up Mitsubishi milik UD.Sumber Berkah. Didatangkan supir keliling handal memakai helm bedah rumah.
Diangkut semua barang bekas milik kakek tua ke mobil pick up, Andy numpang naik menemani kakek tua dalam perjalanan.
“Ben, aku sewa supir dan mobilmu ya!” kata Andy tunjuk jari jempol ke Ben.
Kakek tua menganggukkan kepalanya berkali-kali, dia merasa terbantu berkat Andy. Kulit coklat tua kakek tua ini sudah keriput, tulang-tulangnya terlihat jelas di bagian kaki dan tangan.
Andy mendongak ke atas langit, terlarut lamunan teringat suatu momen relatif yang pernah dialaminya.
Andy memarahi para lansia yang menumpangi mobil pick up, tidak hanya itu rupanya ada Ginny yang bantu kakek dan nenek tua naik ke atas mobil dengan menginjak ban serapan.
Ginny berdiri di atas mobil pick up, dia tunjuk jempol ke arah Andy yang keheranan kenapa adiknya gabung bersama para lansia tersebut.
“Kak Andy, aku izin dampingi para sesepuh ini ke tempat sembako, aku pulangnya naik ojek deh.” Ginny sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Itulah senyuman terakhir yang dilihat Andy lewat bibir manis Ginny. Sebelum mereka benar-benar berpisah untuk selamanya. Andy mencontoh tingkah laku adiknya yang suka bantu orang terdekatnya.
Dalam perjalanan sang kakek tua ini agak cerewet karena dia ketok-ketok kaca mobil dengan baru kerikil, mendadak minta pilih jalan lain, padahal baru saja menyebrang balik arah di tengah jalan raya.
Terdengar sirine tiga sepeda motor polisi The Punk lewat dibelakang mobil pick up, membentuk formasi samping kanan kiri dan belakang. Mengagetkan kakek tua dan Andy yang sempat ketiduran.
Ketiga polisi The Punk melemparkan gas air mata masuk ke dalam bak pick up model standar. Dengan cekatan Andy mencopot jaket tentara abu-abunya lalu mengerubuti kepala kakek tua supaya tidak terkena efek gas air mata.
“Tolong mas....kenapa banyak asap di sini!” teriak kakek tua sambil batuk-batuk.
“Uhuk! Pejamkan mata dan tutup hidungmu pak, kita diserang polisi.” jawab Andy sambil membekap mulut dan hidungnya sendiri.
Gas air mata itu menyebar hingga kemudi mobil, supir teriak kesakitan karena penglihatan terganggu, matanya perih, panas dan tidak konsentrasi. Kemudi mobil pun seketika oleng belok kanan kiri keluar jalur jalan raya.
“MATAKU PERIH!!” Andy menjerit keras.
Mobil pick up menabrak tiang listrik sehingga kaca depan pecah, gumpalan asap tebal menyelimuti bumper depan yang bengkok. Andy pejamkan mata, dia dorong kakek tua turun lompat dari mobil pick up, matanya buram, tidak begitu lihat bagian bawah tiang listrik bengkok membentuk huruf V.
“THE PUNK BANGSAT!” teriak emosi Andy mengucek matanya.
Sekumpulan pejalan kaki bantu keluarkan supir mobil pick up yang pingsan, benjolan merah besar muncul di keningnya. Andy dan kakek tua digiring ke halte bus kosong. Setiap kalo Andy menoleh, kepalanya terasa nyeri. Dia mengembuskan nafas dalam sambil batuk-batuk, kejadian barusan membuat badannya lemas.
...•••...
“Pak, saya pamit pulang duluan, terima kasih untuk hari ini,” Sasha membungkuk setengah badan.
Tetapi kerah kemeja belakang Sasha ditarik oleh tangan Bron. Matanya Sasha bergetar, dia memalingkan wajah dari tatapan mata Bron, Sasha merasa gugup dan takut.
“Kamu tidak boleh pulang begitu saja, sebelum kita beres rapat kerjasama kontrak dengan perusahaan lain,”
“B–Baik Pak!” jawab Sasha lemas memutar bola matanya.
Bron pegang pergelangan tangan Sasha, dia bawa masuk ke dalam kantor polisi bertingkat dua, terpampang logo bendera tengkorak The Punk di dinding paling atas. Sasha melongo, baru tahu sekarang The Punk punya kantor sendiri, walaupun tempatnya sembunyi dibalik pabrik tahu.
Sasha bersalaman di ruang rapat bersama ketiga CEO perusahaan surat kabar yaitu Agent News, Malang Pos, dan Jawa Pos. Sasha duduk di tengah meja persegi panjang, sementara yang lainnya berada di kursi hangat samping kiri dan kanan.
