
Sudah tiga kali Andy jalan putar-putar jalan bundaran jalan raya Ijen Boulevard, tetap saja belum sampai ke wilayah pasar Tawangmangu. Jalanan juga semakin sepi, tidak ada orang-orang yang berduaan di kursi panjang besi Car Free Day, tidak ada pemulung lagi nongkrong, hanya bekas jejak sandalnya yang kotor menempel di jalan trotoar.
Setiap kali jalan memutar selalu aja ketemu satu patung bunga teratai warna emas, Andy geleng kepala, dimana jalan tembusan menuju ke pasar Tawangmangu?
Berbekal handphone Nokia jadul yang bisa dilipat, dan sapu tangan putih yang terus dipegang oleh Andy. Belum ada petunjuk sama sekali hingga warna langit berubah oranye.
Lantunan ayat suci di menara masjid tertinggi terdengar merdu sampai ke gendang telinga, kedua pundak Andy terangkat, bola matanya mengarah ke atas langit seraya mengingat sesuatu.
“Jangan nangis di tengah jalan dong kak Andy, kita ikuti saja suara adzan di menara masjid siapa tahu dekat sampai ke pasar, hehehe.” muncul suara Ginny dalam otak Andy.
Andy membusungkan dada, dia berani menyebrangi jalan yang mengarah ke menara masjid yang dia lihat lebih tinggi dibanding pohon Cemara. Dibawa ke gang sempit yang begitu gelap, tidak ada tiang lampu, Andy beranikan diri untuk tetap berjalan tanpa takut diculik Wewe yang suka menculik orang apabila tidak pulang ketika waktu adzan Maghrib.
Menemukan jembatan gantung yang di atasnya ada slogan “Pengendara motor roda dua harap turun.” ketika memijak kaki di ujung jembatan, jembatan gantung ini sedikit goyang-goyang karena ditahan dengan tali yang begitu besar.
Andy berjalan perlahan-lahan seperti siput, merentangkan kedua tangannya ke samping sambil fokus ke depan. Dia melirik ke bawah sungai, benar-benar gelap banget meski suara genangan air cukup deras.
Para warga gang sempit menutup jendela yang terbuka lebar, tutup korden rapat-rapat, bahkan ada yang sampai menancapkan kayu berpaku di bagian sisi jendela.
Tiba-tiba dari depan Andy disenggol oleh tiga kakek sesepuh yang lari tergesa-gesa sambil memakai sandal jepit di telapak tangan.
“Ampun bang, ayo cepat buruan minggat!” salah satu kakek sesepuh jalan membungkuk gemetaran.
Andy garuk kepala, kenapa ada orang yang kayak ketakutan ketemu sama Andy. Langkah kaki dipercepat, jalan naik turun, perosotan ke bawah naik lagi ke atas.
Semakin keluar dari gang sempit, bau menyengat mulai masuk ke hidung Andy, lampu terang warna oranye menerangi gapura gang sempit bertuliskan “Selamat Jalan.”
Dua langkah menyebrangi jalan yang longgar, Andy tengok kanan kiri, datanglah mobil ambulans yang membunyikan sirine keras lewat di depan Andy, menuju ke arah pasar Tawangmangu yang mana banyak kepulan asap hitam yang menjadi daya tarik perhatian semua pengunjung.
Jepretan kamera mengarah ke penampungan sampah, dengan mata melotot Andy berjalan kaku menghampiri orang-orang yang berkumpul disana.
“Padamkan apinya!” ucap petugas pemadam kebakaran memegang selang pipa air berukuran panjang.
Siraman air deras menimpa si jago merah yang masih membara membumi hanguskan tumpukan sampah yang menumpuk seperti semen di halaman penampungan sampah. Bahkan permukaan tanah ikut terkena percikan api yang membakar debu pasir.
__ADS_1
Andy menyela semua orang yang berkumpul untuk minggir memberinya jalan, saking banyaknya orang, ada beberapa wartawan yang memotret muka Andy.
Andy menghiraukan semua itu, di posisi paling depan, dia tidak melihat Ben dan anak buahnya. Petugas pemadam kebakaran dan wartawan yang mewawancarai pengunjung menutupi jalur masuk ke rumah kayu.
Andy membungkuk lemas, bola matanya berair, meremas rambut panjangnya yang tidak pernah dipotong.
“Siapa yang telah membakar penampungan sampah, KATAKAN SIAPA?” teriak Andy di akhir kalimat kedua tangannya mengepal.
Wartawan dan pengunjung pasar jadi takut dan terdiam, mereka menundukkan kepala tidak mau bertatapan muka dengan Andy yang mengamuk.
Ketika Andy melangkah ke arah lain, dibukalah jalan tengah yang lebar untuknya, berjalan dengan tampang wajah kemerahan dan matanya bergetar berurat merah.
Sepeda motor di parkiran berbaris rapi, tempat ini bersih, tidak kena dampak kebakaran. Di belakang jejeran sepeda motor, Ben berdiri menatap Andy dari jarak cukup jauh.