Bron ikut maju ke tengah, dia dekatkan mulutnya ke telinga Sasha. “Lakukan yang terbaik, jangan membuatku malu, paham.” bisiknya pelan.
Sasha maju ke depan LCD Screen, dia kirim file rekaman dokumentasi ke laptop Bron lalu mulai perkenalan. Senyum sumringah ke para audiens adalah cara jitu agar tidak demam panggung.
“Namaku Sasha Devagani, pernah bekerja sebagai jurnalis dan loper koran JoNews.co.” ucap Sasha berdiri tegak posisi siap.
__ADS_1
Selama presentasi rekaman dokumentasi, reaksi ketiga CEO menganggukkan kepala, sepertinya mereka tertarik dengan pembawaan Sasha yang lembut.
Pandangan Sasha berpaling ke Bron yang tidak tersenyum sama sekali, matanya mendelik tajam melototi Sasha.
“Ya ampun, aku ingin cepat selesai dan lancar. Fokus, tetaplah senyum dan santai.” batin Sasha dalam lubuk hatinya.
Sasha lanjutkan presentasi ke fase berikutnya, dimana dia akan sentuh geser LCD lalu menerangkan detail komponen pembuatan kokain milik Bron.
Sasha tunjukkan yang terbaik, tidak perlu garuk kepala, berdeham pura-pura suaranya serak, atau izin ke toilet. Dia mau belajar presentasi depan orang besar.
Beberapa menit kemudian, Bron bertepuk tangan begitu layar LCD nonaktif menandakan tugas Sasha sudah selesai. Bron berdiri merapat di samping Sasha, mempersilahkan kepada para CEO untuk beri nilai dengan angkat slogan nomor.
Mata Sasha berkaca-kaca, terharu mendapat nilai 10 dari semua slogan nomor, dia membungkuk setengah badan. “Terima kasih banyak pak!” ucapnya dengan senang hati.
Bron merangkul pundak Sasha, mengacungkan tangan kanannya ke atas “Dengan ini saya buka lelang asisten pribadi saya mulai dari nol rupiah, yang paling tertinggi saya pegang.” kata Bron dengan suara lantang.
Sasha berjingkat satu langkah ke belakang, mulutnya menganga lebar, telinganya tidak salah dengar bahwa Bron mau melelangnya. Ketiga CEO perusahaan lain acungkan tangan sambil menyebut angka.
“Saya beri 15 juta pak!” pihak Malang Post berdiri di atas kursi hangat.
“20 juta saya kontrak asisten anda!” CEO Jawa Pos acungkan di depan muka Bron.
Sasha berusaha mengelak tangan Bron yang merogoh lehernya, semakin dia melawan, lehernya dikunci dengan tangan kanan Bron yang menampakkan otot-otot jantannya.
“50 juta pak Brondong, anda setuju?” CEO Agent News senyum-senyum sendiri sambil pamer tunjuk uang tunai di kantong celananya.
Ini tidak adil, Sasha geleng-geleng kepala di depan mata Bron, dia tidak terima di lelang oleh perusahaan lain, yang harusnya di sewa Brondong berujung seperti ini. Bukan ini yang diinginkan Sasha.
Rencananya bisa gagal apabila berpisah dengan Bron yang di mata Sasha masih tanda tanya soal tindakan kejahatannya. Sasha harus cari tahu lebih dalam sisi gelap kekuasaan Bron saat ini.
Di atas meja sudah ada kamera warna hitam yang merekam Sasha.
“Tolong lepaskan aku pak!” teriak Sasha berusaha memberontak.
Bron menghantam keras kepala Sasha sebanyak tiga kali, para CEO yang lain langsung angkat tangan.
Sasha dirangkul oleh CEO Agent News, sekaligus jabatan tangan dengan Bron. CEO yang lain diusir pergi meninggalkan kantor polisi The Punk.
Pihak Agent News memanggil barisan pasukan karyawan bersenjata pistol Dessert Eagle, berbaris membentuk pagar membuka jalan bagi CEO mereka yang dilarikan ke mobil Rubicon.
Sasha dibopong masuk ke kursi belakang, lalu dibawa pergi meninggalkan kantor polisi The Punk.
__ADS_1
“Hahahaha! dengan begini Sasha takkan bisa bertemu dengan Jojo dan Mandy lagi.” Bron berbicara sendiri merentangkan tangan sambil tersenyum jahat.
Bron tertawa puas, berjalan masuk ke dalam kantor, berjoget ria bersama polisi The Punk lain. Memainkan musik radio lawas demi menambah momen keberhasilannya dalam memisahkan Sasha dengan Jojo dan Mandy.