Ben langsung menghadap ke depan Andy dengan kondisi tangannya yang diborgol. Ben bersalaman menggenggam telapak tangan Andy, sambil menundukkan kepala.
“Kenapa penampungan sampah bisa terbakar, siapa pelakunya?” tanya pelan Andy memegang pundak kanan Ben.
Ben gemetaran, tangannya tremor, tidak mau bertatapan muka ke Andy. Ben menghela nafas, lalu pelan-pelan menunjukkan wajahnya yang penuh bekas air mata di pipi.
Pembersih sampah yang diborgol tangannya ikut keluar dari belakang jejeran sepeda motor lalu berkumpul di belakang Ben. Ada yang kelopak matanya bengkak karena menangis berlebihan, ada juga yang sampai pilek dan batuk-batuk.
“Mas Andy, dadaku rasanya panas, takut banget sama Bosnya The Punk.”
“Iya mas, semuanya ludes terbakar, kita bangkrut besar, aku nggak tahu mau kerja dimana lagi, huhu!”
“Mulai besok, kami mau resign dari pasar Tawangmangu, sudah nggak kuat kerja lagi sama mas Andy.”
Kata-kata itu dilontarkan di mulut para pembersih sampah, hati mereka ikut terbakar ketika diserang The Punk, mereka nggak berani bersuara lebih keras dibanding Andy, tidak mau protes atau melawan The Punk.
”Mandra dan ibunya masih aman, aku mohon tolong lakukan sesuatu, Andy. Aku percaya kamu bisa melawan The Punk.” kata Ben sambil merangkul pundak pembersih sampah.
Wajah-wajah memelas Ben dan para pembersih sampah, membuat amarah Andy semakin memuncak. Andaikan di posisi Ben, Andy bisa mengusir The Punk jauh-jauh dari pasar Tawangmangu.
__ADS_1
Andy merentangkan tangannya ke samping, berpelukan bersama dengan pembersih sampah. Dia mengelus pelan pundak mereka masing-masing.
Andy menoleh ke arah Ben dengan wajah polos “Ben, aku minta setengah kilo garam kasar.” katanya.
“Siap, Mandy.” jawab Ben menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar.
...***...
Mengerahkan pasukan polisi The Punk mengelilingi rumah lama Andy, dibalik pintu utama, suasananya gelap gulita tanpa penerangan. Sasha gunakan senter handphone gepeng untuk membuka pintu yang sudah bolong, tidak ada gagang atau kunci.
Giliran polisi The Punk masuk secara berurutan, menoleh ke segala arah dalam rumah lama Andy, suara dengungan nyamuk terdengar di telinga. Karena tidak ada gas pembasmi nyamuk, botol molotov solusinya.
“Jangan bakar rumah ini, ambil saja benda-benda yang berbahaya.” Sasha menepuk polisi The Punk yang pegang molotov.
Baik mbak Sasha, tetapi kami harus basmi sarang nyamuk terlebih dahulu.” jawab salah satu polisi The Punk.
Sasha ajak polisi yang lain masuk ke ruangan dapur, baru masuk udah disambut bau bangkai tangan yang buntung dan gosong dalam wajan. Sasha mengikat ujung masker ke telinga, perlahan-lahan dia sentuh bangkai tangan tersebut.
Saat diputar-putar, bagian bawah bangkai tangannya gosong dan ada luka bakar. Sasha tidak berani lihat bagian daging bangkai tangannya yang berdarah.
Bangkai tangan dibungkus kertas plastik bening, dijadikan barang bukti. Sasha keluar ruang dapur, melihat-lihat ruang tamu yang cuma ada meja persegi panjang.
“Kreteekk!” suara pecahan kaca di bawah polisi The Punk.
Mulut Sasha menganga lebar menemukan pigura emas foto Ginny yang retak. Sasha ambil handphone lalu memotretnya dengan tambahan fitur flash.
Handphone gepeng Sasha kebanjiran bunyi notifikasi, bukan dari sosial media, melainkan dari berita terkini Mbah Google yang menampilkan suasana kebakaran di penampungan sampah. Sumbernya dari wartawan.
“Penampungan Sampah pasar Tawangmangu kebakaran, Mandy menghilang tidak ada kabar.” tulis wartawan tanpa nama.
Sasha mengigit bibirnya, dalam benak pikirannya membayangkan wajah serius Andy yang melotot tajam padanya.
“Drtttt!” handphone gepeng Sasha bergetar menandakan pesan masuk.
__ADS_1
Ketika di nama kontaknya, ternyata itu adalah Andy yang spam ping dan ucap salam pada Sasha. Rasanya deg-degan bila bicara dengan Andy sekarang, Sasha putuskan pencet tombol blokir nomor di kontak Andy.
“Maafkan aku Andy, Maafkan aku.” batin Sasha sambil memejamkan matanya.